Cox Bazar Tempat Bermukim Para Penghafal Alquran

Cox Bazar Tempat Bermukim Para Penghafal Alquran
Husaini Ismail, Ketua ACT Aceh.

Ini adalah salah satu kamp pengungsian etnis Rohingya.

Pada perjalanan kali ini, saya ditugaskan oleh Aksi Cepat Tanggap (ACT) berkunjung ke Bangladesh, mendampingi Tgk H Faisal Ali, Wakil Ketua MPU, yang juga sebagai Kordinator Solidaritas Aceh untuk Rohingya SAUR. Ini adalah kumpulan 74 lembaga, ormas dan komunitas yang ada di Aceh. Selama ini mereka melakukan penggalangan dana untuk membantu pengungsi Rohingya yang disalurkan via ACT Aceh.

Perjalanan kami tempuh dari 1 Februari 2018 ke Jakarta, lantas ke Kula Lumpur. Dari Kuala Lumpur, kami terbang ke Dhakka 4 jam lamanya dari Kuala Lumpur. Dari Dhakka, kami melanjutkan perjalanan menuju Cox Bazar 1 Jam dengan Novo Air hingga total penerbangan 11 jam. Sebenarnya jika ada penerbangan langsung dari Banda Aceh ke Dhakka, hanya memakan waktu 2 jam
.
Sejak Agustus 2017, Aksi Cepat Tanggap menjalankan program bantuan masa darurat berupa dapur umum dan kesehatan, kemudian dilanjutkan pembagian makanan untuk rumah tangga. Saat sedang berjalan program kesehatan berupa klinik kesehatan, distribusi bantuan makanan, pembangunan 1.000 unit shelter di Kutu Palong Cox Bazar dan pembangunan asrama yang akan menampung dan membina anak yatim dengan kapasitas 1.000 orang tepatnya Desa Tewarikil, District Amirabad.

Cox Bazar adalah kabupaten/kota tujuan wisata lokal masyarakat Bangladesh dan memiliki garis pantai sepanjang 120 kilometer tidak putus-putus. Kalau ditarik garis lurus paling dekat ke Aceh, kabupaten ini masuk dalam wilayah Propinsi Chittagong, asal lahir Gerakan Micro Finance Grameen yang diprakarsai oleh Profesor Muhammad Yunus, pemenang nobel.

Di sini awalnya bank rakyat kecil dan miskin yang sudah tumbuh sangat besar tetapi tidak mensejahterakan rakyatnya. Di District Cox Bazar ini yang berbatasan langsung dengan Myanmar terdapat 14 titik lokasi kamp pengungsi Rohinya dengan total jumlah 1,2 juta orang.

Kutu Palong adalah Camp pengungsi terbesar di antara 14 Lokasi pengungsi yang terdapat di perbatasan Myanmar–Bangladesh. Untuk mencapai lokasi bisa ditempuh 1,5 jam lewat darat kondisi jalan bagus sambil menikmati bunyi klakson yang tidak terputus.

Kami juga berkunjung ke titik pengungsi yang berada di Teknaf Kilometer 0, lokasi pengungsi ini jumlahnya tidak banyak sekitar 500 orang, dikelola oleh militer. Itu kata Saiful Islam, yang mendampingi kami sekaligus menjadi penerjemah. Dia adalah warga Bangldesh yang hafiz Alquran.

Dari Lokasi ini kita bisa melihat seberang sungai adalah wilayah Myanmar yang sebelumnya digunakan oleh para pengungsi menyeberang untuk mencapai Teknaf. Dari posisi kami berdiri Saiful Islam menjelaskan sambil bersumpah atas nama Allah bahwa dia melihat mayat yang tenggelam diangkat warga lokal.

Sementara di seberang sungai dia melihat rumah penduduk desa dibakar. "Kalau kita lihat kasat mata sungai ini lebarnya sekitar kurang lebih 200 meter," katanya.

Saat masuk dalam camp pengungsi Kutu Palong melihat wajah pengungsi sulit membedakan dengan wajah penduduk asli. Saat kami tiba masuk dalam musala dibangun oleh ACT terbuat dari bambu dan atap seng dicat hijau. Saat tiba sekitar pukuo 11.00 waktu setempat, di dalam musala terdapat sekitar 50 orang. Mereka sedang belajar Alquran.

Mereka sangat tekun belajar dan menghafal Alquran, menariknya dalam keadaan dan pakaian jauh dari sempurna mereka ini sangat tertib dan tidak berisik. Saat ditanyakan oleh Lem Faisal kenapa bisa tertib begini, dijawab mereka haus ilmu karena di tempat asal mereka tidak diberikan kesempatan rezim Myanmar.

Saya minta satu anak membaca 1 surat, dia menuruti dan melantunkan ayat tersebut dengan fasih dan suara yang sangat merdu. Saya menyaksikan dan mengikuti bacaannya itu. Tak terasa, air mata mata saya mengalir. Saking penasaran, saya bertanya kepada Mohammad Omar Farok, seorang remaja pengungsi usia SMA yang juga hafiz, “apa yang membuat banyak anak-anak dan remaja menghafal Alquran.”

Omar menjawab, “di Arakan, kami punya rumah dan keluarga, tetapi mereka ambil dan tinggal di sana. Kami memiliki satu yang tidak akan kami berikan dan tidak bisa mereka ambil," katanya, sambil dia menunjukkan dada, “kami punya iman kepada Allah.”

Saya tidak bisa berkata apa-apa. Mereka, saudara muslim Myanmar, Allah pilih untuk diuji karena mereka jauh lebih kuat dari kita. Biar di mata dunia mereka terabaikan, semoga di akhirat nanti mereka ini mendapat surga di sisi Allah.

Cox Bazar, 6 February 2018, Pukul 11.20 WIB.

Dikirimkan oleh Husaini Ismail, Ketua ACT Aceh

Komentar

Loading...