Duh, Tiga Istri Korban Lion Air Berebut Uang Asuransi

Duh, Tiga Istri Korban Lion Air Berebut Uang Asuransi
Keluarga korban kecelakaan berdoa bersama dan tabur bunga di lokasi jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 di perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat, Selasa, 6 November 2018 | TEMPO/Muhammad Hidayat

Ketiga istri tersebut saling berebut surat keterangan kematian sehingga menyebabkan aksi saling dorong. Kejadian ini mengundang keributan dan menarik perhatian pengunjung rumah sakit.

KBA.ONE, Jakarta - Salah seorang korban jatuhnya pesawat JT 610 memiliki lima istri. Tiga di antaranya berebut surat keterangan kematian sebagai salah satu syarat pencairan uang asuransi dari Lion Air. Menurut Humas Lion Group Ramaditya Handoko, manajemen menawarkan dua opsi penyelesaian uang asuransi kepada ahli waris korban.

"Pertama, kami akan mengupayakan diselesaikan secara kekeluargaan. Itu hal yang paling utama," ujar Rama, saat ditemui di Hotel Ibis Cawang, Jakarta, Kamis, 8 November 2018. Bila penyelesaian dengan cara ini menemui jalan buntu, manajemen Lion Group menempuh opsi kedua yaitu diselesaikan secara hukum. "Kami mempersiapkan tim pendamping secara hukum seperti notaris dan lawyers. Ini jika tidak menemukan titik temu, kami siapkan bantuan hukum," ujar Rama.

Sebelumnya, pada Selasa, 6 November 2018, terjadi kericuhan di Rumah Sakit Polri Kramat Jati, Jakarta Timur. Ada korban pesawat Lion Air JT 610 yang teridentifikasi, ternyata memiliki lima istri. Sebanyak tiga istri hadir saat mengambil surat keterangan kematian.

Ketiga istri tersebut saling berebut surat keterangan kematian sehingga menyebabkan aksi saling dorong. Kejadian ini mengundang keributan dan menarik perhatian pengunjung rumah sakit.

Lion Air berkomitmen memberikan asuransi Rp1,3 miliar kepada ahli waris korban Lion Air. Dari jumlah itu, sebesar Rp1,25 miliar adalah asuransi pokok dan Rp50 juta asuransi bagasi.

Untuk mendapatkan pencairan klaim asuransi, keluarga korban Lion Air harus menyediakan delapan dokumen syarat yaitu: KTP seluruh ahli waris, akta kelahiran seluruh ahli waris, akta kelahiran penumpang, akta perkawinan orang tua penumpang, akta perkawinan penumpang, kartu keluarga penumpang dan ahli waris, akta kematian penumpang dan surat keterangan ahli waris.

Senin pekan lalu, sebanyak 20 jenazah korban kembali teridentifikasi oleh tim Disaster Victim Identification (DVI) di Rumah Sakit Polri. Keduapuluh korban yang berhasil teridentifikasi tersebut adalah hasil pemeriksaan pada 186 kantong jenazah yang tiba dan diperiksa di Rumah Sakit Polri Raden Said Sukanto, sejak Senin, 29 Oktober 2018.

Identifikasi dilakukan dengan mengambil 609 sampel DNA postmortem dan 256 sampel antemortem dengan terverifikasi 189 sampel dari pihak para keluarga korban. Pesawat Lion Air JT 610 tipe Boeing 737 Max 8 bernomor registrasi PK-LQP, mengalami kecelakaan dan Jatuh di perairan Tanjungpakis Kabupaten Karawang, Jawa Barat, pada Senin 29 Oktober 2018, setelah sebelumnya hilang kontak sejak pukul 06.33 WIB.

Komentar

Loading...