Krisis Pangan dan Ekonomi Jerat Siswa dan Guru Gaza

Krisis Pangan dan Ekonomi Jerat Siswa dan Guru Gaza
ACT distribusikan makanan di Gaza | Foto: ACTNews

KBA.ONE, Gaza – Blokade dan pengepungan yang dilakukan Israel atas Jalur Gaza telah berakibat lumpuhnya sendi-sendi kehidupan, termasuk di bidang ekonomi dan ketersediaan pangan. Salah satu yang terkena dampak dari blokade berkepanjangan ini adalah kehidupan para siswa dan guru di Jalur Gaza.  

Jumat 22 Februari 2019, Ahmad An-Najjar selaku Direktur Hubungan Internasional-Kementerian Pendidikan Gaza menjelaskan imbas yang timbul akibat blokade yang telah berlangsung akibat satu dasawarsa. Menurutnya, pengepungan atas Jalur Gaza mengakibatkan langkanya kebutuhan pokok di sana.

“Baru-baru ini, sektor pendidikan menjadi sektor yang paling terdampak akibat kejahatan yang dilakukan oleh para Zionis, para penjajah Israel. Saat ini, Jalur Gaza telah berada dalam kepungan selama lebih dari 13 tahun, sebuah pengepungan yang mencekik penduduk Gaza. Hampir semua kebutuhan tak lagi tersedia di Jalur Gaza. Tidak ada barang yang diperbolehkan masuk dan keluar dari Jalur Gaza. Angka kemiskinan dan pengangguran pun sangat tinggi,” ujar Ahmad kepada ACTNews di Kantor Pusat ACT di Jakarta Selatan.

ACT bagikan paket makanan untuk siswa di Gaza | Foto: ACTNews

Pria yang kerap disapa Abu Ayesh ini menambahkan bahwa kelumpuhan ekonomi yang mendera Jalur Gaza mengakibatkan para guru tidak lagi menerima gaji mereka secara penuh tiap bulannya. “Saat ini, para guru tidak lagi menerima gaji mereka secara rutin. Mayoritas guru di Gaza menerima hanya sekitar 40% bayaran mereka dua bulan sekali. Ini tentu saja tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup anak-anak serta keluarga mereka,” papar Ahmad.

Penderitaan yang sama dirasakan pula oleh para siswa sekolah di Gaza. Menurut Ahmad, banyak siswa di Gaza tak memiliki cukup makanan dan kerap pergi ke sekolah dalam keadaan perut yang kosong.

“Hampir di setiap keluarga di Jalur Gaza, anak-anaknya tidak mendapatkan cukup makan. Hampir keseluruhan mereka pergi ke sekolah tanpa sarapan. Mereka juga pergi ke sekolah tanpa sepeser pun uang saku untuk membeli makanan di kantin pada jam-jam istirahat sekolah. Situasi di sana benar-benar sulit.  Bayangkan situasi di mana seorang anak pergi ke sekolah tanpa makanan yang cukup maupun uang saku. Belum lagi, kurangnya penghasilan juga mempengaruhi kehidupan para orang tua siswa. Bayangkan jika sang istri meminta uang kepada suaminya untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga dan anak-anaknya, sementara sang suami sendiri tidak menerima penghasilan yang cukup,” jelas Ahmad.

UN OCHA: Gaza rawan pangan

Kantor Koordinasi Urusan-Urusan Kemanusiaan PBB (UN OCHA) memaparkan, lebih dari 68 persen keluarga di Gaza, sekitar 1.3 juta orang, mengalami kerawanan pangan di tingkat sedang hingga berat. Kerawanan pangan terjadi walaupun sekitar 69 persen dari keseluruhan keluarga di Gaza mengaku mendapatkan bantuan pangan atau bantuan dalam bentuk lainnya dari organisasi-organisasi pemerintah Palestina maupun organisasi internasional.

Grafik tingkat kerawanan pangan di Gaza, Tepi Barat, dan wilayah Okupansi Palestina dalam persen | Foto: ACTNews

Saat ini, tingkat kerawanan pangan di Jalur Gaza mengalami peningkatan sebanyak 9 persen sejak tahun 2014. Menurut OCHA, kerawanan pangan di wilayah-wilayah Palestina utamanya disebabkan karena terbatasnya akses ekonomi pada bahan-bahan makanan. Di Jalur Gaza, pertumbuhan ekonomi menurun tajam hingga minus 6 persen di perempat awal 2018, dan semakin memburuk di perempat kedua tahun 2018. Keadaan ekonomi di Tepi Barat juga diprediksi mengalami perlambatan pertumbuhan.

Paket pangan untuk pelajar Gaza

Merespons peliknya situasi yang membelit Jalur Gaza dan wilayah-wilayah Palestina lainnya, ACT atas nama bangsa Indonesia telah menginisiasi berbagai program kemanusiaan sebagai upaya membantu warga Palestina untuk bertahan dan berjuang di tengah penjajahan.

Untuk mengatasi keterbatasan pangan yang dialami para siswa serta keluarga mereka di Palestina, ACT mengimplementasikan beberapa program bantuan pangan antara lain pembagian makanan siap santap dari Dapur Umum Indonesia di Palestina serta distribusi kebutuhan pokok melalui program Humanity Card.

Pada pertengahan Februari 2019, ratusan paket makanan siap santap dibagikan di Sekolah Dasar Amouriya di Gaza Tengah. “Dapur Umum Indonesia bulan ini beroperasi sejak 9 Februari. Makanan didistribusikan ke sekolah-sekolah di seluruh Jalur Gaza. Setiap hari makanan dimasak untuk 500 warga Gaza. Makanan Dapur Umum Indonesia ditujukan untuk murid sekolah di seluruh Jalur Gaza. Sekolah yang menjadi tujuan utama juga keluarga miskin di jalur Gaza,” lapor Andi Noor Faradiba dari Global Humanity Response (GHR) – ACT.
   
Ahmad An-Najjar pun menyampaikan rasa terima kasihnya atas bantuan yang diberikan oleh ACT atas nama bangsa Indonesia. “Kami sangat berterima kasih kepada saudara-saudari kami bangsa Indonesia, khususnya ACT, untuk semua bantuan dan dukungan yang telah diberikan kepada saudara-saudari mereka di wilayah-wilayah Palestina khususnya Jalur Gaza. Program-program vital yang dilakukan oleh ACT telah meringankan situasi di Jalur Gaza. Tanpa program-program tersebut, situasinya akan menjadi jauh lebih sulit,” pungkas Ahmad An-Najjar. 
 

Komentar

Loading...