Beras Indonesia Jadi Menu Sahur di Gaza

Beras Indonesia Jadi Menu Sahur di Gaza
Beras ACT untuk warga di Jalur Gaza |Foto: Humas ACT

Ramadan berulang setiap tahunnya dengan kesan yang sama di Tanah Gaza, Palestina. Sahur dalam gelap, berbuka puasa pun dalam gelap dan nyala lampu lilin.

KBA.ONE, Banda Aceh - Jumat hari ini 11 Mei 2018, jutaan umat muslim Indonesia melaksanakan aksi Bersatu Bela Al-Quds untuk merespons kebijakan pemerintah AS yang memindahkan kantor kedutaan besarnya dari Tel Aviv ke Yerusalem.
 
Insya Allah rakyat Indonesia akan selalu ada dalam perjuangan rakyat Palestina membela kiblat Islam pertama. Berkat doa dan dukungan seluruh rakyat Indonesia, ikhtiar nyata membantu saudara lewat kapal Kemanusiaan Palestina dapat terwujud. Kapal telah merapat, dan beras telah diturunkan. Kini, kepal demi kepal beras bangsa Indonesia telah tergenggam di tangan saudara-saudara di Palestina.

Terbayang memori setahun lalu, di negeri ini, jelang sahur di antara hari-hari bulan Ramadan tahun 2017. Nasi sudah matang ditanak beberapa jam sebelum azan subuh. Lauk masih panas mengepul di atas meja makan. Sementara anggota keluarga lengkap, ayah, ibu, adik, kakak, sudah terjaga dan siap menyantap menu sahur. Sederhana, tapi istimewa dan bermakna.
Tak berbeda, kesan sahur yang sama pun dirasakan oleh ratusan ribu keluarga Muslim yang menetap di sebuah wilayah terjajah – kota yang dikepung dan diblokade – bernama Gaza.

Ramadan berulang setiap tahunnya dengan kesan yang sama di Tanah Gaza, Palestina. Bedanya, kalau di Indonesia kebutuhan untuk santap sahur mudah dipenuhi. Sementara di Gaza harga melonjak, pekerjaan hampir nihil, dan listrik padam bisa belasan jam setiap hari. Sahur dalam gelap, berbuka puasa pun dalam gelap dan nyala lampu lilin.
Beras dari Indonesia. 

Truk pengangkut beras bantuan ACT untuk warga di Jalur Gaza, Palestina. | Foto: Humas ACT

Namun, menjelang Ramadan tahun 2018 ini, ada kebaikan yang berbeda untuk puluhan ribu keluarga di Gaza. Pasalnya, sejak pertama kali bantuan beras dari Indonesia, yang diangkut kapal Kemanusiaan Palestina merapat di Gaza, muncul harapan menjalani Ramadhan yang lebih baik di Gaza.

Kapal Kemanusiaan Palestina, dilayarkan oleh Aksi Cepat Tanggap (ACT) dari energi yang dikumpulkan segenap masyarakat Indonesia. Maret 2018 kemarin, setelah sebulan perjalanan dari Indonesia,kapal membuang sauh dan menurunkan semua beras langsung masuk ke sebuah gudang di Gaza. Jumlah total muatannya 2.000 ton, setara dengan 80.000 karung beras.
Menghitung hari menjelang Ramadhan, ikhtiar kembali berlanjut. Menuntaskan proses distribusi seluruh beras sampai ke seantero Gaza. Bambang Triyono selaku Direktur Global Humanity Response (GHR) – ACT mengatakan, proses distribusi dilakukan bertahap, menyasar seluas-luasnya titik di Gaza. “Distribusi beras dilakukan melalui mitra ACT di Gaza, juga melalui berbagai elemen kementerian di Palestina,” jelas Bambang.

Lebih lanjut, Bambang memaparkan, proses distribusi beras sebanyak 1.100 ton dilakukan oleh mitra ACT dari Gaza Utara sampai wilayah paling selatan Gaza dekat gerbang Rafah.
“Sementara sisanya dititipkan untuk didistribusikan lebih luas lagi oleh kementerian terkait di Palestina. Seperti Kementerian Sosial, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Kesehatan, Kementerian Perekonomian, juga Kementerian Transportasi,” ujarnya. 

Komentar

Loading...