Kemarau Landa Semenanjung Afrika

Kemarau Landa Semenanjung Afrika
Kemarau membuat 11,7 juta di semenanjung Afrika terancam krisis pangan |Foto: ACTNews

KBA.ONE, Turkana, Mogadishu – Etika Loriaban mengenang kejadian sebulan silam, ketika anak laki-lakinya yang berusia 14 tahun meninggal dunia karena malnutrisi. Warga Kabupaten Turkana, yang terletak di barat laut Kenya, itu mengaku tidak memiliki makanan sama sekali.

“Kami tidak memiliki makanan. Kami makan seadanya sampai ia meninggal dunia,” kata Loriaban kepada Al Jazeera dirilis Maret lalu.

Bantuan pangan pun sempat disubsidi pemerintah Kenya dari Ibu Kota Nairobi ke Turkana. Turkana menjadi satu dari 13 kabupaten yang dilanda kemarau parah di Kenya. Lebih dari satu juta penduduknya membutuhkan bantuan pangan darurat. Penduduk di separuh dari kelurahan yang ada di Turkana mengalami kelaparan akut.

Kenya menjadi salah satu negara di semenanjung Afrika, yang disebut OCHA mengalami kerawanan pangan karena kemarau. Sejak Maret hingga pertengahan Mei, curah hujan di semenanjung Afrika kurang dari 50 persen dari rata-rata hujan di Afrika biasanya. Belum lagi, negara yang mengalami kekeringan juga merupakan wilayah konflik.

PBB juga memperingatkan krisis kemanusiaan akibat kemarau juga terjadi di Somalia. Seperti yang dikabarkan Al Jazeera pada awal Mei lalu. Ribuan orang memilih tinggal di kamp pengungsian terbesar di Mogadishu. Kebun mereka gagal panen, pun ternak-ternak mereka mati karena kemarau. Tinggal di kamp pengungsian adalah salah satu cara terbaik bertahan hidup. Selain karena terdapat pengungsian terbesar, bahan makanan juga lebih mudah diperoleh di Mogadishu. 

“Kami meninggalkan rumah dan kebun kami karena kemarau dan konflik. Kebun kami rusak parah karena kekeringan,” kata Aisha Ibrahim Yarow, salah satu pengungsi internal Somalia di Mogadishu kepada Al Jazeera, Mei lalu.

Kini, sekitar dua setengah juta penduduk internal bertambah di kamp pengungsian Mogadishu. Mereka yang terusir karena konflik dan kemarau kehilangan mata pencaharian. Sebagian besar pengungsi pun memilih bertahan di kamp pengungsian dalam waktu lama.

Kekeringan juga memperburuk risiko penyakit menular seperti kolera, demam tifoid, diare, infeksi saluran pernapasan akut, dan campak. Bahkan, kekeringan juga menyebabkan kerawanan keamanan bagi anak-anak dan perempuan, sebab mereka harus menempuh jarak lebih jauh untuk memperoleh makanan dan air.

Komentar

Loading...