Dihipnotis, Tabungan Rp325 Juta Milik Nenek 73 Tahun Ludes Dikuras Penipu

Dihipnotis, Tabungan Rp325 Juta Milik Nenek 73 Tahun Ludes Dikuras Penipu
Ketua PBH Peradi Medan Rumintang Naibaho menunjukkan foto para pelaku, disampinggnya Anna Sinuraya, Selasa 6 Agustus 2019. (Kompas.com/MEI LEANDHA ROSYANTI)

Anggota komplotan itu menyapa Anna, berpura-pura menanyakan nama jalan. Lalu datang lagi temannya, menyapa ramah, hingga akhirnya Anna terhipnotis ikut masuk ke mobil dan mengambil buku tabungan di rumah.

KBA.ONE, Medan - Raut duka Anna Sinuraya, 73 tahun, semakinmenambah gurat-gurat tua di wajahnya. Perempuan berambut sebahu ini bergetar saat menceritakan ulang ulah komplotan penipu yang menguras habis isi tabungannya sebesar Rp325 juta dalam hitungan jam.

Para penipu itu diduga komplotan yang terlatih.  Anna mengaku dihipnotis para pelaku sehingga tak sadar dan mau saja menuruti semua perintah para penipu.   Namun, warga Kecamatan Medan Selayang ini, masih mengingat awal mula kejadian.  

Menurut dia, pada Selasa, 16 Juli 2019, Anna berjalan menuju pasar tak jauh dari rumahnya. Ini kebiasaannya setiap pagi, setelah anak yang tinggal bersamanya pergi bekerja.  Belum lama berjalan, dia dihampiri seorang pria menanyakan nama jalan yang berada di Kecamatan Tanjungmorawa, Kabupaten Deliserdang.   

Anna menjelaskan, jalan tersebut sangat jauh dari Kota Medan.  Kemudian datang seorang perempuan yang membenarkan ucapan Anna. Ana mengatakan kepada kepada perempuan itu agar membantu pria tersebut sambil hendak berlalu.  

Tiba-tiba lewat mobil yang ditumpangi seorang laki-laki bersama supirnya. Perempuan yang tak diketahui namanya itu lalu memberitahu Anna bahwa pria di dalam mobil karyawan bank swasta. Perempuan itu mengaku sering meminjam uang kepadanya untuk bisnis showroom-nya.   

Laki-laki di dalam mobil turun dari mobilnya dan ikut nimbrung dalam obrolan antara Anna dan perempuan tanpa nama. Kemudian, si pria penanya alamat juga bergabung dan mengaku sedang menyuruh seorang perempuan menukarkan uang 1.000 dollar namum sudah dua jam belum kembali.  

Perempuan tanpa nama itu lalu mengajaknya mencari BRI terdekat dan membujuk Anna untuk ikut dengan alasan menolong. Diajak masuk mobil, ikut ke BRI   "Aku nurut aja padahal mau belanja, naik kami ke mobil. Pas di dalam mobil, laki-laki yang pertama kali ku jumpai bilang kepada perempuan itu, "Kalau ada uang mu di bank pakai aja dulu, nanti kita cairkan sekaligus."

Perempuan itu menjawab, "Ada uang ku Rp 100 juta di BRI," kata Anna menirukan percakapan orang-orang yang baru dikenalnya itu.  

Mobil kemudian berhenti di depan BRI wilayah Sarirejo, perempuan itu turun. Anna tetap di dalam mobil bersama tiga laki-laki. Beberapa menit berselang, perempuan itu masuk sambil membawa uang Rp 100 juta lalu menyerahkannya kepada si penanya alamat. Dia berjanji akan mengembalikannya Rp 150 juta. "Lumayan, jadi bisa aku buka showroom lagi, ada modal ku Rp 50 juta,’’ ucap Anna saat ditemui Kompas.com di kantor PBH DPC Peradi Medan pada Jumat 2 Agustus 2019 lalu.  

Anna pun ditawari perempuan itu untuk mengikuti caranya yang dalam sekejap dapat Rp 50 juta, Anna mengangguk.   Mobil putar arah menuju rumah Anna untuk mengambil buku tabungan BNI dan BRI.    “Dibawa aku ke BRI Tanjungrejo, di situ aku udah gak tau lagi, ku pikir ke BRI Jamin  Ginting. Cairlah uang di sana Rp 75 juta," ujar dia.  

Dibujuk Mencairkan Deposito  

Setelah itu, mereka menuju BNI di Universitas Sumatera Utara untuk mencairkan deposito.   Anna bilang, pegawai bank sempat bertanya mengapa diambil karena belum jatuh tempo. Perempuan itu yang menjawab untuk membangun rumah, dan Anna membenarkan.   "Iya ku bilanglah, terus dicairkanlah Rp 250 juta," ungkapnya dengan mimik sendu.  

Kembali menaiki mobil, kali ini komplotan yang sudah menguras semua uang Anna mengajaknya membeli buah karena pria yang mengaku pegawai bank itu lapar.   Mereka pergi ke supermarket buah dan sayuran di Tanjungrejo. Di sana, Anna dibiarkan memilih buah sementara si perempuan permisi ke toilet.   Lama ditunggu, perempuan itu tak muncul lagi.

Dia mencari-cari dan bertanya kepada semua orang, tapi semuanya menjawab dengan gelengan dan heran. Kepada penjaga toko, perempuan sepuh ini minta diantarkan ke kamar mandi untuk memeriksa apakah perempaun itu di sana, hasilnya nihil.  

Barulah dia tersadar sudah ditipu. Bingung dan tak tahu harus berbuat apa menghantuinya. Kepada orang-orang yang mengerumuninya, Anna meminta tolong. "Kalian bantulah aku, udah kena hipnotis aku, habis semua uang ku….’’ Ujar Anna memelas.     

Kemudian sepasang suami istri yang hendak berbelanja membantunya menghubungi anaknya. Kebetulan, nomor ponsel anaknya tersimpan di dompetnya yang tak dibawa pelaku. Setelah bertemu anaknya, Anna melaporkan kejadian ini ke Polsek Medan Sunggal.   

Tiga Korban Hipnotis

Ketua Pusat Bantuan Hukum (PBH) Peradi Medan Rumintang Naibaho mengatakan, sudah tiga korban seperti Anna yang mengadu. Mereka adalah Anna Sinuraya, 73 tahun, Ranitha Sinulingga, 69 tahun, dan Tredum Ginting, 69 tahun.  

Dia meminta polisi cepat dan maksimal menyelesaikan kasus ini. Dari kacamata hukum, Rumintang mengakui pasal hipnotis tidak ada. Namun penyidik bisa mengenakan pelaku dengan Pasal 378 KUHPidana.   

Rekaman CCTV bank juga bisa dijadikan petunjuk untuk mengetahui korban bersama siapa saat mengambil uang. “Ini bukan penipuan biasa, kalau penipuan biasa jelas siapa penipu dan yang ditipu. Kalau ini penipun dengan cara hipnotis,’’ kata Rumintang.  

Dijelaskannya, berdasarkan pengakuan Anna, selama di dalam mobil dia ditawari penukaran dollar untuk investasi yang meraup untung jutaan rupiah. Keempat pelaku berusaha keras agar korban tergiur.   Soal buku tabungan yang diambil di rumah, kartu ATM-nya dipegang oleh anak Anna.

Untuk melancarkan aksinya, pelaku mengajak Anna membuat surat kehilangan ke kantor polisi. Surat keterangan hilang inilah yang dibawa ke bank untuk mencairkan semua tabungan dan deposito Anna.    "Perempuan itu, selalu mendampingi korban mulai dari mengambil buku tabungan di rumah, ke bank dan kantor polisi. Sepertinya para pelaku sangat lihai memainkan perannya," ucapnya.  

Diceritakan Rumintang, modus yang sama juga dilakukan para pelaku kepada korban Tredum Ginting.   Setelah mengirimkan uang kepada anaknya, korban ke luar dari bank dan ditemui seorang perempuan yang menyapa dan berbasa-basi seolah-olah sudah mengenal lama korban.  

Tak lama datang laki-laki mengaku pegawai bank dan mengajaknya masuk ke mobil. Percakapan soal investasi dollar yang sangat menguntungkan akan didapat korban kalau dia mengambil semua tabungannya.  

Entah tertarik atau terhipnotis, korban mengambil uangnya di Bank Permata cabang Iskandar Muda, sebanyak Rp 160 juta pun lenyap.   Cara meninggalkan korbannya pun sama, Tredum diajak membeli buah ke pasar Setiabudi, pelaku memberikan uang Rp 300 ribu kepadanya. Saat korban asyik berbelanja, pelaku kabur.    "Kejadian ini sering terjadi di Kota Medan, kami harap polisi tidak membiarkannya karena dianggap kejadian biasa dan tidak perlu diperjuangkan.

Uang yang dirampas pelaku adalah uang yang dikumpulkan para korban saat mereka masih muda. Raib dalam sehari..." tutur Rumintang.  

Rumintang berharap polisi dapat segera mengungkap dan menangkap para pelaku yang sangat meresahkan warga Kota Medan.   Kepada korban-korban lain yang ingin mengadukan nasibnya, dia mengatakan, PBH Peradi Medan membuka posko untuk kasus ini.   "Masih banyak korban-korban lain yang mungkin malu mengadu padahal kerugiannya lebih besar. Polisi harus segera mengusut tuntas kasus ini, bukti dan petunjuknya sudah ada, biar tidak jatuh korban-korban lain," timpal Ricka.  

Kanit Reskrim Polsek Sunggal Iptu Syarif Ginting saat dikonformasi soal laporan korban, membenarkan ada menerima satu laporan.   Syarif mengaku sedang melakukan penyelidikan berdasarkan rekaman CCTV.  "Kasusnya masih dalam pengembangan,” katanya singkat pada Selasa 6 Agustus 2019. ***

Komentar

Loading...