Jalan Hidup Mulya Menjadi Mulia

Jalan Hidup Mulya Menjadi Mulia
Mulya relawan ACT asal Aceh |Foto: Icha KBA.ONE

KBA.ONE, Lombok - Mulya adalah sapaan akrab teman-temannya. Anak ke- 4 dari pasangan M Yusuf dan Yusra ini lahir di Desa Bugak, Kecamatan Krueng Matee, Bireuen. Pria tangguh ini berperawakan tinggi, kulit sawoe matang, dan mata sipit. Dialah relawan ACT asal Aceh yang masih bertahan di Lombok.

 Sejak 5 Agustus 2018, ketika gempa bumi meluluhlantakkan Lombok, Nusa Tenggara Barat, pilihan hati Mulya memutuskan untuk bisa membantu korban gempa di sana. Dengan sigap, tanpa unsur paksaan, ia mengajukan diri sebagai relawan Lombok di sebuah rumah sakit di Jakarta. Sayang, harapan itu sempat pupus karena kabar keberangkatannya tak jelas.
 
Akhirnya, Mulya memilih untuk mengajukan diri ke Aksi Cepat Tanggap (ACT) Aceh. Ia pun dinyatakan lulus dan diterima menjadi relawan ACT. Dengan hati riang gembira, Mulya berangkat ke Lombok. 

Pria 25 tahun ini pun lantas mengundurkan diri dari tempatnya bekerja dan fokus menjadi relawan.
Sebelumnya, alumnus STIKES Bina Bangsa, Darussalam, Banda Aceh, ini bekerja sebagai staf akademik di kampusnya. 

Termasuk Mulya, saat itu, ACT Aceh mengirimkan 5 relawannya untuk diberangkatkan ke Lombok. Tapi, hingga kini, hanya Mulya dan rekannya Ilham yang masih tersisa dan bertahan.

Mulya sedang membersihkan reruntuhan bekas gempa | Foto: Icha KBA.ONE



Mulya mengaku sangat tertarik dan mencintai pekerjaan barunya menjadi relawan. Ia senang bisa membantu sesama. “Saya memang suka. Gimana bilangnya, ya, pokoknya suka dari hati,” kisah lelaki berhidung mancung itu kepada KBA.ONE, 28 September 2018.

Kecintaanya membantu orang lain, memang, membuat ia tidak pernah luput berada di daerah terkena bencana di negeri ini. Pengabdian untuk sesama ia tunjukkan walau ia dalam kondisi sakit sekalipun.

“Saat gempa di Pidie Jaya, saya juga ada ikut jadi relawan. Kondisi saat itu saya masih patah bahu akibat jatuh saat mengendarai sepeda motor.  Saat itu saya belum gabung di ACT dan ACT belum ada di Aceh,” kenang Mulya.
 
Bagaimana bisa tertarik menjadi relawan? Pengakuan Mulya, ia terinspirasi ketika sedang menunaikan ibadah salat Jumat. Saat itu, khatib mengatakan, “kalau kita membantu orang maka Allah akan membantu urusan kita.” Penggalan kalimat itu kemudian menggugah dan membakar jiwa semangat kemanusian Mulya.
 
Dan ia pun memutuskan menjadi relawan. Bahkan, Mulya merasa betah di Lombok sejak tugas pertamanya di Desa Bayan, Kecamatan Bayan, Lombok Utara.
 
“Masyarakat Aceh dan Lombok  sama-sama ramah. Bedanya terletak pada bahasa dan kepercayaan karena saya tinggal di daerah Lombok Utara yang dekat Gunung Rinjani. Saya sering melihat masyarakat Hindu di sini dan itu menjadi pemandangan baru bagi saya,” ujarnya.

Bagi Mulya, gempa Lombok adalah pintu masuk untuk terus bertahan mencintai pekerjaannya sebagai relawan ACT. Dan kini Mulya, lelaki berhati mulia, itu telah menemukan jalan hidup bahagia bersama para penyintas korban gempa di Lombok Utara. | Nurnisa, Lombok Utara

Komentar

Loading...