Kaki Palsu untuk Penyandang Disabilitas Palestina

Kaki Palsu untuk Penyandang Disabilitas Palestina
Dokter membantu memasang kaki palsu kepada seorang pemuda Gaza | Foto: ACTNews

KBA.ONE, Gaza - Seiring semakin berkobarnya api konflik di Gaza, populasi rakyat Palestina yang menyandang disabilitas pun meningkat tajam. Banyak dari mereka terpaksa kehilangan anggota tubuh akibat terkena fosfor yang digunakan Zionis selama perang. Akibatnya, hingga sekarang total penyandang disabilitas di Gaza sudah melebihi 44.000 jiwa. Sebanyak 19.350 di antaranya adalah mereka yang mengalami cacat motorik.

Nahasnya, penderitaan mereka semakin buruk karena tidak adanya sarana untuk memperoleh alat bantu sebagai proses rehabilitasi. Sebab itu, upaya menyediakan anggota tubuh buatan merupakan langkah penting bagi penyandang disabilitas di Gaza. Ini agar mereka bisa memenuhi kebutuhan secara mandiri, juga dapat melakukan pekerjaan sesuai dengan kemampuan mereka masing-masing.

Direktur Global Humanity Response (GHR) - Aksi Cepat Tanggap Bambang Triyono mengatakan, ACT pun menginisiasi pelayanan melalui program Pemasangan Anggota Tubuh untuk rakyat Palestina yang menyandang disabilitas di Gaza. Ada sebanyak 6 kaki palsu untuk 6 rakyat Palestina yang kehilangan satu kakinya ketika perang.

“Kami berharap inisiasi program ini bisa memberikan manfaat bagi para penyandang. Semoga sedikit banyak bisa meringankan beban para penyandang dalam menjalani hidup nantinya,” ujar Bambang.

Menurut Bambang, bantuan kali ini berbeda dengan bantuan penyandang disabilitas yang biasa dilakukan ACT. Program Pemasangan Anggota Tubuh memakan waktu sekitar 3 bulan. Para penerima manfaat harus menjalani tiga tahapan yang berkelanjutan. Pertama, dokter yang membantu akan melakukan pengukuran anggota tubuh penyandang, yang dalam hali ini adalah kaki. Setelah pengukuran sudah dirasa pas, maka pembuatan kaki palsu pun dimulai. Biasanya memakan waktu hingga satu bulan lebih.

“Setiap anggota tubuh yang dibuat, berbeda satu sama lain, sehingga kebutuhan setiap pasien berbeda. Jadi, mengukurnya juga harus satu per satu, harus menyesuaikan ukuran masing-masing penyandang. Setelah mengukur baru proses pembuatan dilakukan,” papar Bambang.

Apabila prose pembuatan telah selesai, para penyandang akan melakukan fitting dan penyesuaian. Mereka akan mendapat pendampingan untuk menjalani fisioterapi. Tujuannya agar mereka terbiasa ketika memakai kaki palsu miliknya. “Jadi, tidak hanya pemberian saja, mereka juga diberi pendampingan supaya mereka merasa nyaman dan aman menggunakannya. Semoga dapat membantu mereka, juga menumbuhkan semangat mereka lagi dalam menjalani hidup,” pungkas Bambang.

Komentar

Loading...