Cerita Senja Kala di Kota "Sejuta Pengemis"

Cerita Senja Kala di Kota "Sejuta Pengemis"
Sosok pengemis renta di Banda Aceh. | KBA.ONE: Ulfah.

KBA.ONE, Banda Aceh - Selasa sore, 12 Maret 2019, kota Banda Aceh tampak ramai seperti biasa. Mendung yang menyibak cahaya benderang langit kota, tak menyurutkan warga melangkahkan kaki ke luar rumah. Untuk sekadar menikmati waktu di pengujung sore bersama kerabat, teman, atau pacar, misalnya.

Rutinitas serupa berlaku pula untuk para pengemis, “profesi” yang tak mengenal waktu, tempat, kasta, dan derita. Mereka berharap, kadang meratap, mendapat sedikit rupiah dari tangan-tangan orang yang dihampiri.

Kehadiran mereka yang tak diundang itu, acap-acap menimbulkan ketidaknyamanan pengunjung di ruang-ruang publik, di tempat-tempat kuliner, warung kopi, kafe, resto, maupun tempat bersantai lain. Apalagi jumlah pengemis di Banda Aceh hampir setara dengan jumlah juru parkir; tersebar di sudut-sudut kota yang berjuluk smart city ini.

Bagi warga kota dan sekitar, menghabiskan waktu sore hari di pinggir Pantai Ulee Lheue, masih menjadi pilihan. Ditemani es kelapa muda dan beberapa tusuk sate, sembari menatap hamparan lautan luas di hadapan mata, adalah bagian dari terapi mujarab menghilangkan penat setelah seharian beraktivitas.

Saat KBA.ONE tengah bersantai, dari kejauhan, terlirik seorang laki laki paruh baya bertubuh kuat, menghampiri satu persatu meja pengunjung. Di pundak kirinya, tersampir tas kecil berwarna hitam.

Sementara kedua tangan lelaki itu memegang erat kotak persegi panjang yang disodorkan ke arah setiap pengunjung di tempat itu. Dari beberapa pengunjung, hampir semua mengulurkan tangan dan mengisi kotak yang diarahkan sejajar ke wajah mereka.

Di sisi depan kotak, tulisan memohon bantuan untuk sebuah dayah menempel jelas dan tegas. Tiba sosok lelaki bugar itu di meja KBA.ONE, sembari mengisi kotak tersebut, kami mencoba mengajak berbicara. Tapi urung karena dia mengaku tak pandai bahasa Indonesia.

Kemudian, lelaki bercelana gelap dan berkemeja lusuh itu pun berlalu melanjutkan langkahnya, menghampiri setiap meja pengunjung lain.

Di tempat terpisah, seorang pengemis tua justru berbagi cerita soal jerih payah dia sebagai pengemis. Mengenakan hem kotak kotak sambil menenteng tas kecil karung beras, lelaki 60 tahun ini kelihatan lebih bersahabat.

Diawali salam dan seyuman, dia mulai berbagi kisah. “Saya dari Aceh Utara, di sini tinggal  di Lampeunerut. Alhamdulillah, sehari saya bisa dapat sekitar Rp100 ribu lebih. Kami bagi dua,” kata pengemis itu sambil melirik ke arah teman yang menjadi “guide” nya.

Di Banda Aceh, kakek ini mengaku memiliki anak yang tinggal di Ajun, Aceh Besar. Mengapa tidak tinggal bersama anak?  “Kehidupan anak saya juga tidak terlalu baik. Kadang ada uang, kadang tidak,” cerita pengemis renta itu penuh haru.

Waktu berjeda hingga rintik hujan berjatuhan di atas pasir pantai Ulee Lheue. Pengunjung di area publik pun bergegas menutup waktu santai sorenya. Berlari-lari kecil menghindari terpaan hujan, menghilang, seperti pengemis-pengemis di pantai itu. Tak terlihat lagi “batang hidung” nya.

Pusat Kuliner Rex

Di ujung senja, malam pun telah tiba. “Perburuan” mengintip sisi kehidupan pengemis di Kota Gemilang baru dimulai. Usai dari Ulee Lheue, Selasa malam itu, KBA.ONE menjejaki area wisata kuliner Taman Rex Peunayong.

Kawasan sibuk yang hanya buka malam hari hingga hampir fajar ini selalu dipadati pengunjung. Tamu-tamu di situ tak hanya warga kota. Tapi, kebanyakan pelancong dari luar Kota Banda Aceh, bahkan negeri jiran Malaysia.

Rex Peunayong adalah pusat jajanan yang telah ada sejak 1980-an.  Berada di jantung ekonomi kota, di seputaran jalan Sri Ratu Safiatuddin, Taman Rex menyediakan aneka kuliner khas Aceh seperti sate matang, mie kepiting Aceh, macam-macam jus dan hampir semua kuliner nasional ada di Rex. Bahkan souvenir juga ada di sekitar Rex.

Bagi pengemis debutan dan pengemis senior, Taman Rex adalah ladang rezeki mereka. Jika tak percaya, cobalah sesekali mampir di Rex, pasti Anda terkesima melihat kehadiran pengemis yang tak berhenti menyapa penuh ramah. Boleh jadi sesekali dia marah ketika Anda tidak “bersedekah” kepadanya.  

“Ini yang membuat kita tidak pernah nyaman duduk bersantai di Banda Aceh, di mana pun. Apakah itu di warung kopi, kafe, resto, atau tempat jajanan seperti Rex ini,” kata Abdul, 54 tahun, pengunjung Rex, kepada KBA.ONE.

Hiruk pikuk deru suara kendaraan yang melintas di jalur sibuk kawasan Rex, semakin menambah semarak suasana malam itu. Suasana ini pula yang ikut membakar semangat seorang pengemis lelaki untuk mendatangi satu persatu meja pengunjung.  

Memegang sebuah tas kecil, lelaki renta itu pun mulai beraksi, menengadahkan tangan kanannya, mengharap belas kasih pengunjung. Satu persatu pengunjung mulai berbagi rezeki kepada sang kakek. Rasa iba dan kasihan mungkin alasan mengapa mereka “bersedekah”.

Apalagi dari dekat, wajah pengemis itu memang tak muda lagi. Dahi kening dan pipinya dipenuhi guratan keriput kelelahan yang tergambar di sekujur wajahnya.

Tapi, ketika disapa dan ingin diajak bicara, pengemis itu bilang, “maaf, modal saya belum balik hari ini. Lain waktu saja, ya. ” Dan tanpa beban, pengemis renta itu pun berlalu,  meninggalkan KBA.ONE, bersama malam yang semakin larut.

Fenomena pengemis di Banda Aceh memang dilematis. Mirip kanker ganas yang hampir tak pernah bisa disembuhkan. Penyakit sosial ini bersarang berpuluh-puluh tahun di tubuh Kota Serambi Mekah. Tapi, berpuluh wali kota berganti, pun tak ada yang sanggup menghentikan “endemi” sosial itu.  

Kehadiran mereka kian membiak dari tahun ke tahun. Imbauan agar tidak memberi uang kepada pengemis, larangan, operasi penertiban, bahkan insentif Rp4 juta pertahun dari Pemko, tak menyurutkan semangat para pencari uang lewat “profesi” yang sesungguhnya hina itu.

Tapi apa mau dikata, pilihan menjadi pengemis jauh lebih bersuka. Duitnya gampang, jelas, dan menjanjikan, meski usia mereka telah berada di ujung senja. Apa kabar Pak Wali Kota? Apakah Anda akan membiarkan kota ini berjuluk kota “Sejuta Pengemis” tanpa Adipura? | TETI SUNDARI/ULFAH, Reporter Banda Aceh.

 

Komentar

Loading...