Buka Dulu Topengmu

Buka Dulu Topengmu
Ilustrasi | vemale.com

Dan moral sangat berperan membius ketergantungan atas kecurangan itu sendiri.

Barangkali, sebagian dari kita masih ingat tayangan iklan Pendidikan Nasional (Diknas) soal ijazah palsu di tivi-tivi swasta dan pemerintah pada zaman Orde Baru. Ternyata, di balik topeng monyet “mahasiswa” yang diwisuda itu adalah seorang manusia. Iklan ini pun dimaknai lucu meski sesungguhnya memalukan. Menggambarkan orang-orang yang tanpa kuliah tapi memiliki ijazah dan gelar kesarjanaan. Sebuah potret buram moral pemimpin kita.

Lazimnya, pendidikan itu sangat menentukan moral seseorang. Akan tetapi, tidak menjadi jaminan orang-orang terdidik memiliki moral lebih baik dari orang-orang yang tak terdidik secara tinggi. Karena moral bicara soal akhlak; budi pekerti; susila dan kesantunan.

Moral itu ajaran kesusilaan; penjelmaan sikap, perilaku, dan perbuatan seseorang. Sedangkan pendidikan adalah media pelatih tentang akhlak dan kecerdasan pikiran seseorang.

Jika pangkal sebuah “media” tidak beralur dan berperilaku baik, ini yang sering menetaskan kecurangan. Dan moral sangat berperan membius ketergantungan atas kecurangan itu sendiri. Sayang, kita acap terjebak serapan bahwa pendidikan selalu berorientasi pada bisnis. Jika begitu, apa bedanya usaha komersial di dunia perdagangan?

Sejatinya, niaga juga mengedepankan moral agar tatanan bisnis menjadi teratur, jujur, dan beretika. Kaum pendahulu-lah yang mengajarkan (mendidik) kita tentang itu; nabi-nabi, para sahabat dan kerabatnya, orang tua, guru, dan orang-orang yang berbaik hati membagi ilmu (pengalaman).

Kini, tak sedikit orang-orang mengatasnamakan pemimpin, menggunakan uang dan fasilitas negara, tapi tabiatnya seperti monyet kelaparan; mengutil apa saja yang tampak, bahkan tersembunyi di depannya. Pemimpin-pemimpin seperti ini kemudian menuhankan harta, tahta, dan hampir mustahil tanpa dibarengi syahwat kepada wanita lain.

Tak peduli meski semua harus menguras isi lambung nilai-nilai luhur perjuangan dan idealisme. Karena, seperti kata Tan Malaka, idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki oleh pemuda. Ini gelojoh, namanya. Tipe pemimpin tak muda tapi egois dan loba; congok, tamak, serakah.

Bisa dibayangkan jika pemimpin-pemimpin kita terus menularkan kebohongan di balik topeng ketololan dan kebusukannya. Tentu orang ini pantas digolongkan manusia berkasta rendah dalam kajian keilmuan dan keimanan.

Lalu, oleh sejarah, mereka pasti akan dicatat sebagai pemimpin monyet tanpa topeng; selalu lapar dalam jejak kedustaan. Karena cakap dan buat pemimpin-pemimpin itu, kerap berseberangan dengan jendela Syariat. Buka dulu topengmu, Bung!

Komentar

Loading...