Aktivitas UGL Terhenti, Mahasiswa Duduki Gedung DPRK Agara

Aktivitas UGL Terhenti, Mahasiswa Duduki Gedung DPRK Agara
Demo mahasiswa UGL Agara. | KBA. ONE: Bulkainisah

KBA.ONE,Aceh Tenggara-Mahasiswa Universitas Gunung Leuser (UGL), Kamis 10 Januari 2019, melakukan aksi demo di depan gedung DPRK Aceh Tenggara menuntut hak mendapatkan ilmu dari proses belajar mengajar yang terhenti sejak 2 Januari 2018.

Aktivitas akademik yang terhenti ini disebabkan aksi mogok kerja 55 dosen karena gaji mereka yang belum terbayarkan sejak Desember 2017 hingga Januari 2019. 

Mufti Apriadi, penanggung jawab aksi, menyebutkan  kegiatan demo ini dilakukan dengan berjalan dari Kampus UGL hingga menuju Gedung DPRK. Hingga saat ini pihak DPRK selaku fasilitator belum mampu mempertemukan pihak Pembina Yayasan, Struktural Yayasan, Pihak Rektorat beserta para dosen untuk bertemu para mahasiswa. Mereka akan terus berada di Gedung DPRK Aceh Tenggara hingga tuntutan terpenuhi.

Para mahasiswa UGL menuntut agar pembina yayasan yaitu Raidin Pinim, Bupati Aceh Tenggara dan Irwandi Desky,  Ketua DPRK Aceh Tenggara,  lebih memperhatikan Universitas Gunug Leuser tersebut.

Data dari Forlap Dikti mahasiswa yang aktif berjumlah 1.375 orang dan dosen yang mengajar 55 orang.

Data tersebut berdasarkan pada ajaran tahun 2017-2018 akan tetapi data mahasiswa pada tahun ajaran 2018-2019 berjumlah nol.

"M. Ridwan selaku Sekretaris Daerah Aceh Tenggara hanya menjanjikan permasalahan ini akan diselesaikan dalam waktu satu minggu hari kerja. Akan tetapi pihak mahasiswa menuntut agar hak mereka segera diselesaikan karena mereka menganggap janji tersebut tidak dapat didipercayai," terang Mufti dalam orasinya. 

Mufti menyebutkan sejak Januari 2018 sudah pernah diadakan audiensi mengenai pembayaran gaji dosen tetapi hingga kini  tak kunjungan selesai.

Mahasiswa merasa kecewa atas sikap Sekda Agara yang apatis dan dianggap tidak memiliki itikad baik dalam menangani hal ini. 

Menurutnya,  Bupati Aceh Tenggara dan Ketua DPRK sedang berada di luar kota sehingga tidak dapat langsung menemui para mahasiswa.

Orator aksi lainya  mengaku kesal kepada pihak pemerintahan yang dinilai lepas tangan dari tanggung jawab tersebut. Mereka  menuntut agar kegiatan belajar mengajar kembali diaktifkan karena dalam kalender pendidikan mahasiswa UGL seharusnya sudah mengikuti Ujian Akhir Semester seperti layaknya kampus lain. 

Sulpi Sahwali, juga orator aksi, menuntut struktural yayasan agar direshufle karena dianggap tidak mampu menyelesaikan permasalahan internal kampus. Ia menganggap pihak yayasan yang sekarang tidak berkompeten.

Dua jam melakukan aksi, para mahasiswa akhirnya membubarkan diri setelah Wakil Ketua DPRK Jamudin Selian dan  sejumlah anggota lainya berjanji memanggil pihak pengelola yayasan UGL dan pihak terkait untuk menyelesaian polemik yang tengah terjadi pada UGL. ***

Komentar

Loading...