Membaca Kisah Baginda dari Gemercik Krueng Daroy

TAK BANYAK kisah-kisah heroik dituangkan dalam bentuk lukisan dinding (mural). Tapi, penampakan mural di kawasan bantaran Krueng Daroy menjadi satu dari sekian kisah lintas masa yang jarang terjadi itu. Inilah pembeda Taman Krueng Daroy kini, seonggok taman yang memisahkan gampong Seutui dan Neusu, Banda Aceh.

Ceritanya, lewat program Kotaku (Kota Tanpa Kumuh) yang dicanangkan Kementerian PUPR, Pemerintah Kota Banda Aceh telah mengubah bantaran Krueng Daroy, kawasan ramai penduduk, menjadi salah satu taman kota yang indah nan asri.

Lalu, Taman Krueng Daroy (TKD)  menjadi nama yang disematkan.  Taman padat sejarah ini terbentang mulai dari jembatan Putroe Phang di Jalan Nyak Adam Kamil 1, Peuniti, hingga jembatan Seulawah di Jalan Sultan Alaidin Johansyah, Neusu Aceh.

Kawasan yang dulunya masuk salah satu kawasan kumuh, kini berubah menjadi pilihan baru warga kota Banda Aceh sekitar sebagai tempat wisata. Itulah yang terlihat saat KBA.ONE menyambangi lokasi Taman Krueng Daroy, di satu sore, Minggu 24 Maret 2019.

Dari catatan terdahulu, sebenarnya kawasan Seutui memiliki 32,99 hektar kawasan kumuh yang meliputi 5 gampong; Neusu Jaya, Neusu Aceh, Sukaramai, Seutui di Kecamatan Baiturrahman, hingga Lamlagang di Kecamatan Banda Raya.

Tapi, setelah Krueng Doy selesai dibenahi, kini giliran Krueng Daroy menyusul mengikis kawasan kumuh di daerah tersebut.

Ketika KBA.ONE menjejak taman ini,  gerbang kokoh menyambut setiap pengunjung yang hadir. Figura itu menjadi pintu utama di kedua bagian jembatan untuk masuk lebih dalam ke kawasan taman.

Jalur pejalan kaki yang dicor semen, pun menjadikan perjalanan menelusuri bantaran Krueng Daroy terasa asyik dan  nyaman. Suasana semakin klop saat taman dilengkapi pagar pembatas penjaga keamanan para pengunjung taman.

Di pinggir jalur, ada beberapa bangku taman tempat rehat jika lelah berjalan. Serupa di beberapa bagian pinggir bantaran yang dekat dengan sungai, dibuat layaknya balkon rumah, berlantai lapis kayu.

Sedangkan sebagai penghubung kedua sisi sungai, ada tiga jembatan gantung dibangun apik di sini. Sehingga pengunjung leluasa berpindah dari satu sisi ke sisi yang lain.

Tak kalah menarik,  mural (menggambar atau melukis di atas media dinding, tembok atau permukaan luas yang bersifat permanen lainnya) bertemakan sejarah, menghiasi salah satu bagian dinding Taman Krueng Daroy. Inilah dinding pembatas langsung dengan Taman Gunongan.

Kisah Sultan Iskandar Muda dan Putroe Phang, dilukiskan dengan apik oleh dosen dan mahasiswa ISBI Aceh (Institut Seni Budaya Indonesia), Jantho, Aceh Besar. Karena kawasan Krueng Daroy memang dekat dengan Taman Gunongan, yang berkaitan erat dengan kisah sejarah Aceh tempo dulu.

Sementara rumah penduduk di bantaran sungai, tak luput pula dari polesan tangan para mahasiswa seni tersebut. Bagian rumah yang menghadap Krueng Daroy, diperindah dengan mural berbagai tema. Menjadi spot foto yang instagramable untuk kalangan muda mudi yang datang.

"Saya senang, tempat ini udah bagus, bersih, indah, nyamanlah pokoknya," kata Risma mengungkapkan rasa bahagianya kepada KBA.ONE. Sore itu, Risma membawa serta anak dan suaminya.

Kebahagian Risma juga diungkap warga di sekitar bantaran sungai. "Kondisi Krueng Daroy sekarang jauh berbeda dengan dulu. Dulu, jalan di sini hanya bebatuan, tidak ada lampu penerang. Sekarang, kita duduk malam pun udah nyaman," tutur Nur Aini, 49 tahun.

Selain mural, jalan, dan penataan lampu kota, kemegahan wajah TKD bisa juga dilihat dari tulisan "Taman Krueng Daroy" berhuruf kapital di dua bagian taman. Area ini menjadi salah satu spot foto favorit setiap pengunjung yang datang. Apalagi deretan rak bunga dari besi terasa asri mengisi sisi jalur pejalan kaki.

Rak-rak tersebut diisi banyak pot bunga, pemberian Fakultas Ekonomi, Universitas Muhammadiyah Aceh, melalui program pengabdian masyarakat.

Sedangkan dari sisi pertumbuhan ekonomi, kehadiran Taman Krueng Daroy menjadi ladang baru para pedagang "kaki lima". Setiap hari, pedagang-pedagang kecil itu datang mengisi bagian taman yang bersisian dengan jembatan Seulawah. Hal yang tak pernah absen hadir di setiap ruang terbuka yang ramai pengunjung.

Ya, bantaran Krueng Daroy kini memang telah berubah. Tampilannya lebih tertata rapi dan bersih. Wajah-wajah sumringah warga Kota Banda Aceh, Aceh Besar, dan barangkali dari luar kota, saban sore melengkapi spot wisata gratis itu.  

Dan jika Anda rindu wajah sejarah raja Aceh termasyhur Sultan Iskandar Muda, lukisan mural di taman ini "menapak-tilaskan" kisah-kisah heroik itu dalam satu dinding yang tertata rapi dan penuh arti. Selamat menikmati!  | TETI SUNDARIReporter Banda Aceh. 
 
 

Komentar

Loading...