Kurban Kita sampai ke Negeri Asal Kopi, Ethiopia

Kurban Kita sampai ke Negeri Asal Kopi, Ethiopia
Setahun lalu, amanah kurban dari Indonesia di Ethiopia diprioritaskan untuk Muslim yang menetap di Distrik Burayu. | Foto: ACTNews.

Karena terdesak kemiskinan, Muslim Etnis Gurage dan Oromo tak mampu membeli daging dari pasar-pasar di sekeliling Addis Ababa.

KBA.ONE, Ethiopia – Mendengar nama Ethiopia, rasanya memori kolektif anak muda Indonesia, khususnya yang menetap dalam lingkaran kota besar, sudah tak asing lagi. Alasannya satu: kopi.

Ya, dalam beberapa tahun terakhir, budaya mengopi dan mencari kopi nikmat, mulai menjamur di kota-kota besar di Indonesia. Indonesia memang boleh berbangga hati menjadi salah satu negara penghasil kopi ternikmat di dunia. Namun jangan salah, kembali ke abad 15 silam, Ethiopia diduga kuat menjadi negara penghasil biji kopi untuk pertama kalinya dalam peradaban manusia.

Ethiopia, berbatasan langsung dengan Somalia. Geografisnya pun serupa Somalia, letaknya ada di tanduk Benua Afrika. Tak ada laut di Ethiopia. Ia disebut sebagai negara landlocked dengan populasi terbanyak di dunia.

Meski tak ada kekayaan laut, negeri ini seperti dibelah menjadi dua bagian yang berbeda. Sejuk dan dingin di sisi barat, tapi gersang dan kering di sisi timur, persis seperti gersangnya Somalia. Di dataran luas dengan populasi lebih dari 102 juta penduduk inilah, Global Qurban setahun lalu singgah, melewati hari tasyrik dengan menuntaskan amanah kurban dari masyarakat Indonesia.

Kurban di wilayah kumuh dekat Addis Ababa

Nama lokasinya Distrik Burayu, tepatnya di Desa Teche. Jaraknya sebenarnya tak begitu jauh dari Addis Ababa, ibu kota Ethiopia yang berada di ketinggian 2.355 mdpl. Namun, mitra Global Qurban di Ethiopia mengatakan, Burayu merupakan wilayah kumuh yang berjarak hanya 12 kilometer dari tengah kota Addis Ababa.

“Meskipun dekat dengan ibu kota, Burayu termasuk Desa Teche di dalamnya adalah kawasan kumuh dan marjinal. Fasilitas publik di wilayah ini jauh terbelakang dibanding Addis Ababa. Jalan rusak, fasilitas medis, sekolah, bahkan air bersih sulit ditemukan.” kata Abdurouf Abdurahman Hussen, mitra Global Qurban di Ethiopia.

Abdurouf menambahkan, kehidupan warga di Desa Teche sejak lama tak berubah signifikan. Alasannya logis: komunitas warga di Desa Teche perlahan tergusur oleh pembangunan industri. Belum lagi ditambah perseteruan minoritas etnis Gurage dan mayoritas etnis Oromo.

“Mereka kehilangan lahan pertanian. Terkonversi pekerjaannya menjadi buruh pabrik dengan penghasilan yang rendah. Persaingan mendapat lahan pekerjaan semakin sempit. Ethiopia bukan negara dengan populasi yang sedikit,” ujar Abdurouf.

Setahun lalu, amanah kurban dari Indonesia di Ethiopia diprioritaskan untuk Muslim yang menetap di Distrik Burayu. Abdurouf bercerita, lebaran di Ethiopia tetap semarak, meskipun beberapa masalah ketimpangan ekonomi masih terjadi. Data dari World Bank menuliskan, 78% dari populasi Ethiopia menghabiskan hari-hari kerja dengan bayaran hanya $2 per hari.  

“Islam adalah agama terbesar kedua di Ethiopia. Sekitar 35% - 40% dari populasi 102 juta penduduk adalah Muslim. Garis keturunan Muslim di Somalia ada lahir dan turun temurun dari etnis Somali, Afar, Argobba, Harari, Berta, Alaba, Silt’e. Termasuk juga Etnis Gurage dan Oromo yang ditemui Global Qurban,” kisah Abdurouf.

Karena terdesak kemiskinan, Muslim Etnis Gurage dan Oromo tak mampu membeli daging dari pasar-pasar di sekeliling Addis Ababa. Dalam laporan tertulisnya, Abdurouf mengatakan seringkali Muslim Gurage dan Oromo mencari pesta orang-orang kaya dan peringatan pemakaman untuk sekadar mencicip rasa daging.

“Daging adalah gizi yang mahal bagi sebagian besar Muslim Ethiopia di Distrik Burayu. Perayaan Lebaran Kurban memberikan kesempatan istimewa bagi mereka untuk menyantap olahan daging,” ujarnya.

Fatuma Ali Hussen, seorang janda yang menghidupi enam orang anak di Burayu menceritakan kesannya kepada mitra Global Qurban di Ethiopia. Ia menuturkan, Suaminya wafat. Setelah itu semuanya berubah total, Ia menjadi buruh industri dengan penghasilan tak seberapa. Ketika dua kali lebaran Idulfitri dan Iduladha mendekat, perasaannya justru sedih.

“Setiap dua Eid mendekat, saya berduka. Tidak ada uang untuk membeli baju baru. Tidak ada uang untuk menebus daging untuk merayakan hari raya. Tapi tahun ini berbeda, ada daging kurban yang datang di lebaran kami. Ada saudara sesama Muslim di Indonesia yang kirimkan kurbannya sampai ke desa kami. Terima kasih untuk kalian semua,” ujar Fatuma Ali di Desa Teche, September 2017 silam. 

Komentar

Loading...