CIA Tuding Pangeran Mohammed Perintahkan Khashoggi Dibunuh

CIA Tuding Pangeran Mohammed Perintahkan Khashoggi Dibunuh
Mohammad bin Salman | WP/Reuters

KBA.ONE, Washington - Central Intelligence Agency atau CIA--Badan Intelijan Pusat Amerika Serikat--menyimpulkan putra mahkota Arab Saudi Pangeran Mohammad bin Salman atau MBS memerintahkan pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi di Istanbul, Turki, pada Oktober lalu. Kesimpulan CIA berlawanan dengan klaim Pemerintah Saudi yang bersikukuh MBS tak terlibat dalam pembunuhan itu.

Kesimpulan CIA ini merupakan yang paling definitif sejauh ini untuk mengaitkan MBS dengan operasi pembunuhan Khashoggi. Di sisi lain, hal ini akan menyulitkan upaya pemerintahan Presiden Donald Trump menjaga hubungannya dengan Saudi, sekutu eratnya.

Washington Post, mengutip pejabat-pejabat Amerika yang familiar dengan kesimpulan CIA menyebutkan, lembaga intelijen itu telah memeriksa sejumlah sumber sebelum sampai pada tudingan tersebut. Termasuk yang diperiksa CIA adalah panggilan telepon antara Khalid bin Salman, saudara laki-laki MBS yang menjabat Duta Besar Saudi untuk Amerika Serikat.

Dari penyadapan telepon oleh CIA itu diketahui Khalid pernah menghubungi Khashoggi dan mengatakan agar jurnalis itu datang ke Konsulat Saudi di Istanbul. Tujuannya, untuk mendapatkan berkas-berkas yang diperlukan bagi pernikahannya dengan tunangan. Khalid bahkan menjamin hal itu aman dilakukan Khashoggi.

Tak jelas apakah Khalid tahu Khashoggi akan dibunuh. Namun orang yang menyuruh menelepon Khashoggi adalah MBS. Khalid telah membantah soal telepon tersebut dan meminta Amerika menunjukkan bukti.

Juru bicara Kedutaan Besar Saudi di Washington, Fatimah Baeshen, mengatakan, Khalid dan Khashoggi tak pernah membahas "apapun terkait pergi ke Turki". Dikatakannya, klaim yang disampaikan dalam kesimpulan CIA tersebut adalah palsu.

Washington Post juga menuliskan CIA menemukan 15 agen Saudi yang dikirim ke Istanbul untuk membunuh Khashoggi, terbang menggunakan pesawat pemerintah. Kesimpulan mengenai peran MBS didasarkan pada penilaian CIA bahwa sebagai penguasa de facto Saudi, MBS mengawasi semua hal, bahkan urusan terkecil di negara itu. "Posisi yang diterima adalah bahwa tak mungkin ini terjadi tanpa dia (MBS) tahu atau terlibat," ujar seorang pejabat Amerika seperti dilansir AFP, Sabtu, 17 November 2018.

Pejabat tersebut mengatakan, CIA memandang MBS sebagai "teknokrat yang baik" namun arogan dan mudah berubah. Para analis CIA meyakini kekuasaan MBS sangat kuat dan tidak akan kehilangan statusnya sebagai putra mahkota meskipun adanya skandal Khashoggi ini. "Kesepakatan umumnya adalah dia kemungkinan akan bertahan," ujar pejabat tersebut.

Namun, juru bicara CIA menolak berkomentar mengenai kesimpulan tersebut. Ada kemungkinan kesimpulan tersebut cuma cara CIA menekan kasus itu cepat terungkap.

Jamal Khashoggi dibunuh saat masuk ke dalam Konsulat Jenderal Arab Saudi di Istanbul pada 2 Oktober 2018. Menurut hasil penyelidikan Arab Saudi, Khashoggi tewas setelah upaya membujuknya pulang gagal. Setelah jurnalis berusia 59 tahun itu tewas, sorotan menuju ke MBS. Pasalnya, Khashoggi kerap menuliskan kritik untuk putra mahkota Arab Saudi itu. MBS berulang kali membantah terlibat dalam pembunuhan Khashoggi.

Komentar

Loading...