Tsunami Selat Sunda

10 Menit Tergulung Tsunami, Terpisah dari Istri dan Anak

10 Menit Tergulung Tsunami, Terpisah dari Istri dan Anak
Masjai korban tsunami di Banten | Kumparan

KBA.ONE, Banten - Tsunami merenggut istri dan anak dari Masjai pada Sabtu malam, 22 Desember 2018. Begitu juga rumah pria 40 tahun ini yang porak poranda di Desa Tanjung Jaya, Kecamatan Panimbang, Kabupaten Pandeglang, Banten. Kini Masjai dirawat dalam pondok di atas bukit. Lokasinya 2,5 kilometer dari bibir pantai. Tepatnya di Kampung Lebak Apus.

Akses menuju kampung tersebut hanya dapat ditempuh dengan berjalan kaki selama dua jam. Kondisi jalan sangat memprihatinkan, lantaran dipenuhi lumpur dan sangat curam. "Saya dibawa warga pakai tandu ke sini, kami takut tsunami susulan," ujar Masjai di Kampung Lebak Apus, Selasa, 25 Desember 2018.

Sembari terbaring, Masjai menceritakan tsunami yang merenggut istri dan anaknya. Awalnya ia mendengar teriakan Maskani, 27 tahun. Anaknya itu sedang berada di luar rumah. "Bapak, Ibu cepat keluar, ada tsunami. Cepat,” ujar Masjai.

Masjai tidak langsung percaya ucapan anaknya. Ia keluar melihat ke arah laut. Saat itu ia mendengar suara gemuruh yang semakin mendekati. Ia pun bergegas membangunkan putrinya, Nur Asia, 18 tahun, bersama istrinya yang sedang berada di kamar.

Nahas, tidak ada kesempatan menyelamatkan diri. Gelombang tsunami langsung menghantam rumahnya hingga ambruk. Masjai, anak, dan istrinya digulung ombak. Masjai terpisah dari pegangan putri dan istrinya.

Selama digulung tsunami, Masjai berusaha mencapai permukaan air untuk bernafas. Namun, gelombang tsunami terus memutar dan membenturkan tubuhnya. Ia pun terpaksa menelan air laut berulang kali.

Masjai saat itu pasrah. "Badan saya terbentur balok kayu, pepohonan, tangan saya kayak kena sayatan seng. Sudah pasrah dipanggil Allah SWT," ujar Masjai.

Setelah hampir 10 menit digulung tsunami, Masjai tersadar. Rupanya ia tersuruk di antara pohon tebu yang berjarak 200 meter dari rumahnya. Lengannya luka parah. Sekujur tubuhnya banyak goresan dan sayatan. "Saya enggak tahu saat itu jam berapa, tapi saya ditolong anak saya yang nomor dua, Maskani. Saya dibawa ke pinggir bukit, kondisi desa saat itu gelap, banyak orang berteriak mencari anggota keluarganya," ujar Masjai.

Setelah mendapat pertolongan, Masjai ditemani Maskani mencari istri dan putrinya Nur Asia dalam kondisi gelap gulita. Namun, usaha mereka gagal. Bersama warga lainnya mereka memutuskan naik ke atas bukit membawa peralatan seadanya. "Kami ke atas sini, kami putuskan cari anak dan istri besoknya (Minggu). Sampai sekarang enggak ketemu mereka, kami bingung. Di sini enggak ada bantuan dari relawan ataupun petugas,” keluh Masjai.

Masjai bersama 40 pengungsi lainnya kini bertahan di atas bukit. Mereka kekurangan makanan dan minuman, dan bantuan medis. Masjai mengaku tangannya sebelah kiri semakin parah. "Belum ada bantuan medis, makanan, dan minuman. Kami mengandalkan pengendar yang melintas, kami cegat untuk dapat bantuan. Kami berharap ada bantuan, itu saja."

Komentar

Loading...