Melihat Ruang Hampa Dua Gedung Rawat Jiwa 

Melihat Ruang Hampa Dua Gedung Rawat Jiwa 
Ruang rawat jiwa RSUD Aceh Tamiang yang belum difungsikan. | KBA.ONE: Trisno.

Bangunan proyek yang mubazir sama halnya dengan korupsi. Di situlah korupsinya muncul karena bangunan ini dibiayai uang rakyat, tapi disia-siakan. | Syariful Alam, Pemerhati Bangunan Jasa Konstruksi Aceh Tamiang.

KBA.ONE, Aceh Tamiang – Lantai keramik gedung bercat putih itu sebagian sudah mengotor. Lapisan cat di tiang-tiang penyangga bertekstur seperti kue lapis tampak memudar dan mengelupas. Tidak ada tanda-tanda “kehidupan” di gedung yang mulai dibangun pada 13 September 2018 dan selesai 11 Desember 2018 itu.

Inilah sisi lain Ruang Perawatan Jiwa RSUD Aceh Tamiang yang hampir terlantar. Dibangun menggunakan Dana Otonomi Khusus Aceh (DOKA) sebesar Rp593 juta, proyek usulan Dinas Kesehatan Aceh ini dikerjakan oleh CV Ubena Daya.

Sebelum ini, pada 2015, pembangunan gedung serupa bernasib sama. Rencana difungsikan untuk ruang rawat jiwa penderita gangguan jiwa ringan, justru menjadi gedung-gedung terlantar seperti tak bertuan. Dampaknya, banyak penderita ganguan jiwa ringan di Aceh Tamiang berkeliaran di jalanan. 

Penderita gangguan jiwa ringan tertidur pulas di emperan toko warga. | KBA.ONE: Trisno.

Apalagi masih ditemukan penderita gangguan jiwa yang belum merasakan pelayanan medis seperti pasien "kambuhan", pasien "dino" (dipasung keluarga/masyarakat), dan akibat ketergantungan narkoba.

Andi, 50 tahun, warga Kesehatan, Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang, tak jauh dari RSU pelat merah itu, mengaku kaget melihat gedung yang sudah selesai dibangun tapi belum juga difungsikan. “Tidak tau karena alasan apa,” kata Andi kepada KBA.ONE, Kamis 7 Maret 2019.

Tapi, apapun alasannya, sebagai warga Aceh Tamiang, Andi berharap gedung yang dibangun menggunakan uang rakyat itu bisa segera difungsikan agar bermanfaat bagi orang banyak, khususnya penderita gangguan jiwa ringan.

“Yang saya tau, gedung itu dibangun untuk merawat pasien penderita gangguan jiwa stadium rendah. Besar kemungkinan mereka bisa sembuh dan normal kembali. Jika tidak segera difungsikan, pasti berdampak pada penderita gangguan jiwa tersebut,” kata Andi.

Kekhawatiran Andi jika yang  tadinya pasien punya peluang besar untuk disembuhkan, tapi karena tidak mendapat perawatan, akhirnya menjadi parah. Mereka terpaksa harus dirawat di rumah sakit jiwa Banda Aceh, atau rumah sakit jiwa di luar Aceh. “Dan itu harus segera disikapi oleh pihak RSUD setempat," harap Andi. 

Penderita gangguan jiwa berkeliaran di Tamiang. | KBA.ONE: Trisno.

Syariful Alam, salah seorang pemerhati bangunan konstruksi Aceh Tamiang, kepada KBA.ONE, Kamis 7 Maret 2019, memberi pandangan berbeda dari Andi. Prediksi Syariful, “pembangunan gedung rawat jiwa di RSUD Aceh Tamiang ini kesannya hanya untuk menciptakan proyek semata. Sudah jadi, malah dibiarkan.”  

Syariful Alam menduga proyek tersebut dibangun tanpa perencanaan matang sehingga, meski sudah selesai, ujung-ujungnya terbengkalai.

"Bangunan proyek yang mubazir sama halnya dengan korupsi. Di situlah korupsinya muncul karena bangunan ini dibiayai uang rakyat, tapi disia-siakan," tegasnya.

Syariful menambahkan bangunan lama tahun 2015 saja tidak difungsikan hingga saat ini. Tapi, anehnya,  instansi terkait bikin gedung baru lagi dengan fungsi yang sama. Akibatnya dua gedung itu praktis terbengkalai.

Menurut Syariful, seharusnya pihak rumah sakit menolak bila bangunan itu tidak mendesak dan mengutamakan bangunan fisik lain yang benar-benar dibutuhkan rumah sakit.

"Seperti ruang rawat inap itu, sebenarnya, sangat dibutuhkan rumah sakit milik pemda ini, mengingat pasien yang ingin dirawat membludak sampai antre berhari-hari, bahkan berminggu di IGD baru mendapatkan kamar," ungkapnya.

Syariful juga menyinggung bahwa selama ini proyek Otsus yang dikerjakan pihak provinsi di daerah rentan bermasalah. Ini disebabkan fungsi pengawasan sangat lemah. Seyogianya, kata dia, antara provinsi dengan kabupaten/kota bisa bekerjasama melibatkan instansi terkait di daerah untuk pelaksanaan proyek Otsus (DOKA) yang akan dikerjakan.

"Tidak ada pengawasan langsung di lapangan selama proses pembangunan berjalan. Sehingga rekanan bebas bekerja sesuka hatinya. Pengawasan yang tidak maksimal pasti berdampak terhadap kualitas fisik. Sangat diragukan hasilnya," tegas Syariful.

Direktur RSUD Aceh Tamiang, dr T Dedy Syah, mengakui bahwa  gedung ruang rawat jiwa yang baru itu  hingga kini belum diserah-terimakan kepada pihak rumah sakit. “Belum ada serah terima kepada kita, gedung itu dibangun oleh provinsi,” jelas dr Dedy singkat, kepada Wartawan di Kuala Simpang, Aceh Tamiang. Dedy baru dua bulan menjabat Direktur di RSUD di daerah tersebut. | TRISNO, Kontributor Aceh Tamiang.

Komentar

Loading...