Antusiasme Warga Menjaga Tradisi Peuayon Aneuk

Antusiasme Warga Menjaga Tradisi Peuayon Aneuk
Salah seorang peserta Peuayon Aneuk. | Foto: Try Vanny

KBA.ONE, Lhokseumawe – Peuayon Aneuk atau yang lebih dikenal dengan Peurateb Aneuk, merupakan seni budaya khas Aceh. Hingga kini, budaya itu masih dipraktikkan sebagian ibu yang akan menidurkan buah hatinya di dalam ayunan. Ini adalah tradisi yang masih dijaga hingga disertakan ke arena festival.

Selasa, 16 Oktober 2018, Lhokseumawe Traditional Festival Culture menyelenggarakan perlombaan Peuayon Aneuk yang diikuti 8 peserta dari empat kecamatan di Kota Lhokseumawe yaitu, Blang Mangat, Banda Sakti, Muara Satu, dan Muara Dua.

Kegiatan ini mendapatkan perhatian luar biasa dari masyarakat terutama di kalangan ibu-ibu. Dengan menggunakan kain batik panjang yang di selempangkan di bahu, para peserta penuh percaya diri menaiki panggung memperdengarkan merdunya lantunan zikir dan syair yang diciptakannya.

“Sebenarnya peserta ada 16 orang, terdiri dari 4 orang setiap kecamatan, tapi karena waktu terbatas akhirnya panitia hanya memberi kesempatan pada 8 orang saja,” kata Ulya Maksum, Ketua Dewan Juri.

Apa saja kriteria penilaian para peserta? Ulya menjelaskan ada empat faktor yang menjadi penilaian dewan juri yaitu estetika, kesesuaian syair, makna syair, dan properti yang digunakan.

“Kali ini kami mewajibkan para peserta mengumpulkan naskah syair yang mereka buat. Jadi, tim bisa menilai apakah yang dilantunkan sesuai naskah atau tidak. Hal itu menjadi acuan untuk para juri,” jelasnya.

Selain meurateb sambil mengayun boneka di dalam ayunan yang telah disediakan panitia, rutinitas seorang ibu juga menjadi penilaian pada perlombaaan ini. Peserta seharusnya berlakon sesuai aktivitasnya di rumah seperti menyapu, memandikan anak, menidurkan anak dan banyak hal lain yang dapat dilakukan sembari melantunkan zikir. ***

Komentar

Loading...