Kala Wakaf Menjadi Instrumen Konservasi

Kala Wakaf Menjadi Instrumen Konservasi
Afrizal Akmal dan Azhar. Foto: dokumentasi Hutan Wakaf.

Mereka membeli lahan kritis. Lahan ini kemudian dihijaukan kembali untuk mengembalikan fungsi hutan secara ekologis.

KBA.ONE, Banda Aceh - Syamsul Rizal tak terlihat lelah meski berjalan jauh menembus hutan. Handuk hijau kecil yang dikalungkan di lehernya benar-benar bermanfaat untuk menghapus keringan yang mulai membasahi kening dan tengkuknya. 

Ini adalah perjalanan pertama Wakil Rektor Universitas Islam Negeri Ar-Raniry itu ke Hutan Wakaf, Sabtu pekan lalu. Hutan ini berada di kawasan Jantho, Aceh Besar. Di sini, Syamsul melihat langsung upaya penyelamatan hutan. Bahkan dia ikut menanami pohon di atas lahan kritis itu. 

"Saya bangga berdiri di Hutan Wakaf, saat ini," kata Syamsul. 

Profesor Syamsul Rizal di Hutan Wakaf.

Sabtu lalu menjadi momentum menggembirakan bagi gerakan sosial konservasi lingkungan itu. Hutan Wakaf baru saja membeli hektare ketiga dan keempat, lokasinya berdampingan dengan hektare pertama dan kedua. Kali ini, prosesnya berbeda karena pemilik lahan langsung mendatangi Eko Wisnu Abadi, juru kunci Hutan Wakaf yang tinggal di Jantho, untuk menjual lahan mereka.  

"Insya Allah akan ada hektare kelima, keenam dan seterusnya," kata Azhar, salah satu inisiator Hutan Wakaf dan seorang pemerhati satwa liar. Azhar tinggal di Aceh Besar.

Ini adalah upaya menjamin tersedianya sumber daya hutan bagi generasi di masa depan. Sejak 2012, gerakan ini membuat sebuah inisiatif konservasi secara langsung melalui pembelian lahan kritis.

Keluarga Besar Hutan Wakaf juga kerap menghabiskan waktu liburan di sini. Selain menanam pohon, mereka juga gandrung menikmati aliran sungai jernih yang berada persis di tepi hutan. Sesekali waktu, tergantung "kantong" dan kondisi air, mereka menyewa perahu karet untuk bermain rafting

Razuardi, seniman Aceh yang menjadi Sekretaris Daerah Aceh Tamiang. Foto: dokumentasi HW.

Lahan ini kemudian dihijaukan kembali untuk mengembalikan fungsi hutan secara ekologis, baik sebagai sumber mata air, maupun sebagai penyerap karbon, ketersediaan buah-buahan dan tanaman obat, bahkan kayu untuk papan keranda, tempat bersarangnya burung-burung, lebah madu, primata dan spesies lainnya.

Inisiator lainnya adalah Afrizal Akmal. Pria ini adalah seorang seniman yang terjun ke dunia bisnis. Sehari-hari, dia banyak beraktivitas di bengkel sablonnya yang sejuk, di kawasan Pango, Banda Aceh. 

“Sebenarnya gerakan ini sebagai bentuk perlawanan terhadap kepentingan kapital yang semakin tinggi akan lahan. Banyak status hutan dan lahan berubah fungsi. Hal itu telah memberi tekanan yang lebih serius terhadap hutan yang seharusnya terjaga kelestariannya," kata Akmal, Selasa, 13 Februari 2018.

Kampanye Hutan Wakaf hingga keluar negeri. 

Lantas, dengan dukungan kawan-kawan yang seide, kata Akmal, mereka berinisiatif untuk melakukan konservasi dengan instrumen wakaf. Mereka mengumpulkan uang, sedikit demi sedikit, lewat sebuah rekening di Bank Mualamat dan membeli lahan-lahan kritis untuk dihijaukan kembali.

Total donasi yang masuk hingga 8 Februari 2018 tercatat sebanyak Rp 68,7 juta. Mereka yang berniat berwakaf dapat mengiriman uang ke rekening di bank itu atau lewat penjualan kaos dan pernak-pernik lain. Setelah dipotong ongkos produksi, sisa keuntungan akan diwakafkan ke Hutan Wakaf.

"Tanah ini akan disertifikatkan atas nama semua orang yang menyumbang. Setiap dana yang masuk dipublikasikan melalui media sosial," kata Akmal.

Pewakaf membeli madu hutan asli. Dari kiri: Eko Wisnu Abadi, Multazam dan Muttaqin Mansur

Hingga kini, Akmal dan Azhar telah mengelola wakaf dari banyak kalangan. Mahasiswa, peneliti, aktivis lingkungan, birokrat, seniman, akademisi, dan profesi lain. Langkah ini diapresiasi oleh banyak kalangan. Selain Syamsul Rizal, profesor yang menyatakan salut dengan upaya ini adalah Profesor Fachruddin Mangunjaya dari Universitas Nasional.

"Tujuan direalisasikan hutan wakaf adalah untuk menjamin tersedianya sumber daya hutan bagi generasi di masa depan, sederhana saja," kata Akmal.

Komentar

Loading...