Ekses Jembatan Gantung Jatuh, Siswa Naik Rakit ke Sekolah

Ekses Jembatan Gantung Jatuh, Siswa Naik Rakit ke Sekolah
Anak-anak Desa Alue Keumang saat menaiki rakit penyeberangan |Foto: Revina Rahayu

KBA.ONE, Aceh Barat - Berjuang demi cita-cita, itu mungkin salah satu kata yang cocok kita sematkan untuk anak-anak Desa Alue Keumang dan Babah Lueng, Kecamatan Pante Ceureumen, Aceh Barat.

Pasalnya, paska jatuhnya jembatan gantung Alue Keumang penghubung antar desa di wilayah setempat pada Selasa malam, 11 Desember 2018, membuat anak-anak desa Alue Keumang dan Babah Lueng yang ingin ke Sekolah di Desa Menuang Kinco harus menaiki rakit penyeberangan.

Zulhilmi, 14 tahun, salah seorang siswa Sekolah Menengah Pertama, Kamis, 21 Maret 2019, mengaku setelah jatuhnya jembatan gantung akibat dihantam banjir beberapa waktu membuat siswa yang ingin bersekolah ke Menuang Kinco harus menggunakan jalan alternatif lain.

“Salah satunya naik rakit seperti ini,” sebutnya.

Jika tidak ada yang mengemudikan rakit tersebut, lanjutnya, mereka terpaksa menggunakan alternatif lain yakni melewati jalan Irigasi Lhok Guci yang jarak tempuhnya lebih jauh dan sepi.

“Tak ada pilihan, kalau mau ke sekolah naik rakit atau lewat jalan Irigasi Lhok Guci yang lebih jauh, kalau tidak seperti itu ya tidak bisa sekolah,” ujarnya.

Hal serupa disampaikan Pipi Yanti, Guru Sekolah Dasar (SD) Alue Keumang. Ia mengaku saban hari harus menaiki rakit penyeberangan yang disediakan oleh Desa untuk menuju Alue Keumang.

“Selain risiko, tentunya kita juga harus mengeluarkan biaya lebih untuk membayar jasa rakit tersebut,” katanya.

Untuk jasa penyeberangan menggunakan rakit, ia harus merogoh kocek Rp5 ribu rupiah jika membawa sepeda motor. Namun, jika jalan kaki hanya Rp 2 ribu rupiah. Bukan hanya soal biaya tapi risikonya juga besar, rakit yang disediakan tidak menggunakan mesin tapi menggunakan pedal yang dipasangkan pada seutas tali.

“Jika pedalnya pecah ya otomatis rakitnya akan hanyut terbawa arus, apalagi arus sungai ini lumayan deras. Bisa dibayangkan bagaimana kami disini,” jelasnya.

Dia mengatakan tak jarang setiap ke sekolah ia harus menunggu pengemudi rakit sampai memakan waktu hampir satu jam. Otomatis, sambungnya, efektifitas waktu mengajar itu sangat terganggu.

“Kadang sudah tunggu lama pengemudi rakitnya tidak datang, saya terpaksa harus lewat jalan irigasi yang lebih jauh,” terangnya.

Ia berharap pemerintah segera membangun jembatan gantung penghubung antar desa tersebut. Pasalnya itu menjadi alternatif terdekat bagi masyarakat yang ingin menuju Desa Alue Keumang atau Keluar dari Desa Alue Keumang menuju pusat kecamatan Pante Ceureumen dan pusat kabupaten.

Di sisi lain, putusnya jembatan penghubung antar desa tersebut juga berdampak pada perekonomian warga setempat. Hal tersebut diungkapkan Nuraidah, salah seorang warga.

Ia mengatakan dampak dari putusnya jembatan tersebut sangat dirasakan dari naiknya harga jual sembako di desa setempat. Baik itu bahan dapur dan sayur mayur, harga ikan yang dibawa penjual juga naik.

Selain mahal, penjual ikannya juga jarang masuk ke desa ini. Sehingga, jika kami ingin makan ikan terpaksa harus keluar ke Desa Menuang Kinco,” terangnya.

Tak hanya itu, akses untuk mengeluarkan hasil pertanian juga sangat sulit. Selain medan yang ditempuh jauh, juga karena harus mengeluarkan biaya lebih mahal.

“Kalau bawanya naik rakit harus bayar, kalau lewat jalan Irigasi  Lhok Guci jauh sekali dan harus mengeluarkan biaya lebih besar juga,” cetusnya.

“Semoga jembatan ini segera dibangun kembali. Kami ini juga warga Aceh Barat, berada di desa pelosok yang membutuhkan perhatian,” sambungnya

Dihubungi terpisah, Plt Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Bukhari, melalui sambungan telepon mengatakan pembangunan jembatan gantung penghubung antar desa tersebut akan dilakukan pada 2020 menggunakan Dana Otonomi Khusus Aceh (Doka).

Jembatan gantung Alue Keumang, yang menghubungkan Desa Alue Keumang dan Babah Lueng dengan Desa Meunuang Kinco tersebut, jatuh pada Selasa malam, 11 Desember 2018, setelah pengetokan palu pengesahan Anggaran Pendapatan Belanja Kabupaten (APBK) tahun 2019.

“Pembangunan kembali jembatan tersebut akan dilakukan pada 2020 nanti menggunakan Doka,” tutupnya.

Komentar

Loading...