Bisnis Bu Grieng, Cara Keluarga Menjaga Tradisi

Bisnis Bu Grieng, Cara Keluarga Menjaga Tradisi
Bu Grieng Kuliner asal Aceh Utara | Foto: Try Vanny

KBA.ONE, Aceh Utara – Tiga pekerja wanita paruh baya tampak cekatan mengaduk adonan bu grieng dalam kuali di atas kompor gas. Di sekeliling dapur terlihat bersih, apalagi tempat pengolahan penganan khas Aceh yang sudah cukup dikenal sejak dahulu.

Aroma gurih mulai tercium hingga ke perkarangan rumah di kawasan Desa Paya Tengoeh, Kecamatan Simpang Keuramat, Kabupaten Aceh Utara. Wangi itu berasal dari gorengan beras ketan dicampur manisan.

Itulah usaha skala mikro yang kini dijalankan oleh Munawir Ilyas. Lelaki ini meneruskan usaha sang ayah yang merintisnya sejak1985. Munawir Ilyas, kesehariannya berprofesi sebagai guru di SD 8 Simpang Keuramat dan juga menjabat geuchik di desanya.
Walau sibuk, Munawir tetap menjalankan usaha peninggalan ayahnya itu.

Proses pencetakan kuliner Bu Grieng | Foto: Try Vanny

“Ini awalnya usaha turun temurun, sekarang saya yang kelola,” sebut Munawir sambil menyusun packingan bu grieng, pada Jumat 18 Januari 2019.
 
Bahan baku bu grieng, kata Munawir, yaitu beras ketan yang dimasak terlebih dahulu. Setelah matang, nasi ketan itu dijemur di perkarangan rumah milik Munawir.  Setelah kering, barulah digoreng dan diaduk dengan manisan asli yang dibeli dari mitranya.

Lalu, adonan itu dicetak sesuai ukuran yang sudah ditentukan. Bentuknya beragam. Mulai bentuk bulat seperti bola, ada pula berbentuk bulat pipih seperti piring.
 
“Sekarang kue ini masih dijadikan kue hantaran buat orang menikah. Kalau untuk orang menikah ukurannya besar, bisa kita bikin bentuk bunga atau kopiah meukutob yang dihidangkan di atas talam. Harga satuannya tiga ratus ribu rupiah,” sebut Munawir.
 
Sedangkan untuk dijual ke pasar, ukurannya standar dengan harga berkisar Rp5.000 – Rp20.000 per bungkus. Tergantung ukuran besar-kecilnya. Beberapa warga sekitar juga kerap datang membeli dagangan milik Munawir sebagai oleh-oleh khas daerah.

Dia bercerita bisnis kue manis dan legit itu bukan semata-mata urusan untung dan rugi. Tapi lebih dari itu upaya mempertahankan tradisi keluarga. Sang ayah pernah berpesan agar resep kue itu diturunkan kepada anak cucu mereka.

Proses penggorengan Bu Grieng | Foto: Try Vanny

“Anak saya juga sedikit demi sedikit sudah mulai membantu. Saat ini yang besar masih SD jadi dia hanya membantu proses pengemasan,” ucap ayah 3 orang anak ini.

Setiap bulannya usaha Munawir menghabiskan sedikitnya 200 kg beras ketan. Nantinya setelah diolah, bisa menjadi 1000 bungkus kecil bu grieng. Dagangan miliknya tidak setiap saat laris di pasaran, ada musim-musim tertentu.

“Kalau lagi musim buah biasanya kurang laku. Omset bisa turun sampai 40%. Tapi kalau lagi musim hujan, biasa peminatnya meningkat,” tuturnya.
 
Penganan itu mudah ditemui di sejumlah mini market dan toko souvenir. Sehingga wisatawan kerap menjadikan penganan ini sebagai oleh-oleh. Dalam sehari, Munawir dan istrinya Maulidar, mampu memproduksi 100 bungkus bu grieng. Omsetnya per bulan pun bisa mencapai Rp10 juta.
 
 “Saya bersyukur dengan capaian ini. Tentu kami terus berusaha makanan ini tetap gurih dan manis, agar enak dikunyah,” sebutnya.
 
Munawir terus bertahan di tengah gempuran makanan modern yang siap saji di Kota Lhokseumawe. Bu grieng miliknya juga dapat disimpan selama 1 bulan di dalam lemari pendingin.
 
“Ini masih menjadi makanan ringan yang disukai masyarakat Aceh dan luar Aceh,” pungkasnya. 

Komentar

Loading...