Diduga Ilegal, Pengerukan Pasir Laut Resahkan Warga Simeulue

Diduga Ilegal, Pengerukan Pasir Laut Resahkan Warga Simeulue
Eskavator mengeruk pasir laut di Muara Desa Bunga Kecamatan Salang, Simeulu. Photo Ist.

Sardin, anggota DPRK Simeulue, mengakui jika proyek pengerukan pasir bersumber dari dana aspirasinya, tapi bukan ia yang mengerjakan.

KBA.ONE, Simeulue - Aktivitas pengerukan pasir laut yang diduga ilegal meresahkan warga Desa Bunga, Kecamatan Salang, Simeulue. Selain mengancam ekosistem sungai, pengerukan pasir dikhawatirkan akan menimbulkan abrasi yang berdampak buruk bagi nelayan di desa setempat.

Kepala Desa Bunga, Jalimin, mengatakan pengerukan pasir laut Muara Sungai di Desa Bunga telah berlangsung sejak rencana pembangunan kolam tambatan perahu bagi nelayan di tersebut oleh pemerintah. Sayangnya, kata Jalimin, pembangunan proyek tersebut terkesan tertutup tanpa melibatkan perangkat desa setempat.

"Yang kami dengar pengerukan ini terkait rencana pembuatan tempat menambat perahu nelayan. Pasir laut hasil pengerukan sebahagian digunakan untuk timbunan jalan desa," kata Jalimin kepada KBA.ONE, Selasa kemarin

Menurut Jalimin, sebagai kepala desa ia sudah berupaya melakukan klarifikasi kepada pemerintah setempat, termasuk kepada Sardin, salah seorang anggota DPRK setempat. Pasalnya, lanjut Jalimin, pengerjaan proyek bersumber dari dana aspirasi itu juga diduga mengabaikan sejumlah prosedur di antarannya Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan tentang pengusahaan pasir laut dan belum memiliki kontrak.

"Yang kami tahu pengerukan pasir penanggung jawabnya Sardin karena sumber danannya dari aspirasi beliau, namun untuk saat ini danannya ditanggung pihak ketiga," kata Jalimin, Rabu 8 Agustus 2018.

Kepada Sardin, lanjut Jalimin, ia telah meminta agar anggota DPRK periode 2014-2019 itu menandatangani kontrak pengerjaan kedua proyek, baik pengerukan serta penimbunan jalan desa. Hal yang sama, kata Jalimin, juga telah diminta Ketua Tim Pelaksana Kegiatan penimpunan jalan desa Bunga.

"Waktu itu jawaban Sardin, nanti saja kalau sudah selesai pekerjaan. Karena Ketua Tim Pelaksana Kegiatan (TPK) Desa Bunga, Ali Ahmad juga mengaku tidak tahu terkait kegiatan penimbunan jalan itu. Makannya kita sempat meminta agar kegiatan ini dihentikan karena tidak ada kontraknya. Ini juga sesuai harapan masyarakat," kata Jalimin.

Dihubungi terpisah, Sardin, Anggota DPRK Simeulue, membantah jika ia terlibat dalam pengerjaan proyek pengerukan dan penimbunan jalan desa yang menggunakan pasir laut tersebut. Namun Sardin mengakui jika proyek pengerukan pasir bersumber dari dana aspirasinya, sedangkan proyek penimbunan jalan menggunakan dana desa tahun 2018.

"Bukan saya yang mengerjakan tapi sumber dananya dari aspirasi saya untuk membuat kolam penambatan perahu nelayan. Kontraknya dari Dinas Kelautan dan Perikanan sudah ada begitu juga soal izin dari Kepala Desa Bunga. Yang mengerjakan kedua proyek ini kelompok yang diketuai saudara Refil. Selain pengerukan, dia juga pemenang tender untuk paket penimbunan jalan desa yang kontraknya juga sudah ada," kata Sardin.

Pantuan KBA.ONE, eskavator yang sebelumnya melakukan pengerukan pasir laut, tidak terlihat beroperasi di Muara Sungai Desa Bunga, Rabu. Sejumlah warga disekitar lokasi muara sungai menyebutkan pengerukan telah berlangsung sejak 1 Agustus lalu.

 

Komentar

Loading...