Ini Dia Perusahaan “Langganan” Pemenang Proyek Hibah APBK Tamiang

Ini Dia Perusahaan “Langganan” Pemenang Proyek Hibah APBK Tamiang
Suhaji, Penggiat Antikorupsi Aceh Tamiang. | KBA.ONE: Trisno

Dalam rentang 2017-2019, satu perusahaan bisa memenangkan tender proyek dana hibah instansi vertikal hingga berkali-kali di tempat yang sama.

KBA.ONE, Aceh Tamiang -  Iklim pelelangan (tender) proyek tak sehat di lingkup Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang, hingga Juli 2019 ini, masih menjadi perbincangan hangat dan isu sentral. Bahkan, persaingan antar rekanan, baik lokal maupun luar daerah, untuk memenangkan proses tender proyek di  daerah itu terus memuncak dan menjurus saling sikut.

Tapi anehnya, dari sekian banyak rekanan di Aceh Tamiang, ada beberapa rekanan yang posisi perusahaannya terus “bertengger” di atas sebagai pemenang proyek miliaran rupiah di dua lembaga vertikal seperti Mapolres dan Kejaksaan Aceh Tamiang. Dana proyek itu bersumber dari alokasi dana hibah Anggaran Pendapatan Belanja Kabupaten (APBK) Aceh Tamiang tahun 2017 hingga 2019.

Perusahaan dimaksud, seperti data yang diperoleh KBA.ONE, adalah CV. Seulanga, beralamat di Dusun Inpres, Kampung Bundar, Kecamatan Karang Baru Aceh Tamiang, dan CV. Mutiara Jaya Abadi (CV MJA), beralamat di Dusun Sa'adah, Kampung Kota Lintang, Kecamatan Kota Kualasimpang, Aceh Tamiang.

Pada alokasi dana hibah APBK Aceh Tamiang tahun 2017, CV Seulanga memenangkan tender proyek Pembangunan Gedung Reskrim Polres Aceh Tamiang dengan nilai anggaran Rp 1,4 miliar  yang dianggarkan melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Aceh Tamiang.

Kemudian pada hibah ABPK Aceh Tamiang 2018, perusahaan (CV. Seulanga, red) itu juga memenangkan  tender proyek Lanjutan Pembangunan Pagar Polres Aceh Tamiang dengan nilai anggaran Rp 464.000.000,- yang dianggarkan melalui Dinas PUPR Aceh Tamiang.

Pada hibah APBK Aceh Tamiang tahun 2019, CV Seulanga lagi-lagi memenangkan tender proyek Lanjutan Pembangunan Pagar Polres setempat, dengan nilai anggaran Rp 675.000.000, yang dianggarkan melalui Dinas PUPR Aceh Tamiang.

Sementara CV. Mutiara Jaya Abadi (CV MJA), pada alokasi dana hibah ABPK Aceh Tamiang tahun 2019,  mengerjakan Pengadaan Langsung (PL) pada proyek Pemasangan Paving Block Kantor Kejaksaan Negeri (Kejari) Aceh Tamiang, senilai Rp 199.000.000,- di Dinas PUPR Aceh Tamiang

Pada alokasi dana hibah APBK Aceh Tamiang tahun 2019, perusahaan tersebut memenangkan tender proyek Pembangunan Saluran Beton Lingkungan Rumah Dinas Kejari Aceh Tamiang, senilai Rp 560.000.000,- di Dinas PUPR Aceh Tamiang.

Tak berhenti di situ,  CV MJA juga memenangkan proyek Pembangunan Pagar Kejari Aceh Tamiang, senilai Rp 924.000.000, yang dianggarkan melalui Dinas PUPR Aceh Tamiang. Kemudian tiga proyek Pengadaan Langsung (PL) berasal dari dana hibah APBK Aceh Tamiang, Dinas PUPR Aceh Tamiang, yakni Pembuatan Tempat Parkir Kejaksaan Negeri (Kejari) Aceh Tamiang senilai Rp 199.000.000, Revitalisasi Gedung Polsek Bendahara, senilai Rp 199.000.000, serta proyek Rehab Sarana dan Prasarana Pendukung Polsek Bendahara senilai Rp 150.000.000,-.

Masih dari data yang diperoleh, ada perusahan memiliki alamat sama dengan CV MJA, yakni CV. Mita Jaya, juga beralamat di Dusun Sa'adah, Kampung Kota Lintang, Kecamatan Kota Kualasimpang, Aceh Tamiang, pada hibah APBK Aceh Tamiang tahun 2019, memenangkan tender proyek Pembuatan Parit Pasangan Batu Gunung Polres Aceh Tamiang, senilai Rp 1.360.000.000, di Dinas PUPR Aceh Tamiang.

Kemudian CV Mita Jaya mendapatkan tiga proyek PL masing - masing Pembangunan Beton Kejari Aceh Tamiang senilai Rp 120.000.000,- di Dinas PUPR Aceh Tamiang, Pengadaan Lampu Lampu Plank Nama Polres Aceh Tamiang dan Papan Nama Ruang senilai Rp 99.000.000,- di Dinas PUPR Aceh Tamiang dan Pengadaan Mobiler dan Komputer untuk Polsek Bendahara, senilai Rp 198.000.000, yang dianggarkan pada Kesbanpol  Aceh Tamiang.

Sementara proyek Pembangunan Gedung  Barang Bukti Kantor Kejari Aceh Tamiang, senilai Rp 5.470.000.000,- dimenangkan oleh PT Tamita Lagena Jaya,  beralamat di Jalan Hajar, Dusun Sepakat, No 97, Gampong Belang Seunebuk Langsa Kota, Aceh, pada Dinas PUPR Aceh Tamiang.

Kemudian Pembangunan Sarana Olahraga Multifungsi Polres Aceh Tamiang, senilai 890.000.000,- hibah APBK Aceh Tamiang, dimenangkan CV. Attariq Beujaya beralamat di Jalan Hajar, Dusun Sepakat, No 97, Gampong Belang Seunebuk Langsa Kota, Aceh, dianggarkan melalui Dinas PUPR Aceh Tamiang. Kedua perusahaan tersebut diduga telah disewa oleh pemilik CV Mutiara jaya Abadi.

Proyek Lanjutan Pembangunan Interior Ruangan Kapolres Aceh Tamiang, senilai Rp 370.000.000, dan proyek Pembangunan Gedung Primkopol Polres Aceh Tamiang, senilai Rp 465.000.000, berasal dari hibah APBK Aceh Tamiang, tahun 2019, dimenangkan oleh CV. Tumbuk Lada, beralamat di Dusun Gelugur, Kampung Johar, Karang Baru, Aceh Tamiang, yang dianggarkan melalui Dinas PUPR Aceh Tamiang, diduga merupakan group CV. Seulanga.

Selanjutnya proyek Pembangunan Landscape Kejari Kualasimpang, berasal dari hibah APBK Aceh Tamiang, tahun 2018, senilai Rp 2.790.000.000,- di menangkan oleh PT. Putra Tsarayq Perkasa, beralamat di Jalan Sultan Mohd Daud Dusun III, Kapong Daulat, Langsa Kota, Aceh, dan pada hibah APBK tahun 2019, perusahaan tersebut kembali memenangkan proyek Penimbunan Halaman Belakang Polres Aceh Tamiang, senilai Rp 2.820.000.000,-.

Diduga Ada Persekongkolan

Melihat rangkaian data yang tertera di atas, terkait sejumlah perusahaan yang memenangkan proyek hibah APBK Aceh Tamiang, baik dari tahun 2017 hingga 2019, maupun dari 2018 hingga 2019, membuat Suhaji, penggiat antikorupsi Aceh Tamiang angkat bicara. Dia mencurigai adanya ketidakberesan dan dugaan persekongkolan dalam proses tender. Sebab, ada sejumlah perusahaan dari 2017 hingga 2019, terus memenangkan tender proyek pada hibah APBK Aceh Tamiang.

"Sepertinya ada ketidakwajaran pada pelelangan proyek dana hibah APBK Aceh Tamiang dari tahun 2017 hingga 2019. Sebab, perusahaan yang menang tender itu-itu saja. Apa sudah ada yang mengarahkan? Sehingga dalam dua tahun belakangan pemenang proyek di instansi vertikal itu hanya CV Seulanga,  CV Mutiara Jaya Abadi, CV Tumbuk Lada, dan PT Putra Tsarayq Perkasa saja," terang Suhaji alias Ajie Lingga kepada KBA.ONE, Rabu, 17 Juli 2019, di Karang Baru.

Suhadi mengaku prihatin melihat realita dunia usaha di Aceh Tamiang. Jika kondisi persaingan tidak sehat ini terus dibiarkan, ini sangat merugikan dan bisa mematikan rekanan lainnya. "Kalau itu-itu saja yang memenangkan tender, lalu nasib rekanan lain bagaimana? Ini kan tidak adil!” kata Aji Lingga sapaan akrab Suhaji.

Apalagi, tambah Suhaji, dalam data yang diperoleh, ada perusahaan yang berdomisili di luar Aceh Tamiang, yakni Kota Langsa, memenangkan tender proyek hibah APBK Aceh Tamiang. Padahal, menurut informasi, tambah Aji Lingga,  perusahaan tersebut tidak memiliki kantor cabang di Aceh Tamiang.

 Jika info ini benar, katanya, tindakan itu melanggar Peraturan Bupati (Perbup) Nomor 4 tahun 2018, tentang kewajiban pendaptaran wajib pajak dan/atau pelaporan usaha sebagai pengusaha kena pajak bagi pelaku usaha yang melakukan usaha dan/atau pekerjaan di Kabupaten Aceh Tamiang.

"Bila benar begitu, berarti panitia pelelangan proyek sudah mengangkangi Peraturan Bupati Nomor 4 tahun 2018," terang Aji.

Aji Lingga meminta agar pihak Kejaksaan Tinggi (Kejati) Aceh dan Kepolisian Daerah (Polda) Aceh, maupun Komisi Pemerantasan Korupsi (KPK) untuk menurunkan tim pemeriksaan dan memanggil pihak - pihak yang terkait dalam pelelangan proyek dana hibah APBK Aceh Tamiang tersebut.

"Kita berharap ke depan tidak terjadi lagi dugaan persekongkolan seperti ini lagi agar kehidupan dunia usaha di Aceh Tamiang lebih sehat dan profesional,” harap Aji Lingga.

Mengomentari soal di atas, Kepala Unit Layanan Pengadaan (ULP) Aceh Tamiang, Dede Arfan, kepada KBA.ONE, baru - baru ini menjelaskan proses lelang dan menentukan pemenang tender itu merupakan bagian dari Kelompok Kerja (Pokja) Pelelangan, bukan kewenangan dirinya. "Coba tanyakan pada pihak Pokja saja. Soal pelelangan itu ranahnya Pokja," saran Dede Arfan.

Ilham, salah seorang anggota Pokja pelelangan proyek di Pemda Aceh Tamiang, ketika dikonfirmasi KBA.ONE, menjelaskan bahwa dia tidak menangani pelelangan proyek hibah APBK Aceh Tamiang, tapi Harun, rekan sesama Pokja. Cuma anehnya, Ilham mengaku tidak memiliki nomor kontak Harun meski itu rekan satu kelompok kerja.

Hingga berita ini ditayang, Harun (pejabat Pokja) pelelangan tidak bisa dikonfirmasi. Sejumlah pihak yang dihubungi KBA.ONE mengaku tidak memiliki nomor kontak dan tidak mengetahui keberadaan Harun. “Orang Pokja pelelangan memang begitu, terkesan menutup diri,” kata salah seorang rekanan kepada KBA.ONE.

Direktur CV Mutiara Jaya Abadi,  Syaiful Bahri alias Popon, pemenang “langganan” proyek dana hibah hingga miliran rupiah, hanya berkomentar singkat. “Ya, itu perusahaan saya,” jawab Popon ketika dikonfirmasi KBA.ONE via telepon selular, Kamis 18 Juli 2019.

Popon tidak memberi penjelasan lanjutan dan mendadak memutuskan komunikasi yang tengah berlangsung. Bahkan, dia juga tidak menjawab pertanyaan susulan yang dikirim KBA.ONE lewat layanan pesan WhatsApp.| TRISNO,  Kontributor  KBA.ONE Aceh Tamiang.

Komentar

Loading...