Dibangun Menggunakan Dana DOKA

Gedung Napza dan RS Jiwa di Aceh Barat Terkesan Ditelantarkan

Gedung Napza dan RS Jiwa di Aceh Barat Terkesan Ditelantarkan
Gedung Panti Rehabilitasi Pecandu Napza di Aceh Barat. | KBA.ONE: Revina Rahayu.

Kondisi bangunan yang menelan anggaran belasan miliar rupiah itu, kini dijadikan tempat persinggahan hewan ternak.

 KBA.ONE, Aceh Barat – Delapan bangunan yang diperuntukkan sebagai Panti Rehabilitasi Pecandu Narkotika, Psikotrapika dan Zat Adiktif (Napza) dan Rumah Sakit Jiwa di Aceh Barat, hingga kini terkesan diterlantarkan.

Gedung tersebut dibangun menggunakan Dana Otonomi Khusus Aceh (DOKA) tahun 2016-2017, berlokasi di atas lahan gambut di Desa Beureugang, Kecamatan Kaway XVI, Aceh Besar. Sejak selesai dibangun, gedung itu belum difungsikan dan kini sudah tampak mulai rusak serta ditumbuhi semak.

“Terlihat dindingnya sudah mulai retak, keramik terkelupas. Untuk menuju gedung hanya ada jalan setapak,” kata Koordinator Gerakan Anti Korupsi (GeRAK) Aceh Barat, Edy Syah Putra, Selasa, 12 Maret 2019.

Kondisi bangunan yang menelan anggaran belasan miliar rupiah itu, menurut Edy, dijadikan tempat persinggahan hewan ternak. Sebab menurutnya, gedung itu dibangun jauh dari pemukiman warga dan tidak memiliki pagar.

Edy menyayangkan sikap pemerintah yang seakan tutup mata terhadap kondisi bangunan yang menelan biaya sangat fantastis itu. Kata Edy, bangunan yang bersumber dari dana Otsus itu, pagu anggarannya mencapai Rp 13,5 miliar.

“Kita sangat menyayangkan, dengan anggaran yang cukup besar itu tapi gedungnya sampai saat ini belum difungsikan” lanjut Edy.

Edy berharap agar pemerintah segera melanjutkan pembangunan pagar dan hal lainnya untuk kelengkapan gedung tersebut. Seharusnya, sambung Edy, aset daerah yang dibangun menggunakan dana Otsus itu, dimanfaatkan dengan baik.

“Bukan hanya dibangun menghabiskan uang begitu besar dan dibiarkan rusak begitu saja. Dana otsus sama dengan uang rakyat,” tegasnya.

Sementara itu Kepala Dinas Kesehatan Aceh Barat, Teuku Ridwan, mengakui bahwa gedung yang selesai dibangun pada 2017 tersebut sampai saat ini belum difungsikan.

“Gedungnya memang belum difungsikan, bukan berarti kita tidak peduli dan tutup mata,” ujarnya kepada KBA.ONE melalui sambungan telepon.

Untuk pembangunan gedung dengan fasilitas lengkap, lanjutnya, tentu membutuhkan tahapan pembangunan. Dimulai dengan pembangunan fisik, kemudian mobiler dam kebutuhan alat lainnya untuk operasional. “Tidak ada pembangunan yang selesai dalam satu tahap, semua butuh proses,” timpalnya

Diakuinya, Dinas Kesehatan pada tahun 2019 ini telah mengalokasikan dana untuk pembangunan pagar di sekeliling gedung tersebut. Juga akan dilakukan penimbunan ulang di halaman kedelapan gedung tersebut.

Selain itu, yang paling penting untuk menjalankan rumah sakit dan panti rehabilitas tersebut adalah ketersediaan sumber daya manusia (SDM) yang layak dan berkompeten di bidangnya. ***

Komentar

Loading...