Ketika Orang Aceh Lupa Siapa Dirinya - Budaya - Kantor Berita Aceh (KBA)

Ketika Orang Aceh Lupa Siapa Dirinya

Ketika Orang Aceh Lupa Siapa Dirinya
Husaini Hasan di Stand Hasan Tiro Center. | Foto KBA ONE: Syukran Jazila

Aceh dulu sama seperti orang Indian, yaitu orang yang bersatu. Jika ada musuh datang melawan untuk berperang dengan orang Aceh, maka orang Aceh akan bersatu dari manapun. | Husaini Hasan.

KBA.ONE, Banda Aceh – Menelusuri jejak sejarah bisa dilakukan lewat apa saja, apalagi di era milenial ini. Dengan sekali klik, atau sekali kerlingan mata, pikiran seseorang bisa masuk ke pusaran waktu yang berbeda. Inilah yang tengah dilakukan Husaini Hasan, mantan Menteri Pendidikan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Memandangi sebuah foto di museum, Husaini mencoba memanggil kembali kenangan hidupnya bersama almarhum Hasan Tiro, Wali Nanggroe Aceh. 

Sembari bercerita, sesekali jemari tangan Husaini menunjuk ke arah beberapa foto almarhum Hasan Tiro, Sang deklarator GAM. Raut muka Husaini  yang kian menua, seperti berupaya keras ingin mengingat kembali rekaman lamanya bersama Hasan Tiro. Foto-foto itu kemudian mengunci pikiran Husaini dan menegaskan bahwa ia pernah hidup dan berjuang bersama Hasan Tiro untuk Aceh. Kenangan sejarah itu pun masih memenuhi hampir seluruh isi kepala pria sepuh berseragam muslim hijau toska ini. 

“Saya merasa terharu jika mengingat kembali pergaulan saya dengan almarhum, kami pernah bersua di bukit selama 3 tahun setengah sampai kami pergi ke Stockholm, Swedia,” kata Husaini Hasan, kepada KBA.ONE, saat mengunjungi Stand Hasan Tiro Center di Gedung Aceh Histori, Museum Aceh, Kamis 9 Agustus 2018. 

Husaini Hasan. | Foto KBA ONE: Syukran Jazila.

Cerita Husaini tentang sosok Hasan Tiro terus mengalir seperti air. Di mata Husaini, Hasan Tiro adalah sosok yang memiliki pendirian teguh dalam memperjuangkan nasib Aceh. Bahkan Hasan Tiro rela meninggalkan kehidupannya yang serba mewah, meninggalkan anak dan istrinya demi memikirkan bangsa Aceh. “Tgk Hasan mau meninggalkan itu semua, lalu naik ke gunung dengan kami, berjuang dengan kami, begitulah pengorbanan almarhum,” kata Husaini.

Hasan Tiro adalah sosok penuh disiplin dan tekun memperjuangkan keyakinannya.  Ia mengetahui sejarah orang Aceh yang sebenarnya, yaitu sebuah bangsa yang pernah termasyhur se Asia Tenggara. “Hari ini kita sudah silap sehingga kita tidak bisa mengikuti jejak endatu untuk bersatu sesama orang Aceh,” ujarnya.

Sambil melihat beberapa literasi-literasi Hasan Tiro, Husaini Hasan menjelaskan apa yang telah diwasiatkan dan diamanahkan oleh almarhum Wali Nanggoe Hasan Tiro tidak cukup dibaca dan diingat saja. Tapi, kata Husaini,  harus ditanamkan pada diri setiap pribadi orang Aceh. “Seperti dalam motto almarhum Hudep beusare matee beusajan, bak duek bak deung sapeu pakat, sang seuneusab meu adoe a, itu semua artinya memupuk kembali rasa persatuan sesama orang Aceh.

Aceh dulu, kenang Husaini,  sama seperti orang Indian, yaitu orang yang bersatu. Jika ada musuh yang datang melawan untuk berperang dengan orang Aceh, maka orang Aceh itu akan bersatu dari manapun.  Itu semua sudah dinukilkan dalam sejarah Sultan Iskandar Muda hingga Aceh ini menjadi sebuah negara yang luar biasa di ujung pulau Sumatera.

Husaini berharap generasi Aceh sekarang jangan sesekali pernah melupakan sejarah Aceh.  "Tanyoe harus taturi droe, tatusoe droe, dari pane geutanyoe, (Kita harus tahu siapa kita, siapa diri kita, dari mana kita). Ini harus dijadikan sebagai motivasi dan pegangan bagi anak cucu Aceh,” tegas Husaini yang sesekali berbahasa Aceh dan berlogat Malaysia.

Dan menurut Husaini, permasalahan Aceh hari ini adalah orang Aceh tidak mengenal siapa dirinya atau telah kehilangan identitas yang luar biasa. “Kalau kita tidak pernah menghargai diri kita sendiri, orang lain tidak akan menghargai kita,” kata Husaini menutup cerita lamanya bersama Hasan Tiro.***

Komentar

Loading...