Kisah Rosnani Bantu Sediakan Dapur Umum Pengungsi di Palu

Kisah Rosnani Bantu Sediakan Dapur Umum Pengungsi di Palu
Rosnani| Foto: ACTNews

KBA.ONE, Palu – Tanah lapang RT 1 dan RT 2 di Kelurahan Duyu, Kecamatan Tatanga, Kota Palu itu adalah sebuah lapangan sepak bola. Dahulu, sesekali warga, baik anak-anak maupun orang dewasa, melepas penat dan menguatkan silaturahmi dengan mengadakan pertandingan sepak bola antarwarga di sana. Namun, pada Jumat 28 September malam, lapangan bola itu semakin ramai. Bukan karena adanya pertandingan, keramaian malam itu disebabkan warga yang berusaha menyelamatkan diri dari dampak gempa dan likuefaksi.

Malam hingga pagi itu hanya langit dan bumi tempat bernaung bagi para penyintas. Di antara mereka adalah para warga yang tadinya tinggal di Balaroa, daerah yang habis dilumat likuefaksi di hari nahas tersebut. Sehari semalam, sejumlah penyintas pun tidak punya tempat bernaung, juga tidak ada makanan bagi mereka yang bertahan.

Hal itu diceritakan Rosnani 50 tahun, ia adalah Koordinator Dapur Umum Aksi Cepat Tanggap (ACT) Hunian Nyaman Terpadu (Integrated Community Shelter/ICS) Duyu, Palu. Rosnani menceritakan  dua hari setelah gempa dan likuefaksi terjadi, ACT menghadirkan dapur umum di Kelurahan Duyu.

"Jadi waktu gempa itu, belum enak makan (belum tersedia bahan makanan). Jadilah kakakku itu masak beras 10 liter dikasihkan orang di lapangan (penyintas). Orang semua lari (meminta makanan), hanya baju di badan semua lari (hanya membawa satu-satunya pakaian yang dikenakan), itu hari Sabtu (29/9), hari Minggu pagi (dapur umum) ACT sudah masuk (hadir di kelurahan Duyu)," cerita Rosnani, pada Selasa 13 November 2018. Kini, lapangan bola kelurahan Duyu difungsikan untuk mendirikan ICS Duyu dan rumah Rosnani, yang tidak parah terdampak gempa, menjadi bagian dapur umum ACT.

Ibu-ibu sedang memasak di dapur umum pengungsi Palu | Foto: ACTNews

Dapur umum dan ICS di Kelurahan Duyu merupakan salah satu wujud bantuan masyarakat Indonesia bagi korban bencana di Sulawesi Tengah melalui ACT. Setiap hari, Dapur Umum ICS Duyu menyediakan minimal 300 porsi makan bagi masyarakat terdampak. Seperti siang hari Sabtu 5 November 2018, aktivitas memasak di dapur umum ICS Duyu sedang dilangsungkan. Hari itu menu makan siang warga adalah ikan sambal khas masakan setempat. Memasak di dapur umum menjadi kesenangan tersendiri bagi para penyintas, khususnya ibu-ibu.

Kehidupan para penyintas di pengungsian tentunya tidak senyaman keadaan sebelumnya. Tidak ada lagi rumah nyaman atau pun kasur yang nyaman. Begitu pula dengan cerita pergi ke sekolah bagi anak-anak. Banyak di antara anak-anak terdampak gempa yang tidak lagi belajar di ruang kelas nyaman atau pun pergi ke sekolah dengan seragam mereka.

Muhammad Ruslin dan Muhammad Ruslan 13 tahun, saudara kembar itu bersama keluarganya adalah salah satu penyintas yang tinggal di tenda-tenda sekitar ICS Duyu. Siswa kelas 6 di Pondok Pesantren di Darul Iman Palu tersebut tidak lagi berangkat sekolah dengan mengenakan seragam sebab rumah dan segala isinya telah lenyap ditelan likuefaksi Balaroa.

Menjelang ujian akhir nasional, Ruslin dan Ruslan pun belum tahu nasib pendidikan mereka ke depan. “Belajarnya ndak terlalu aktif. Nanti di kelas dikasih buku,” ungkap mereka ketika ditanya persiapan ujian akhir sekolah nanti. Dalam hati kecil mereka berharap untuk segera memperoleh fasilitas pendidikan yang lebih baik.

Hari terus berlanjut, mungkin bagi sebagian besar orang berlalu begitu saja. Namun, tidak bagi para penyintas bencana di Kelurahan Duyu. Waktu demi waktu mereka harus berdamai dengan kenyataan bahwa keadaan tidak lagi sama. Sejalan dengan program pemulihan yang diupayakan berbagai pihak, ICS ACT di Duyu sudah memasuki tahap final. Sekitar 96 unit hunian di ICS Duyu telah dirampungkan, aktivitas warga mulai tampak, masjid ICS pun telah digunakan warga untuk melaksanakan salat berjamaah. 

Komentar

Loading...