Dinding Ratapan Yahudi

Dinding Ratapan Yahudi
Ilustrasi KBA.ONE | Decky R Risakotta.

Disebut "Tembok Ratapan" karena di situ orang Yahudi berdoa dan meratapi dosa-dosa mereka dengan penuh penyesalan.

Sekiranya Mark Elliot Zuckerberg tidak menemukan Facebook (FB), barangkali kita sulit terhubung dengan teman-teman sekolah yang sudah los kontak puluhan tahun lamanya. Sebaliknya, jika tidak ada FB, mungkin kita tidak bertemu zaman dimana hujatan, makian, dan celaan tersaji terang benderang di depan mata kita. Sehingga gibah dan fitnah nyaris meruntuhkan mazhab-mazhab kepantasan.

Di Indonesia, FB merasuki kehidupan masyarakat kelas bawah hingga kalangan jet set. Bahkan, kita menjadi salah satu negara pengguna FB terbesar di dunia. Hampir dipastikan setiap orang di desa dan kota yang terhubung internet memiliki akun FB. Malah kadang lebih dari satu.

Kehadiran FB membuat kita semakin dekat dengan orang-orang yang jauh. Kita dapat menyapa mereka dengan mudah bahkan melihat aktivitas kesehariannya.Tapi, sebaliknya, FB justru sering menjauhkan orang-orang yang dekat; duduk satu meja, satu rumah, bahkan satu kamar tidur, tapi tangan, mata dan hati mendekap gadget; bermain FB dan mengintip WhatsApp.

Dampak buruk lain FB adalah sebagian besar orang, bahkan pejabat penting di negeri ini, menjadikan wall FB sebagai ruang curhat, tempat berkeluh kesah, hujat menghujat, bahkan saling lempar makian. Ini sangat berdampak buruk bagi pemakainya, terutama mereka yang tidak bisa hidup tanpa FB.

Banyak orang jatuh "gila" kepada FB. Saking 'gilanya", mereka bisa tahu kehidupan teman-teman yang menetap ribuan kilometer di negeri seberang, tetapi lupa kehadiran orang-orang sekitar yang mereka cintai. Kita bahkan sering melihat orang-orang sibuk memberi like atau mengomentari status seseorang sampai tidak peduli keadaan suami, istri, anak, bahkan cucunya yang haus kehabisan susu .

Selain cuek dengan orang sekitar, pertengkaran terbuka juga acap kita jumpai di FB. Ini sering menyebabkan hubungan orang-orang renggang di kehidupan nyata. Padahal, pertengkaran di dunia maya seringkali disebabkan kesalahpahaman yang sebenarnya bisa diselesaikan baik-baik.

Dinding Ratapan

Mengapa FB begitu menyihir kehidupan nyata? Kata Ustad Abdul Somad, dinding FB itu mirip Dinding Ratapan Yahudi. Mengapa penemu FB menggunakan kata wall, yang artinya dinding, untuk ruang menulis status? Mengapa tidak menggunakan kata page yang berarti halaman? Ya, karena wall FB mirip dengan Dinding Ratapan Yahudi, tegas Ustad Abdul Somad.

Tembok Ratapan atau Dinding Ratapan adalah tempat penting dan dianggap paling suci oleh orang Yahudi. Wikipedia menulis tembok ini merupakan sisa dinding Bait Suci di Yerussalem yang dibangun Raja Herodes. Bait Suci itu hancur ketika orang-orang Yahudi memberontak kepada kerajaan Romawi pada 70 Masehi.

Aslinya, tembok ini memiliki panjang sekitar 485 meter. Kini, hanya tersisa 60 meter. Orang Yahudi percaya bahwa tembok ini tidak ikut hancur sebab di situlah bersemayam "Shekhinah" (kehadiran ilahi). Artinya, berdoa di situ sama dengan berdoa kepada Tuhan mereka.

Dulunya, tembok ini dikenal hanya sebagai Tembok Barat. Tetapi, kini disebut "Tembok Ratapan" karena di situ orang Yahudi berdoa dan meratapi dosa-dosa mereka dengan penuh penyesalan. Selain mengucapkan doa-doa mereka, orang Yahudi juga meletakkan doa mereka yang ditulis pada sepotong kertas, lalu disisipkan pada celah-celah dinding itu.

Tapi, di Indonesia, yang jaraknya 8.983 kilometer dari Tembok Suci Yahudi di Yerussalem, orang-orang kegandrungan bermain kata di Dinding Ratapan FB temuan Mark Elliot Zuckerberg. Bahkan tak sedikit yang berseteru hingga ke polisi.

Padahal, kita bukan orang yang perangainya selalu ingkar kepada Allah SWT; yang lebih memilih meratap-ratap di tembok setiap kali ada masalah. Meski, sesekali, atau mungkin sampai hari ini, perilaku Yahudi masih tersisa di kehidupanmu, Bang!

Komentar

Loading...