9 Posko dan Dapur Umum ACT Jangkau Pengungsi Lampung

9 Posko dan Dapur Umum ACT Jangkau Pengungsi Lampung
Dapur Umum ACT |Foto: ACTNews

KBA.ONE, Lampung Selatan – Tsunami melanda pesisir Selat Sunda Sabtu 22 Desember 2018 malam. Peristiwa tersebut diduga kuat dipicu longsor bawah laut akibat erupsi Anak Gunung Krakatau. Desa Way Muli, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan menjadi salah satu wilayah yang terdampak tsunami.

Berdasakan data yang dihimpun Disastrer Management Institute of Indonesia (DMII), per Rabu 26 Desember 2018, total jumlah korban meninggal dunia di Lampung Selatan mencapai 108 orang. Sedangkan, berdasarkan pantauan di lokasi, ribuan orang selamat masih mengungsi ke daerah yang lebih tinggi.

Ketua Program ACT Lampung Dinia Rusmaini menyampaikan, saat ini ACT telah mengaktivasi dua posko dan lima dapur umum di wilayah-wilayah terdampak tsunami. Posko ACT pertama mencakup wilayah Desa Way Muli. Sementara satu posko lainnya mencakup Desa Way Panas dan Dermaga Bom Kalianda. Adin–panggilannya –menambahkan, sejumlah desa terdampak juga akan segera menyusul dibukanya posko kemanusiaan.

“Di Desa Sukaraja dan Desa Kunjir, Insyaallah sudah ketemu titik poskonya. Hari ini kita aktifkan dapur umum dan poskonya. Jadi total ada 4 posko kemanusiaan,” jelas Adin.

Selain posko kemanusiaan, per Selasa 25 Desember 2018, ACT telah mengaktifkan 5 Dapur Umum. Di Desa Way Muli disediakan 400 porsi per harinya.

Salah satu relawan Dapur Umum ACT di Desa Way Muli, Dwi Aryati 41 tahun, mengaku baru tiba di Lampung. Ia berangkat dari Bekasi pada Minggu 23 Desember 2018 pagi. Setelah mendapat kabar tsunami melumat wilayah Kalianda, ia bergegas menuju Lampung untuk memastikan kabar sanak saudaranya. Setibanya Dwi bersyukur karena keluarganya selamat.

"Saya asalnya Bekasi tetapi mau terjun langsung untuk bantu,” ungkap Dwi di awal perbincangan dengan ACTNews. Dwi yang baru tiba Senin malam mengaku, iktikadnya menjadi relawan di Lampung pun didukung keluarga. “Saya izin ke suami ke anak-anak. Justru suami saya mendukung. Saya dapat kabar dari saudara, katanya di sini (Lampung) membutuhkan sejumlah tenaga relawan, mana tahu tenaga kita bermanfaat,” lanjutnya bercerita. Dwi dibantu enam orang lainnya hari itu menyiapkan ratusan makanan bergizi bagi para penyintas tsunami.

Berbenah

Berdasarkan pantauan ACTNews, Selasa 25 Desember 2018 siang, ruas jalan Raya Pesisir yang menghubungkan Desa Way Muli dan Desa Kunjir terpantau padat. Sejumlah kendaraan yang melintas harus mengantre sebab di jalan selebar lima meter itu diberlakukan sistem buka tutup karena sejumlah alat berat masih beroperasi. Beberapa eskavator pun terlihat meratakan sejumlah bangunan yang hancur sebagian dan juga membersihkan jalan dari puing-puing.

Bebenah juga dilakukan sejumlah warga, salah satunya Tawar Supriyanto 63 tahun. Pemilik toko kelontong di depan Puskesmas Way Muli itu pun berusaha mengeluarkan puing-puing bangunan dari dalam tokonya.

Lengan kiri Tawar menghapus air mata yang terlanjur keluar dari kedua matanya. Suaranya bergetar saat berbagi kisah dengan ACTNews terkait peristiwa Sabtu 22 Desember 2018 malam. Air laut yang tiba-tiba mendobrak bangunan rumah memaksa ia dan keluarganya segera lari.

“Enggak ada tanda-tanda. Tiba-tiba air laut sudah menghantam dan tingginya sepinggang. Saya langsung panggil keluarga untuk lari,” cerita Tawar. Ia dan keluarga yang sudah lebih dari 40 tahun tinggal di Lampung harus kehilangan lima bangunan rumah beserta toko-toko miliknya.

Menurut Tawar, keadaan masuknya air laut ke pemukiman warga juga pernah terjadi pada Desember 2017, namun keadaannya tidak separah peristiwa kali ini. “Setahun lalu, persis di bulan Desember juga pernah terjadi air laut pasang. Sekarang kami tidak menyangka kalau terjadi tsunami,” lanjutnya.

Tawar yang sudah puluhan tahun tinggal di pesisir pun tidak pernah menyangka bahwa laut akan meluluhlantakkan pemukiman mereka seperti Sabtu malam itu.

Komentar

Loading...