Bersahabat dengan Isyarat Alam

Bersahabat dengan Isyarat Alam
Ilustrasi bencana | INT

Untuk menghadapi bencana, diperlukan ketangguhan ekonomi melalui asuransi bencana, diversifikasi mata pencarian, dan literasi keuangan.

BADAN Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA), merilis kerugian akibat bencana di provinsi ujung pulau Sumatera ini, sepanjang 2018, mencapai Rp848 miliar. Ini sebuah angka yang besar tentunya.

Menurut Kepala BPBA, T Ahmad Dadek, kerugian materil sebagai dampak bencana tahun 2018, yaitu 294 peristiwa, meningkat 64 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Nilai kerugian materil tersebut, tentu berbanding lurus dengan dampak materil yang pasti jauh lebih besar dialami masyarakat. Hal seperti ini tidak dapat diukur dengan uang semata.

Dampak buruk dari sebuah bencana, selain jatuhnya korban jiwa, harta, tentu kehancuran fasilitas publik dan terganggunya pelayanan umum dalam jangka panjang. Selain hancurnya sistem perekonomian masyarakat yang berdampak sistemik terhadap melebarnya tingkat kemiskinan. Hal seperti ini harus dapat diminimalisir risikonya.

Nizarli, peserta pendidikan dan pelatihan reform leader academy angkatan XVII, Gerakan Masyarakat Tangguh Bencana, hidup bersahabat dengan bencana.

Menurut dia, ketangguhan terhadap bencana dicapai salah satunya melalui ketangguhan ekonomi. Ini didefinisikan sebagai kemampuan daerah atau masyarakat untuk kembali bangkit secara ekonomi, keluar dari kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan lebih baik dibandingkan masa sebelum bencana.

Karena itu, Nizarli berpendapat, untuk menghadapi bencana, diperlukan ketangguhan ekonomi melalui asuransi bencana, diversifikasi mata pencarian, dan literasi keuangan.

Nizarli melihat kebijakan ini bisa menjadikan Pemerintah Aceh memiliki ketahanan di bidang ekonomi dalam menangani masalah kebencanan nantinya. Sehingga dapat mempercepat pemulihan perekonomian masyarakat korban bencana.

Kita menyadari bahwa, bencana adalah peristiwa alam yang dapat diprediksi, tapi tidak dapat dipastikan secara terukur kapan, di mana dan apa yang bakal terjadi.

Karena itu, selain kewaspadaan, juga dibutuhkan ketangguhan semua pihak dalam menghadapi bencana.

Menilik angka kerugian yang diakibatkan bencana, tentu hanya bersandar pada keuangan negara dalam proses pemulihan bencana tidaklah cukup.

Dibutuhkan suatu sistem yang terintegrasi antar setiap pemangku kepentingan yang ada di Aceh, yakni pemerintah, swasta, BUMN dan pihak lain.

Siapapun kita, tidak berharap bencana hadir. Tapi, paling tidak, kita menyiapkan diri dalam menghadapi bencana dan mengurangi risikonya. Ini menjadi tanggung jawab semua pihak, termasuk peran besar Pemerintah Aceh lewat program dan kebijakannya. Agar nanti rakyat Aceh semakin tangguh dan bisa bersahabat dengan isyarat alam yang kian menakutkan itu. ***

Komentar

Loading...