Lebanon Tangkap Mata-mata Israel Menyaru Komedian

Lebanon Tangkap Mata-mata Israel Menyaru Komedian
Itani saat tampil di sebuah panggung di Beirut, Juli 2013 | Arabnews/AFP

Publik Lebanon sendiri sangat mengenal Itani karena penampilannya di sejumlah pertunjukan seni.

APARAT Lebanon menangkap seorang artis yang juga merangkap menjadi jurnalis dan pemain drama, Ziad Ahmad Itani, karena menjadi agen mata-mata Israel, Mossad. "Sebelum ditangkap, Itani seorang yang sukses sebagai artis, jurnalis dan pemain drama Lebanon," tulis Al Jazeera, Jumat, 1 Desember 2017.

Sumber keamanan di Lebanon mengatakan, mereka mencokok Itani di rumahnya di Distrik Ain Al-Rammaneh, Beirut, pada Kamis petang, 30 November 2017, waktu setempat. "Dia ditangkap karena merencanakan pembunuhan terhadap Menteri Dalam Negeri Nohad Machnouk dan memantau Abdul Rahim Mrad, bekas menteri," tulis Arab News mengutip keterangan sumber keamanan.

Itani, pria kelahiran Beirut pada 1975 itu, juga dituding memata-matai para jurnalis, ilmuwan dan pejabat pemerintahan Lebanon. Badan Keamanan Lebanon, lembaga yang menangani kasus ini, membenarkan hal itu.

Publik Lebanon sendiri sangat mengenal Itani karena penampilannya di sejumlah pertunjukan seni. Beberapa komedi yang dibintangi Itani antara lain Beirut Al-Jadideh Road dan Beirut on the Tree. Komedi satir ini bercerita mengenai perubahan tradisi di Beirut. Dia juga bermain di drama satir di televisi Lebanon.

Agen intelijen Lebanon mengatakan hasil penyelidikan terhadap Itani ditemukan sejumlah bukti bahwa dia seorang agen Israel. "Kami menemukan sejumlah bukti di apartemennya, termasuk obat-obatan terlarang, empat laptop, lima telepon genggam yang menyimpan data rahasia." Semua tuduhan dan bukti tersebut, bunyi pernyataan badan intelijen Lebanon, diakui oleh Itani.

Hasil interograsi, aksi spionase Itani itu bermula dari saling tukar status di Facebook pada 2014 dengan seorang gadis berusia 30 tahun dari Swedia. "Gadis berambut hitam pekat dan bermata hijau itu mengaku bernama Collette Vianfi," tulis Visi-on.

Di laman media sosial, keduanya saling berkirim kabar dan surat elektronik. Bahkan gadis tersebut mengirimkan foto intimnya kepada Itani melalui e-mail. Hubungan itu berlanjut, keduanya saling tukar nomor telepon dan alamat di Beirut.

Pada awalnya, percakapan terbatas pada masalah pribadi dan hubungan romantis, serta masalah situasi umum di Lebanon dan dunia. Belakangan, hubungan keduanya tidak terbatas pada romantika saja, namun sudah berkembang jauh hingga awal 2016.

Hubungan itu kian meningkat setelah gadis Swedia tersebut ternyata seorang perwira intelijen Israel yang bertugas merekrut Itani untuk bekerja sesuai dengan kepentingannya. Selanjutnya komunikasi keduanya tak hanya melalui Facebook, melainkan juga dengan Messenger, WhatsApp dan Gmail.

Pesan yang disampaikan Itani kepada perwira Israel ini, menurut versi petugas keamanan Lebanon, dienkripsi dibagi menjadi tiga bagian. Masing-masing dikirim secara terpisah dengan aplikasi lain.

Menurut penyidik, Itani tahu bahwa keduanya saling terkoneksi melalui Messenger dengan sandi "HI IT'S ME" yang ditulis dengan huruf besar. "Keduanya sepakat melakukan komunikasi dengan membuka Facebook dan Website setiap hari pada pukul 02.00 dini hari," kata Itani kepada penyidik.

Itani mengaku dia menerima panggilan telepon dari berbagai negara termasuk Swedia, Belgia, daerah pendudukan Palestina, Turki dan Qatar. Seluruh panggilan telepon tersebut selalu menggunakan nomor telepon berbeda. "Itani bertemu pertama kalinya dengan Collett secara pribadi di Turki pada Agustus 2017."

Pada pertemuan tersebut, Collett meminta Itani bekerja sebagai tokoh publik karena memiliki hubungan luas dan mengembangkan hubungan sosial kemasyarakatan. Collett juga meminta Itani menjaga penampilan luarnya sehingga bisa bergaul dengan lingkaran tertentu.

Untuk seluruh kepentingan tersebut, Itani yang berdarah Lebanon itu mendapatkan kiriman uang tiap bulan antara US$ 500 hingga US$ 1000 atau setara dengan Rp6,8 juta-Rp13,5 juta dari Western Union dengan nama samaran Aref Marei.

Israel merupakan musuh bebuyutan lebanon. Merujuk garis sejarah, Lebanon dan Israel telah lama menjadi seteru. Bermula di tengak kecamuk perang saudara di Lebanon, Maret 1978, Israel menginvasi negara tersebut pertama kali.

Pada Juni 1982, Israel melancarkan serangan kedua. Invasi kali ini alasannya sama seperti yang pertama, membalas serangan gerilyawan Palestina.

Konflik ini terus berlanjut bertahun-tahun kemudian hingga pada 2006, sayap bersenjata Hizbullah menyerang kota Shlomi di Israel utara dengan rudal Katyusha. Israel membalas dengan menembak roket ke arah Lebanon dan pengeboman oleh Angkatan Udara Israel.

Kini, perselisihan panjang antara Israel dan Lebanon masih terus terjadi. Misalnya, soal perbatasan maritim di Laut Mediterania. Kedua negara dinilai ingin mengamankan investasi energi bernilai miliaran dolar di kawasan kaya minyak dan gas tersebut.

Komentar

Loading...