1.074 Talam Hidangan Kuliner Aceh Pecahkan Rekor Dunia - Kuliner - Kantor Berita Aceh (KBA)

1.074 Talam Hidangan Kuliner Aceh Pecahkan Rekor Dunia

Oleh ,
1.074 Talam Hidangan Kuliner Aceh Pecahkan Rekor Dunia
Hidangan talam kuliner Aceh raih rekor dunia | KBA/Khalis

Talam yang berhasil memecahkan rekor tersebut berasal dari sembilan kecamatan, yang terdiri dari 90 gampong (desa) yang ada di Banda Aceh.

KBA.ONE, Banda Aceh – Ribuan pria lintas usia berderet di depan balai Kota Banda Aceh. Masing-masingnya memikul sebuah ‘talam’ berisikan hidangan kuliner Aceh, yang dibalut kain kuning bercorak motif Aceh. Tabuhan Rapai’i dan alunan Serune Kalee mengiringi langkah kaki mereka.

Para kaum adam yang berasal dari sembilan kecamatan di wilayah Banda Aceh itu, mengambil posisi yang telah ditentukan, untuk memudahkan tim Museum Rekor Indonesia (Muri) menghitung ‘talam’ hidangan kuliner Aceh tersebut.

Hidangan Talam Aceh meraih rekor dunia | KBA/Khalis

Alhasil, pada Minggu, 20 Agustus 2017, Aceh kembali meraih rekor dunia. Tercatat 1.074 ‘Talam’ yang dipikul para kaum adam itu berhasil memecahkan rekor, dengan menyabet predikat idang talam terbanyak di dunia. Sebelumnya, Ahad, 13 Agustus lalu di Gayo Lues, Aceh juga meraih rekor dunia atas penampilan tarian saman dengan jumlah 12.262 penari.

’’Kegiatan ini belum pernah terjadi sebelumnya, oleh karena itu kami mencatat ini sebagai rekor dunia, karena idang talam belum pernah ada di belahan dunia manapun,’’ kata tim perwakilan Musem Rekor Indonesia (Muri), Feisal Nadhirrahman, ketika memberikan piagam rekor dunia kepada wakil Gubernur Aceh Nova Iriansyah.

Talam merupakan tempat penyajian makanan tradisional yang sering digunakan oleh masyarakat Aceh, baik dalam acara adat atau hari biasa. Sedangkan idang ialah menghidangkan, atau menyajikan makanan di dalam talam. Dalam proses pencatatan rekor itu, idang talam yang disajikan masyarakat tersebut bukan talam kosong, melainkan juga berisi makanan; nasi berserta lauk pauknya.

Tokoh adat di kemukiman Putro Phang, Amirullah mengatakan, tersirat makna tersendiri dari pengambilan kain warna kuning yang membalut talam tersebut. Karena, kata Amirullah, warna kuning itu melambangkan kerajaan Aceh. Selain itu, talam juga harus ditutupi, agar orang orang tidak bisa melihat isi yang ada dalam talam itu ketika dihidangkan. Dalam artian, semua hidangan sama rata.

’’Kalau diisi dalam kantong plastik kan nampak. Isi dalam talam itu sama halnya dengan kenduri adat atau acara lainnya yang kerap berlangsung di Aceh. ’Dalam talam ini diisi dengan lauk pauk, sama seperti kenduri maulid, kenduri nuzul quran, resepsi lain seperti antar linto (repsepsi pernikahan),’’ ujarnya.

Selain itu, Amir juga menyebutkan, selama ini adat idang talam sudah banyak dilupakan oleh masyarakat Aceh. Dalam sebuah acara, banyak didapatkan nasi dalam bungkusan kertas atau kotak. Tidak lagi dihidangkan dengan talam yang merupakan adat dari masyarakat Aceh.

’’Hidang sudat jarang kita lihat, maka kita menghidupkan kembali kebiasaan yang lama orang Aceh dengan cara membawa dalam talam ini,’’ ucapnya.

Mengenai pria yang mengangkat talam, Amirullah menjelaskan, pada kebiasaannya yang membawa hidangan talam ialah kaum pria. ’’Kalau dibawa oleh perempuan seolah olah kita menampilkan perempuan jadi kurang baik juga. Makanya harus laki-laki yang bawa. Kalau perempuan yang bawa, mata orang bukan ke talam tapi ke perempuannya,’’ ujarnya.

Talam yang berhasil memecahkan rekor tersebut berasal dari sembilan kecamatan, yang terdiri dari 90 gampong (desa) yang ada di Banda Aceh. Masing-masing gampong diwajibkan membawa sepuluh hidangan talam dalam acara itu. ’’Ini bentuk partisipasi masyarakat,’’ ujarnya.

Para kaum adam di Banda Aceh memikul talam yang berisikan hidangan kuliner Aceh saat dicatat untuk peraihan rekor dunia | KBA/Khalis

Sementara itu, Nova Iriansyah mengapresiasi dan bersyukur atas torehan rekor baru yang diciptakan oleh masyarakat kota Banda Aceh. Menurutnya, masih banyak sekali hal lain yang dibisa dimunculkan ke mata dunia internasional tentang sisi terbaik masyarakat Aceh. ’’Ternyata di Aceh banyak hal yang istimewa, tinggal bagaimana kita menyajikannnya, mengemaskannya dan mengumumkannnya kepada dunia international,’’ ujar Nova.

Walikota Banda Aceh, Aminullah Usman mengatakan rekor idang talam terbanyak ini merupakan suatu karya besar masyarakat Aceh, khususnya kota Banda Aceh. Rekor ini bisa terwujud, karena kerja keras dari pemerintah dan seluruh elemen masyarakat.

Komentar

Loading...