Cerita Cinta dan Rindu Dendam Si Anak Kos

MENJALANI HIDUP sebagai anak kos, seringkali menciptakan berbagai kisah. Kisah sedih dan bahagia menumpuk menjadi satu. Lalu, kisah-kisah itu menjadi potongan penting perjalanan hidup mereka sehingga semua dirasakan semakin berwarna.

Mereka, para pejuang mimpi yang datang ke Banda Aceh untuk melanjutkan pendidikan, meraih gelar, hingga dapat menjadi yang dibanggakan keluarga.

Menyewa kamar atau rumah yang dekat dengan kampus, tentu menjadi pilihan para mahasiswa/i dari luar daerah.
Jum'at sore, 12 April, KBA.ONE bertemu beberapa penghuni kos di Darussalam, salah satu kawasan kampus yang ramai dihuni anak kos.

Merekapun tak segan berbagi cerita. Datang dari Aceh Singkil, Edia, mahasiswi FKIP Unsyiah, menyewa kamar di sebuah rumah sederhana, di kawasan Rukoh. Dengan harga sewa relatif murah, Rp1,5 juta per tahunnya.

Sudah dua tahun lamanya ia tinggal jauh dari keluarga. Perihal uang, diakuinya sering menjadi kesulitan. Rindu kepada orang tua pun menjadi kesusahan lain yang dirasa Edia. Tapi, pengalaman baru dan dunia baru ia dapatkan.

"Bisa mengelola keuangan sendiri dan terserah mau pergi ke mana aja," kata Edia, mengungkap sisi bahagia hidup sebagai anak kos.

Di tempat terpisah, Putri dan Lia, juga membagikan kisah. Mahasiswi yang sama-sama asal Simeulue ini mengaku sudah sejak 2016 menjadi anak kos.

"Banyak kali susahnya. Yang paling susah itu, masalah uang," jawab Putri, saat ditanya susahnya hidup sebagai anak kos.

Mahasiswi UIN Ar-Raniry itu mengaku, terkadang mendapat kiriman uang Rp200 ribu dalam satu bulan. Mengharuskannya hidup irit agar keperluan terpenuhi.

Setiap tahunnya, Putri dan teman sekamarnya membayar Rp3 juta untuk sepetak kamar. Sementara Lia, menyewa sebuah rumah sederhana dengan harga Rp6 juta per tahun, bersama 3 orang temannya.

Saat ditanya perihal senangnya hidup anak kos, mereka menjawab tidak banyak. "Lebih banyak susahnya," jawab mereka dengan canda tawa.
Kisah percintaan pun tak pelak mencengkeram kehidupan mereka.

Kadang, membuat mereka seperti memiliki "sopir pribadi".
"Gak sering-sering juga minta dijemput, sih, tapi ada," jawab Putri yang lebih banyak berjalan kaki untuk ke kampus.

Di lain tempat, Yanti, mahasiswi Fakultas Tarbiyah UIN Ar-Raniry, mengaku sudah 4 tahun menjadi anak kos.
Selama itu, ia sudah 4 kali pindah. Harga yang terlalu mahal, hingga tidak betah menjadi alasannya.

Bersama sang adik, kini ia menyewa kamar di sebuah rumah dengan harga Rp2,5 juta per tahunnya.

Dari Yanti kembali didapatkan cerita bahwa uang menjadi hal yang paling susah dirasa sebagai anak kos.

"Mau banyak atau sikit (kiriman), memang susah. Makanya harus hemat-hemat," jelasnya.

Untuk menambah pendapatan, kini Yanti nyambi bekerja sebagai tenaga pendidik di Taman Kanak Kanak, di daerah Beurawe.

Tapi, perasaan rindu keluarga di Simeulue pun acap kali datang menyapa. "Kalau lagi makan enak, sering teringat orang tua," kenang anak pertama dari 4 bersaudara ini.

Senangnya hidup sebagai anak kos kurang dirasakan oleh Yanti.
"Belajar mandiri selama nge-kos iya, tapi gak senang," jelasnya sembari tertawa kecil.

Ia yang sedikit lagi akan menyelesaikan pendidikannya, mengaku memiliki seseorang yang "menunggu" di kampung halaman.

"Dia datang ke rumah, ngobrol sama orang tua. Alhamdulillah diizinkan, tapi dengan satu syarat, boleh menikah selesai kuliah," cerita Yanti, menjelaskan.

KBA.ONE juga mencoba menggali sisi lain cerita kehidupan anak kos dari mereka yang pernah menjalaninya. Para mantan anak kos, yang mengaku tidak merasakan kesulitan soal keuangan.

Seorang perempuan yang tak ingin disebutkan namanya, asal kota dingin, Takengon, pernah menjadi anak kos selama 5 tahun. Sejak di bangku Sekolah Menengah atas, hingga ia menyelesaikan pendidikan Diploma III di FMIPA Unsyiah.
Rasa rindu, menjadi hal sulit untuk dilupakan.

"Kalau udah magrib, di kos, terasa kali. Dan di bulan puasa, bukan (suasana) buka puasanya yang diingat, tapi sahurnya," kenang dara cantik ini sembari tertawa kecil.

Ia dan sang kakak, dulu menyewa kamar kos di jalan Inong Balee, Darusalam. Biaya (pada saat itu) Rp5 juta per tahun. Kos kosan di sini memiliki aturan cukup ketat, untuk menjaga kedisiplinan para penghuninya.

"Sampai terakhir kali ngekos di sana, jam malamnya itu, jam 9," ungkapnya.

Gadis bertubuh centil ini mengaku menjadi anak kost juga ada nilai plus. "Enggak dapat repetan dari mama," katanya sembari tertawa lepas.

Cerita percintaan pun tak dia lewatkan. Ia bercerita sempat menjalani hubungan LDR (long distance relationship). "Enggak sama orang sini (Banda Aceh), karena nanti ketemu terus tiap hari, nongkrong terus di luar jadinya," tutupnya sambil tersenyum.

Melalui sambungan WhatsApp, Sahanaya, mantan mahasiswi lulusan FMIPA Unsyiah, asal Jakarta, juga berbagi cerita.

Selama 5 tahun, Naya, panggilan akrabnya, mengaku pernah menjadi anak kos.
"Di kos yang terakhir gak terlalu ketat aturannya, tapi Naya gak biasa pulang malam juga," ungkapnya yang sempat dua kali pindah lokasi kos.

Terakhir, ia menyewa kos di daerah Jeulingke, Syiah Kuala. Dengan harga sewa sekitar Rp7 jutaan (saat itu) untuk satu tahun.

Menjadi anak kos, Naya mengaku mampu menjadi lebih mandiri. "Apa yang dulu gak bisa, jadi bisa pas di kos," tulisnya.

Bebas, namun tetap dalam batas wajar menjadi kebahagiaan lain yang dirasa. Namun, tinggal seorang diri membuat Naya merasa kesepian. "Lebih banyak rindu pulang, homesick," ungkap perempuan berdarah Aceh, namun lahir dan besar di Jakarta ini.

Bagaimana kisah percintaan selama menjadi anak kos? Naya mengaku hanya sempat dekat dengan seorang pria, tidak sampai menjalin hubungan.
Bagi mereka, para anak kos, bertahan di tanah rantau jelas merupakan keharusan. Menahan rindu yang membuncah, demi mencapai yang dicitakan.

Kesulitan dalam hal keuangan, umumnya, harus mampu mereka atasi. Dan mencari pemasukan tambahan adalah pilihan bijak.

Menjaga dan membentengi diri nama baik keluarga, mutlak diperlukan. Sehingga tujuan awal ngekos demi menuntut ilmu dan meraih gelar, tidak tercoreng dengan perilaku menjurus negatif. Meski, kisah-kisah cinta di rumah kos selalu menyisakan rindu dendam yang tak karuan, seperti kisah mereka yang ditumpahkan di sini. | TETI SUNDARI, Reporter Banda Aceh.

Komentar

Loading...