Marsekal Hadi; Calon Panglima TNI Bekas Sekretaris Militer Jokowi

Marsekal Hadi; Calon Panglima TNI Bekas Sekretaris Militer Jokowi
Kepala Staf TNI AU Marsekal Hadi Tjahjanto | tni-au.mil.id

MARSEKAL Hadi Tjahjanto tinggal selangkah lagi menjadi Panglima TNI. Kepala Staf Angkatan Udara ini bakal menggantikan Jenderal Gatot Nurmantyo.

Presiden Joko Widodo telah mengirimkan surat ke DPR soal pemberhentian Jenderal Gatot Nurmantyo secara hormat dan pengangkatan Hadi Tjahjanto sebagai panglima TNI yang baru. Surat pengajuan Hadi dipilih disampaikan Menteri Sekretaris Negara Pratikno kepada Wakil Ketua DPR Fadli Zon Senin, 4 Desember 2017. Dalam sidang paripurna Selasa, 5 Desember 2017, surat itu dibacakan.

Selanjutnya, Komisi I DPR menggelar uji kelayakan dan kepatutan terhadap Hadi. Rencananya, pada Rabu besok, Komisi Pertahanan menggelar uji kepatutan dan kelayakan tersebut. "Dilaksanakan Rabu supaya Minggu depan sudah bisa dilaporkan. Kami tidak punya beban karena tanggal 13 Desember kami sudah mulai reses," ujar Wakil Ketua Komisi I DPR TB Hasanuddin. Jika semuanya lancar, Hadi bakal dilantik Jokowi menjadi Panglima TNI.

Hadi Tjahjanto dilahirkan di Malang, Jawa Timur, 8 November 1963. Dia lulusan Akademi Angkatan Udara tahun 1986 dan Sekolah Penerbang TNI AU 1987.

Pemilihan Hadi oleh Jokowi bukanlah tanpa alasan kuat. Jokowi menyatakan Hadi layak mengisi jabatan Panglima TNI karena memiliki kepemimpinan dan kemampuan yang kuat. "Saya meyakini beliau memiliki kepemimpinan dan kemampuan yang kuat dan bisa membawa TNI ke arah yang lebih profesional sesuai jati dirinya yaitu tentara rakyat, tentara pejuang, tentara nasional dan tentara profesional," ujar Jokowi, kemarin.

Jokowi menambahkan, Hadi diajukan karena Gatot Nurmantyo sudah memasuki masa pensiun. "Mekanismenya kami harus mengajukan ke DPR terlebih dahulu. Kami mengajukan KSAU Hadi Tjahjanto ke DPR untuk mendapatkan persetujuan," ujar Jokowi.

Salah satu syarat yang diwajibkan undang-undang dalam memilih calon Panglima TNI adalah berasal dari salah satu kepala staf yang ada. Tepatnya, jika mengacu pada Undang Undang Nomor 34 Tahun 2004 tentang TNI, pasal 13 ayat 4 menyebutkan, jabatan panglima TNI dapat dijabat secara bergantian oleh perwira tinggi aktif dari tiap-tiap angkatan yang sedang atau pernah menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan.

Marsekal Hadi dan istri mengunjungi Lanud Sultan Iskandar Muda | tni-au.mil.id

Calon panglima harus perwira bintang empat yang masih aktif. "Bintang empat yang aktif di Indonesia tidak banyak," ujar Wakil Presiden Jusuf Kalla di Universitas Brawijaya, Malang. Pengusulan Marsekal Hadi, kata Kalla, adalah prerogatif Presiden Jokowi.

Selain semua persyaratan formal yang memang sudah dipenuhi Marsekal Hadi, sejatinya ada faktor kedekatan atau kecocokan yang membuat Presiden Jokowi memilihnya. Salah satu indikasi paling kuat karena Hadi bekas Sekretaris Militer Jokowi pada periode 2015-2016. Ketika itu Hadi berpangkat Marsekal Muda.

Setelah jabatan di lingkaran Istana itu, Hadi kemudian melanjutkan karirnya sebagai Inspektur Jenderal Kementerian Pertahanan pada 2016-2017. Pangkatnya naik menjadi Marsekal Madya. Pada 18 Januari 2017, Hadi menjadi perwira bintang empat berpangkat Marsekal ketika dilantik menjadi Kepala Staf Angkatan Udara.

Jokowi dan Hadi juga ternyata sudah saling kenal semasa keduanya sama-sama bertugas di Solo pada periode 2010-2011. Ketika itu Jokowi Wali Kota Solo, sedangkan Hadi Komandan Lanud Adi Sumarno.

Namun, ketika Jokowi beralih ke Jakarta setelah memenangkan pemilihan gubernur ibu kota pada 2012 hingga menjadi presiden, karier Hadi Tjahjanto relatif berbelok-belok. Ia ke Jakarta setelah mendapat promosi sebagai Kepala Dinas Penerangan TNI AU tapi sempat hijrah ke Malang pada 2015, karena diangkat menjadi Komandan Lanud Abdulrachman Saleh.

Hadi sendiri irit bicara soal penunjukannya sebagai calon Panglima TNI. "Mohon doanya saja ya," kata Hadi ketika ditanya wartawan soal pengajuan itu, di Istana Bogor.

Pengamat militer Connie Rahakundini Bakrie menilai penunjukan Hadi hal yang tepat. Salah satunya, karena sejalan dengan visi poros maritim Jokowi. Poros maritim dunia yang dicanangkan Jokowi pada 2014 lalu, kata Connie, membutuhkan tentara yang punya visi menghadapi dunia luar. "Saya berharap Pak Hadi punya visi outward looking ke depan," ujar Connie.

Perkembangan dunia, terutama dunia kemiliteran saat ini juga sangat bergantung dengan kemajuan teknologi. Penunjukan Marsekal Hadi dari Angkatan Udara dinilai sejalan dengan hal tersebut.

Pasalnya teknologi kedirgantaraan adalah salah satu teknologi yang bekembang pesat. "Saya kira Pak Hadi cocok dengan hal-hal terkait teknologi seperti itu," pungkas Connie.

Komentar

Loading...