Menguji Nasi Gurih Ayudia yang Laris-manis  

KBA.ONE, Banda Aceh - Selepas fajar, pelataran rumah di kawasan Lamlagang itu selalu ramai “diserbu” pembeli. Inilah salah satu tempat penitipan usaha nasi gurih Ayudia yang banyak peminatnya. Ada ratusan nasi gurih bungkus Ayudia, setiap hari, tersusun rapi di atas meja warung-warung kecil yang tersebar di Banda Aceh.

Tampil sederhana, rata-rata beratap tenda parasut warna-warni, tempat penitipan nasi gurih Ayudia ini boleh jadi menginspirasi perempuan rumahan lain untuk membangun usaha yang tidak memerlukan modal banyak. Tapi, jadi pertanyaan, dengan jumlah nasi hingga ratusan bungkus setiap pagi itu, bagaimana mereka mendapatkan daun pisang?

"Kami sudah punya langganan di pasar Peunayong. Karena kalau gak ada (langganan), susah dapat daun pisang untuk kebutuhan setiap hari," kata Evi, perempuan remaja, belakangan diketahui anak pemilik rumah itu, Yanti Muslinda, 45 tahun.

Evi bercerita banyak tentang usaha yang digeluti ibunya itu. Kepada KBA.ONE, dia menjelaskan  setiap hari membutuhkan 50 keping daun pisang untuk membungkus nasi gurih dagangannya. Daun itu terkadang mereka beli di pasar, tak jarang diantar langsung si penjual ke rumah mereka.

 “Untuk daun pisang saja habis 120 ribu rupiah setiap hari,” ujar Evi, saat rumahnya dikunjungi KBA.ONE di Gampong Lamlagang, Kec. Banda Raya, Banda Aceh, Kamis 14 Maret 2019.

Sang ibu, Yanti Muslinda, terlihat sedang sibuk beraktifitas. Tangannya begitu terampil  ikut mengoyak dan melipat helai-demi helai daun pisang.  Wanita ini bercerita mengenai usaha nasi pagi yang digelutinya.

Kata Buk Nong, sapaan akrab Yanti Muslida, usaha rumahan itu sudah mereka mulai sejak beberapa tahun lalu dengan modal hanya Rp500 ribu. Modal itu diperoleh dari anak tertua.

 "Udah 4 tahun, lebih kurang, sejak Dek Ti [panggilan untuk anak bungsunya] sekolah TK. Sekarang usia Dek Ti  sudah 9 tahun," kenang Buk Nong, ibu enam orang anak ini, kepada KBA.ONE.

Buk Nong mengungkapkan pertama kali usaha mereka adalah membuat kue. Namun, hasil yang dirasa terlalu kecil. Dia kemudian banting setir, memilih berjualan nasi gurih pagi. Di daerah sekitar Lamlagang, orang-orang menyebut usahanya "nasi 5 ribu." Karena harga satu bungkusnya memang hanya 5 ribu rupiah.

Walau ada orang lain yang berdagang nasi serupa, hasil olahan tangan wanita bertubuh sedikit berisi ini, termasuk ramai peminat karena memiliki rasa yang khas.

Usaha rumahan nasi gurih “5 ribu” Buk Nong menawarkan 10 pilihan menu lauk-pauk. Di antaranya telur dadar, ayam goreng, sambal teri, ikan keumamah dan pilihan lauk lainnya.

Rasanya yang lezat dengan menu khas keumamah (ikan tongkol suir yang disantan kering), ditambah sambal yang tidak terlalu pedas dan aroma wangi daun pisang, semakin membuat pelanggan nasi Buk Nong ketagihan.

Dimulai dengan omset biasa-biasa saja, penjualan nasi Buk Nong dari bulan ke bulan terus meningkat hingga mencapai 50 bungkus nasi perhari. Tahun berikutnya meningkat lagi dan kini dia mampu menjual hingga 400 bungkus nasi setiap paginya. Untuk 400 bungkus nasi, dia menghabiskan 2 karung  beras.

Selain dibantu anaknya, Evi, Buk Nong juga dibantu 2 orang tetangga dekat rumahnya. Tugas mereka membungkus nasi dengan upah 35 ribu per setengah hari. Upah lumayan untuk pekerjaan yang tidak menghabiskan waktu seharian.

Buk Nong memang harus bekerja keras dalam menjalankan usahanya itu. Sekitar pukul 03.00 dini hari, ibu dan anak ini sudah bangun. Mereka bahu-membahu mengolah dan memasak bahan makanan untuk memenuhi kebutuhan pelanggan. Banyaknya jenis menu yang disediakan, memaksa mereka harus bangun lebih awal dari orang kebanyakan.

Ada 15 warung lain yang menjadi tempat penitipan penjualan nasi gurih mereka. Tersebar mulai dari sekitar Lamlagang, Setui, Simpang Dodik, Keutapang hingga Lampeunerut, Aceh Besar. Selain itu, beberapa juga dititipkan di kantin RS Pertamedika dan Ateuk Pahlawan, Banda Aceh.

Ratusan bungkus nasi tersebut, mulai disebarkan pukul 06.00 WIB. "Kalau sampai jam 7, itu udah telat," kata Buk Nong.

Buk Nong dan anak-anaknya membagi tugas untuk mengantarkan nasi ke tempat penjual. Untuk setiap tempat, dia menitipkan paling sedikit 10 dan paling banyak 50 bungkus nasi. Tergantung permintaan.

Dari hasil penjualan tersebut, dia mengaku mampu mengantongi untung Rp5 juta hingga Rp6 juta per bulan. Hasil yang lumayan untuk membantu perekonomian keluarganya.

Persaingan antara para penjual nasi pagi pun tak terelakkan. Itu diakui oleh Buk Nong. "Harus banyak-banyak sabar," tuturnya sambil tersenyum.

Dinamika ini menunjukan bahwa usaha menjual sarapan pagi dengan harga terjangkau untuk semua kalangan, sudah banyak digeluti warga Kota Banda Aceh, khususnya kalangan ibu ibu.

Menutup percakapan di awal sore itu, Buk Nong tak lupa mengundang KBA.ONE untuk datang kembali di waktu subuh, untuk melihat langsung kesibukannya memasak dan menyiapkan nasi gurih untuk para konsumennya. | TETI SUNDARI, Reporter Banda Aceh.

Komentar

Loading...