Menjangkau Yaman, Berikan Kebaikan Iftar untuk Warga Distrik Hamdan

Menjangkau Yaman, Berikan Kebaikan Iftar untuk Warga Distrik Hamdan
Anak-anak Sana'a menerima paket iftar ramadhan | Foto: ACTNews

KBA.ONE, Sana'a - Menelusuri setiap sisi Kegubernuran Sana’a, kelaparan dan penggusuran masih menjadi kekhawatiran terbesar bagi warga Yaman yang terkungkung perang. Terlebih pada bulan suci Ramadan, kekhawatiran akan dua hal itu pun semakin memuncak. Ditambah minimnya kesempatan bagi mereka untuk memperoleh akses pemenuhan kebutuhan.

Harga barang pokok yang kian meninggi di Yaman sudah lama tak terelakan. Ini sudah tahun kelima, Ramadan di Yaman ditandai dengan kelaparan yang berujung pada krisis kemanusiaan. Bahkan PBB pernah menyatakan, Yaman menjadi sebuah negara dengan krisis kemanusiaan terparah di dunia. Blokade dan serangan hebat yang terjadi tanpa henti telah menyebabkan 3,3 juta warga Yaman terlantar. Sementara itu, jutaan lainnya membutuhkan bantuan kemanusiaan.

Membawa amanah kedermawanan masyarakat Indonesia di bulan Ramadan, Aksi Cepat Tanggap turut mendistribusikan bantuan iftar untuk warga Yaman. Para penerima manfaat adalah warga yang hidup di tengah reruntuhan dan rumah-rumah tua yang bahkan tidak lagi aman.

Andi Noor Faradiba dari Global Humanity Response ACT mengatakan, distribusi paket makanan siap santap untuk pertama kalinya digelar di Distrik Hamdan, Kegubernuran Sana’a, Yaman, Sabtu 25 Mei 2019. Setidaknya ada 200 warga Yaman di Distrik Hamdan yang telah menerima kebaikan iftar, amanah dari masyarakat Indonesia untuk Yaman.

“Distribusi paket iftar dibagikan di dua wilayah Shamlan, Distrik Hamdan, yakni Desa Al Showda dan Desa Shamlan,” terang Faradiba.

Dari Ramadan ke Ramadan, setiap tahunnya warga Yaman terus merasakan perbedaan yang signifikan. Mereka bukan menuju kondisi yang lebih baik, justru penuh keterpurukan. Bahkan situs berita Al Jazeera pernah menuliskan tentang kisah seorang ibu asal Sana’a yang mengibaratkan Ramadan kali ini dengan sebutan “Siang Puasa, Malam Kelaparan”.

Seorang ibu itu bernama Fatima Saleh 58 tahun yang mengaku harus berkeliling kota untuk mengunjungi rumah-rumah tetangga demi memperoleh cukup makanan untuk memenuhi kebutuhan pangan saat berbuka dan sahur untuk keluarganya. Kisah Fatima semakin memperkuat pernyataan PBB, di mana Yaman menjadi sebuah negara yang mengalami bencana kemanusiaan terparah di dunia.

“Insyaallah, ACT akan terus membersamai warga Yaman, terutama selama bulan Ramadan. Kami memohon doa dan dukungan masyarakat Indonesia semua, supaya Yaman bisa merasakan kebaikan iftar, sama seperti kalian. Tidak ada perang dan blokade yang menghalangi mereka memperoleh kebahagiaan Ramadan,” pungkas Faradiba. 

Komentar

Loading...