Melepas Tukik, Mengedukasi Peduli Lingkungan

Melepas Tukik, Mengedukasi Peduli Lingkungan
Anak-anak dan masyarakat sekitar Konservasi Penyu Aroen Meubanja saat melepaskan bayi penyu atau tukik ke laut | Foto: Revina Rahayu

KBA.ONE, Aceh Jaya - Seakan berlomba dengan matahari yang akan terbenam di ufuk barat, 63 ekor tukik, atau bayi penyu jenis lekang, berkejara mencapai birunya air laut pantai Pasir Aron Panga, Kecamatan Panga, Aceh Jaya, Kamis, 10 Januari 2019

Ombak yang menyapu pantai mempercepat tungkai - tungkai mungil bayi penyu mencapai asinnya air laut. Inilah tanda dimulainya kehidupan satwa dilindungi tersebut.

Deburan ombak dan riuhnya suara masyarakat yang ikut meramaikan pelepasan tukik itu, seakan menjadi semangat bagi bayi penyu mempercepat langkahnya mencapai kehidupan nyata di laut lepas. Tak lama kemudian, semua tukik-tukik itu menghilang dan lenyap dari pandangan mata.

Iin, salah seorang yang ikut prosesi pelepasan bayi penyu itu, seperti tak bisa menyembunyikan keceriaan dan rasa takjub bisa melepas langsung sang vertebrata ke laut lepas.

“Senang bisa ikut melepaskan tukik. Ini baru pertama sekali saya lakukan,” ujar mahasiswi Universitas Syiah Kuala yang sedang menyelesaikan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Panga, sembari melepas senyum lebar.

Sebagai mahasiswa, lanjutnya, ini bisa menjadi pembelajaran berarti bagi mereka. Apalagi penyu itu satwa yang dilindungi, langka dan hampir punah.

“Pesannya, kita harus sama-sama menjaga habitat penyu dengan cara menjaga laut dari sampah-sampah plastik.  Agar mereka tidak punah,” pesan Iin lewat media ini

Femi, mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan, Unsyiah, yang sedang melakukan Praktek Kerja Lapangan (PKL) di Konservasi Penyu Aroen Meubanja tersebut, mengatakan dalam menyelamatkan penyu dari kepunahan bukan hanya sekadar melakukan penangkaran penyu lalu melepaskannya ke laut.

“Menjaga penyu itu dimulai dengan tidak memakan telur-telur penyu karena itu cikal bakalnya tukik,” ujarnya

Dengan tidak memakan telur penyu, upaya menyelamatkan satwa dilindungi yang hampir punah ini sudah dilakukan


Sebagai calon dokter hewan, Femi meminta masyarakat tidak lagi membuang sampah plastik ke laut. Ini menjadi salah satu cara menghindari penyu dari kepunahan.

“Makanan penyu itu ubur-ubur, sampah plastik itu hampir mirip dengan ubur-ubur. Jika dimakan oleh penyu tentunya mereka akan mati, lama-kelamaan penyu akan punah,” jelasnya.

“Ayo mulai dari diri sendiri untuk tidak membuang sampah plastik ke laut,” ajak mahasiswi semester tiga itu.

Ketua Konservasi Penyu Aroen Meubanja, Murniadi, mengatakan konservasi penangkaran penyu berdiri sejak 2012. Hal itu bermula dari kepedulian pemuda di daerah sekitar terhadap habitat penyu yang hampir punah.

“Kita mendirikan konservasi ini dengan swadaya orang-orang yang peduli akan keberlangsungan hidup penyu,” ujar Dedi "Penyu" sapaan akrabnya.

Penangkaran dan melepaskan bayi-bayi penyu, menurut Dedi, menjadi langkah awal dari upaya menjadikan pantai Pasie Aroen Panga sebagai lokasi wisata berwawasan lingkungan dengan mengutamakan konservasi alam serta aspek pembelajaran dan pendidikan.


“Agar setiap pengunjung tidak hanya bisa menikmati indahnya pantai tapi juga mendapatkan pengetahuan tentang penangkaran dan pelestarian penyu,” sebutnya.

Ia mengaku, sejak berdiri tahun 2012 sampai Januari 2019, konservasi penyu Aroen Meubanja telah melepaskan 11.932 tukik jenis lekang dan belimbing.***

Komentar

Loading...