Duka Ramadan di Jalur Gaza - Dunia - Kantor Berita Aceh (KBA)

Duka Ramadan di Jalur Gaza

Duka Ramadan di Jalur Gaza
Layanan medis ACT di Jalur Gaza. | Foto: ACTNews.

KBA.ONE, Gaza - Asap tebal berjejak di langit Gaza, menyusul dentuman keras suara ledakan. Malam tadi, Selasa 29 Mei 2018 di detik-detik waktu berbuka puasa, jelang azan Maghrib di Ramadan hari ke-13, Gaza kembali mendapatkan serangan dari Zionis Israel. Melansir sejumlah media lokal Gaza, lebih dari 20 serangan terjadi di berbagai daerah di Gaza dalam kurun waktu dua jam.

Dua macam senjata berat, rudal yang dikendalikan dan jet tempur Israel dilaporkan membombardir Jalur Gaza setelah mereka mengklaim telah diserang dengan 25 peluru mortir. Senjata berat Israel menyasar kawasan yang diduga menjadi markas kelompok yang dituding Israel sebagai pelaku penyerangan mortir.

Namun, setelah diusut lebih jauh, serangan dari dalam Gaza itu pun sebenarnya terjadi karena dipicu tindakan barbar militer Israel. Sehari sebelumnya, atau Senin 28 Mei 2018, sebuah tank milik pasukan Israel menembak seorang warga Palestina yang mendekati pagar perbatasan Gaza-Israel.

Imbas dari aksi balas membalas serangan itu, dalam dua hari terakhir, Zionis Israel gencar membombardir beberapa titik sekaligus di Jalur Gaza. Sampai laporan ini diturunkan, Selasa 29 Mei 2018, tercatat empat orang syahid imbas lemparan bom dan senjata berat oleh Israel itu. Mereka di antaranya satu orang warga sipil dan tiga anggota kelompok politik di Gaza.

Bahkan kabar terkini, hingga selepas azan Maghrib, Selasa kemarin, situasi di Jalur Gaza kembali tegang. Mitra Aksi Cepat Tanggap yang berada di Gaza mengirimkan pesannya, mengabarkan peperangan diduga bisa bertambah besar dan bisa meletus kapan saja. 

Serangan Israel di Jalur Gaza. | Foto: ACTNews.

Gaza telah berada di bawah blokade yang diberlakukan Israel selama 11 tahun terakhir. Sejak 2007, seluruh wilayah Gaza diblokade total. Dari sisi laut di Barat Gaza, tak ada yang boleh melintas dalam radius di luar 6 mil laut. Sementara di Utara, Timur, dan Selatan Gaza gerbang perbatasan membatasi. Menjadikan Gaza sebagai sebuah penjara raksasa.

Selama 11 tahun terakhir, masyarakat Palestina yang mengungsi di Tanah Gaza mengalami keterbatasan akses untuk memenuhi kebutuhan mereka setiap harinya. Tak memiliki pekerjaan, sebagian lainnya tak memiliki rumah untuk menetap. Belum lagi dengan krisis kekurangan pangan, krisis air bersih, bahkan terpaksa melakukan aktivitas tanpa adanya sumber listrik. Listrik di Gaza pun hanya menyala tak lebih dari 6 jam setiap harinya.

Gaza juga menyaksikan beberapa konflik, catatan paling terkenang adalah perang Gaza dan Israel pada 2014 silam. Perang 50 hari itu menewaskan sedikitnya 2.251 warga Palestina, sebagian besarnya adalah warga sipil. Tidak sebanding dengan tewasnya 66 tentara dan enam warga sipil dari Israel. 

Gemuruh emosi dari warga Gaza pun belum lama ini terangkum dalam tujuh pekan aksi Al-Awdah March di sepanjang perbatasan Gaza. Puncaknya di hari Nakba Day 15 Mei lalu, menandai 70 tahun sejak pertama kali Israel melakukan penindasan dan pengusiran paksa atas warga Palestina di atas tanah Palestina tahun 1948 silam.

Selama tujuh pekan beraksi di sepanjang perbatasan Gaza, warga Gaza ditembaki dan dihujani gas air mata. Kementerian Kesehatan Palestina mengatakan, sedikitnya 113 warga Palestina wafat, kemudian 12.000 orang lainnya mengalami luka-luka.

Kini, di Indonesia yang baik-baik saja, hari Ramadan terus bergulir. Nyaris sempurna, tanpa ada masalah besar yang sedang dihadapi. Sementara di Gaza yang porak-poranda dan terjajah, serangan demi serangan terjadi tanpa henti sejak malam tadi. Dengan cara apapun, lekas kirimkan doa terbaik dari Indonesia untuk Gaza. Semoga Gaza tak lagi berduka.

Komentar

Loading...