Mahathir: Memimpin Malaysia Sekarang Lebih Sulit

Mahathir: Memimpin Malaysia Sekarang Lebih Sulit
Mahathir Mohamad | Bernama

KBA.ONE, Malaysia - Perdana Menteri Mahathir Mohamad mengakui menjadi pemimpin Malaysia dalam skenario politik hari ini lebih sulit dan menantang karena ia tidak lagi memimpin partai yang dominan di pemerintahan yang berkuasa.

Mahathir yang tepat berusia 93 tahun pada Senin kemarin, 22 Oktober 2018, mengatakan situasi sekarang sangat berbeda dibandingkan ketika dia menjabat selama 22 tahun lalu, sejak 1981 hingga 1993. “Saat itu, saya memimpin partai dominan dengan suara terbesar, apa yang kami (partai) usulkan pasti akan mendapat dukungan. Sekarang, kami memiliki empat pihak (yang berkuasa) di Pakatan Harapan (PH) dengan masing-masing memiliki ideologi sendiri. Jadi, jika saya ingin membuat keputusan, saya harus meyakinkan semua pihak di PH, ” ujarnya seperti dilansir Channel News Asia, Selasa, 23 Oktober 2018.

Pakatan Harapan adalah koalisi yang didirikan pada 2015 dan menampung partai-partai beraliran cenderung kiri dan tengah. Aliansi ini koalisi terbesar kedua di Parlemen Malaysia setelah Barisan Nasional. Setelah pemilihan umum Malaysia ke-14, Mahathir menjabat sebagai Perdana Menteri Malaysia sejak 10 Mei 2018.

Mahathir menambahkan ketika dia pertama kali mengambil alih kantor perdana menteri pada 1981, pemerintah dan administrasi negara berada dalam keteraturan. Dia hanya harus mengambil keputusan dan pemerintah akan melakukan pekerjaan itu. Sayangnya kali ini, kata Mahathir, dia harus berurusan dengan kerusakan di bagian keuangan dan administrasi negara yang ditinggalkan pemerintahan sebelumnya.

Mahathir juga menyebutkan bahwa dia "takut" terhadap harapan masyarakat terhadap pemerintah. "Saya takut dengan harapan orang-orang. Mereka berpikir bahwa saya dapat membuat sesuatu terjadi sampai berhasil," ujarnya. "Tapi saya akui, saya bukan pesulap yang bisa memperbaiki segalanya dan menciptakan kesuksesan dalam sekejap mata."

Mahathir juga harus menyesuaikan pola pikirnya agar kompatibel dengan ide-ide sosialisme dan liberalisme yang lazim di dalam PH. "Beberapa ide memiliki kemiripan sosialisme, beberapa [mirip] liberalisme, dan saya harus menerjemahkan beberapa hal lewat cara yang paling sesuai dengan kedua ide," ujarnya.

Dia juga berpendapat pemerintah saat ini membutuhkan oposisi di parlemen untuk memastikan adanya pengawasan dan keseimbangan dalam administrasi negara. “Pertentangan itu penting. Jika kita tidak memiliki pertentangan, itu akan seperti melihat ke cermin, kita mungkin terlihat cantik di mata kita, tetapi yang lain mungkin tidak berpikir demikian."

Komentar

Loading...