Kesenian Aceh Terbentur Dinding Ketidakpastian Hukum Syariah

Kesenian Aceh Terbentur Dinding Ketidakpastian Hukum Syariah
Seniman Aceh Agus PMTOH dan Apa Kaoy saat berkunjung ke dapur berita KBA.ONE, Senin, 14 Agustus 2017 | KBA/Reza

Saat ini, kata Apa Kaoy, semua diukur dengan uang pemerintah. Pemerintah juga menerbitkan aturan yang tak jelas. Termasuk dalam pelaksanaan syariat Islam.

KBA.ONE, Banda Aceh - Wajah Apa Kaoy memerah. Kali ini, tak rasa humor yang menjadi ciri khas pria bernama M Yusuf Bombang itu. “Sekarang sudah tidak seperti dulu lagi. Tidak ada lagi ruang untuk para seniman menampilkan karya-karyanya,” kata Apa Kaoy saat bertandang ke Dapur Berita KBA.ONE, di Simpang Batoh, Banda Aceh, Selasa, 15 Agustus 2017.

Di era 90-an, kata Apa Kaoy, pementasan-pementasan seni kerap dilakukan. Memberi ruang kepada para seniman menampilkan karya-karya mereka. Perhelatan itu bukan dilakukan oleh pemerintah, melainkan swadaya masyarakat. Semua urusan saat itu mudah karena tak banyak aturan yang menjerat kaki.

Masyarakat saat itu dengan mudah mengumpulkan uang agar bisa membuat acara pementasan seni. Uang itu diambil kembali dari kutipan parkir atau sumbangan-sumbangan dari penonton. Cara ini membuat masyarakat terhibur dan seniman pun punya ruang berkarya.

Berbeda jauh dengan kondisi saat ini. Menurut Apa Kaoy, terlalu banyak larangan yang perlu dikaji ulang alasannya. Aturan-aturan yang tak pasti ini turut mempengaruhi gerak seniman Aceh. Akibatnya, kearifan lokal dalam menikmati seni yang sederhana di masyarakat hilang.

Saat ini, kata Apa Kaoy, semua diukur dengan uang pemerintah. Pemerintah juga menerbitkan aturan yang tak jelas. Termasuk dalam pelaksanaan syariat Islam. Karena itu, dia berharap ulama, kepolisian serta pemerintah perlu duduk bersama dengan para seniman untuk menghilangkan dinding yang mengerdilkan peran seniman itu.

“Sekarang orang tidak berani lagi buat acara. Ketika acara digelar, turun anak pesantren membubarkan acara seni. Mereka tidak salah. Yang salah adalah pemerintah yang tidak memberikan pemahaman dan kepastian regulasi. Dulu mana ada ulama atau anak pesantren yang melarang acara-acara pementasan seni, walaupun digelar malam hari. Yang penting, kaum adam dan hawa itu dipisah, tidak bercampur saat menonton,” ujar Apa Kaoy.

Imbas dari kurangnya kegiatan seni, kata Apa Kaoy, membuat mental atau perilaku masyarakat Aceh berubah. Saat ini, banyak orang Aceh memperlihatkan keegoaan dan kesombongannya. Jika dulu kritik kepada pemerintah dilakukan lewat pagelaran seni, kini masyarakat melampiaskannya saat duduk di warung-warung kopi. Seni itu, kata Apa Kaoy, adalah obat. Dan sekarang, obat itu tak lagi dinikmati masyarakat, sehingga kehidupan sosial di Aceh terganggu.

Agama dan budaya, kata Apa Kaoy, merupakan dua kekuatan yang mempersatukan rakyat Aceh. Saat ini, dua hal ini terkesan seperti diadu domba untuk dihancurkan. Tanpa disadari, kata dia, masyarakat diobok-obok dan pemerintah dipengaruhi oleh kepentingan luar yang takut dua elemen ini bersatu. Karenanya, mereka mengadu agama dengan budaya.

“Jika kita terpengaruh, kita akan hancur,” kata Apa Kaoy. Menurut Apa Kaoy, banyak banyak hikayat dan manuskrip lama Aceh dibeli orang luar, seperti Malaysia dan Thailand. Tujuannya adalah menguasai budaya. Saat ini, kata Apa Kaoy, sangat sulit ditemukan manuskrip dan hikayat-hikayat lama Aceh. Banyak lembaran-lembaran hikayat Aceh lama tidak bisa dilihat lagi.

“Pemerintah perlu mencetak kembali hikayat-hikayat lama Aceh dan menyebarkannya ke sekolah-sekolah,” ujar Apa Kaoy. “Jangankan generasi muda atau masyarakat umum, kami saja yang bergelut di bidang itu, kesulitan untuk mendapatkan peninggalan-peninggalan hikayat lama Aceh.”

Hikayat-hikayat lama Aceh ditulis lebih dari seratus orang penyair. Satu orang, melahirkan puluhan bahkan ratusan karya. Namun, jejak peninggalan hikayat-hikayat Aceh tidak diketahui. Hikayat Aceh menurut adalah cerita-cerita lama yang disampaikan dalam bentuk syair. Salah satu hikayat Aceh yang paling terkenal adalah Hikayat Prang Sabi yang ditulis oleh Tgk Chiek Pante Kulu atas permintaan Tgk Chiek Di Tiro. Syair ini mampu membakar semangat rakyat Aceh melawan Belanda saat masa penjajahan.

Agus PMTOH, seniman tutur, mengatakan masyarakat Aceh kini tak lagi mau menerima seni tuturnya. Padahal karya-karyanya dinikmati hingga di beberapa negara Eropa. Dia juga rutin mengisi pertunjukan seni tutur di Jakarta dan daerah lain di Indonesia.

PMTOH adalah seni tutur atau lebih dikenal dengan ‘dalang’ Aceh yang memaparkan cerita-cerita tertentu, baik cerita dari hikayat lama Aceh maupun penyampaian syair-syair baru berdasarkan keadaan saat ini. Penampilan seni ini biasanya juga menggunakan beberapa properti atau alat pendukung seperti boneka, pedang yang ditepukkan ke bantal, serta beberapa alat pendukung lainnya. Beberapa syair yang dituturkan tersirat kritikan untuk pemerintah, meski penyampaiannya mengandung humor.

Pria bernama lengkap Agus Nur Amal ini menekuni PMTOH lebih kurang hampir 30 tahun. Sejak tahun 1990, ia mempelajari seni itu melalui gurunya, Adnan PMTOH (Allahuyarham). Menurut Agus, para generasi muda di Aceh menyukai seni tutur yang menggunakan hikayat-hikayat lama Aceh. “Generasi muda tidak suka karena tidak tahu saja, kalau tahu pasti mereka suka.”

Untuk menyelamatkan penerus seni PMTOH di Aceh, Agus melatih beberapa pemuda, seperti Mirza, Mulia, dan Wig PMTOH, sebagai generasi penerusnya mempertahankan seni tutur PMTOH. Mereka sudah beberapa kali tampil di beberapa event seni di Banda Aceh. Ditolak di Aceh, Agus dan seniman tutur Aceh lain berencana membuat kegiatan di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta dengan tajuk ‘Gampong Aceh’.

Kegiatan ini rencana akan digelar pada 5 hingga 10 September 2017. Mereka yang akan tampil di antaranya Sanggar Rapai Tuha yang memainkan debus dan hajat selama tiga malam, Teater Kosong Ampon Yan, serta berbagai penampilan lainnya. Di Aceh, kata Agus, apresiasinya kurang. Gaungnya juga tidak ada. “Jadi kami gelar di sana. Ajang ini juga bertujuan untuk mencari jaringan nasional.”

Komentar

Loading...