Melepas Masa Lajang dengan Kembar Mayang

Melepas Masa Lajang dengan Kembar Mayang
Kembang Mayang diarak ke pelaminan di sebuah pesta pernikahan di Langsa. Foto: KBA/Safrizal.

Daun andong dipercaya untuk menjaga sopan santun antarsesama.

KBA.ONE, Langsa - Sebuah tradisi perkawinan adat Jawa lekat dengan uba rempeyang atau disebut kembar mayang. Ini adalah sepasang hiasan simbolik yang terbuat dari rangkaian janur.

Bukan tanpa alasan orang Jawa sejak dari dulu menciptakan Kembar Mayang. Kembar Mayang di percaya sebagai salah satu elemen perlengkapan ritual pengantin Jawa, setiap bahan yang digunakan untuk membuat Kembar Mayang adalah simbol doa dan harapan keluarga terhadap jalannya sebuah prosesi perkawinan adat Jawa.

Pembuat Kembar Mayang, Sukardi, 56 tahun, warga Alur Buloh, Kecamatan Bayeun, Aceh Timur, kemarin, mengatakan untuk proses pembuatan Kembar Mayang sendiri memakan waktu selama empat jam. Satu Kembar Mayang dibandrol Rp 100 ribu.

Sukardi atau yang lebih akrab di sapa Cicuk itu menyebutkan, untuk pembuatan Kembar Mayang sendiri terdapat empat jenis hiasan janur yang dianyam menyerupai bentuk keris bermakna melindungi dari marabahaya, hal ini dimaksud agar kedua mempelai berhati-hati dalam mengarungi bahtera kehidupan dalam keluarga.

Janur yang di bentuk seperti bentuk belalang memiliki makna agar tidak terjadi halangan dalam berkeluarga. Sementara untuk janur yang berbentuk payung bermakna pengayoman, dan janur yang berbentuk burung melambangkan kerukunan dan kesetiaan sebagaimana burung merpati.

"Ini adalah prosesi adat Jawa yang terus dilakukan secara turun temurun dari pendahulu saat kedua mempelai akan bersanding melepas lajang," kata Cicuk.

Cicuk yang sudah 30 tahun menggeluti profesi tersebut menuturkan, untuk setiap bahan baku yang digunakan mengandung makna tersendiri, seperti dahan beringin yang berarti dimana agar kedua mempelai bisa saling mengayomi, daun puring supaya dalam dalam keluarga tidak uring-uringan, daun andong dipercaya untuk menjaga sopan santun antarsesama dan daun lancur bermakna agar kedua mempelai hendaknya mampu berpikir panjang dalam menghadapi berbagai permasalahan hidup.

"Ritual nebus kembar mayang biasanya dilakukan dengan cara membeli dari si pembuatnya, kembar mayang seperti lazimnya nantinya akan ditebus oleh orang tua dari pihak mempelai wanita dan selanjutnya dibawa oleh pasangan perawan dan perjaka pada prosesi penyambutan mempelai pria bersama rombongan," ujar Cicuk.

Dirinya menambahkan, pada saat mempelai dipertemukan, pengiring atau pendamping perawan dan perjaka yang bertugas membawa kembar mayang tadi terus mengiringi disamping kedua mempelai dengan cara berputar sembari berpegangan tangan dengan dipandu oleh sesepuh atau pihak mempelai wanita.

"Biasanya jika mempelai wanita masih perawan, cara membawa kembar mayang diangkat sejajar dengan pundak, namun jika mempelai wanita sudah hamil cara membawanya tidak boleh lebih di atas perut, " sebut Sukardi.

Dalam tradisi Jawa, menurut Cicuk, Kembar Mayang memiliki nama masing-masing dinamakan Dewandaru dan Kalpandaru. Sejak dulu kembar mayang dipercaya sebagai pinjaman dari para dewa, sehingga setelah upacara selesai harus dikembalikan dengan membuang di perempatan jalan atau dihanyutkan di sungai atau laut.

"Kembar mayang nantinya akan dibuang atau di hanyutkan ke sungai atau laut, berbeda dengan adat Aceh yang biasanya membawa tunas kelapa di mana nantinya akan ditanam di areal rumah salah satu mempelai," kata Cicuk.

Komentar

Loading...