'Menunggangi' Buaya di Asam Kumbang

'Menunggangi' Buaya di Asam Kumbang
Pengunjung melihat buaya di taman penangkaran Asam Kumbang | KBA.ONE/Khadafy

KBA.ONE, Medan - Seorang lelaki dengan antengnya duduk di atas seekor buaya sembari tersungging lebar. Sedikit pun ia tak takut bakal dimangsa reptil ganas tersebut sebab moncong buaya itu dilakban erat. Jadi, aman untuk "ditunggangi". Tak lama setelah itu, giliran pengunjung lain menggendong buaya.

Keseruan seperti itu ada di Taman Penangkaran Buaya Asam Kumbang Medan, Sumatera Utara. Lokasi penangkaran buaya ini berada tak jauh dari pusat kota, yaitu di Jalan Bunga Raya II Kelurahan Asam Kumbang, Kecamatan Medan Selayang.

Taman seluas dua hektare tersebut menampung lebih dari tiga ribu ekor buaya muara. Mulai dari anak hingga induk betina buaya beragam usia ada di situ. Yang tertua bahkan mencapai 69 tahun.

Sofrin Ndururu, wisatawan asal Nias, Sumatera Utara, datang ke tempat itu karena terpikat sensasi melihat buaya secara langsung. "Ada sensasi tersendiri yang kita rasakan ketika melihat ribuan ekor buaya secara langsung di depan mata. Kalau di kebun binatang biasanya hanya beberapa [ekor] saja," ujarnya kepada KBA.ONE, Minggu, 25 November 2018.

Ditambah lagi, kata Sofrin, taman juga asri dan rimbun dengan pepohonan. "Enak kita main-main di sini, sambil melihat kehidupan buaya di penangkaran."

Sementara Pipit, wisatawan asal Aceh Barat sengaja jauh-jauh datang ke taman tersebut bukan hanya untuk merasakan sensasi melihat buaya. "Tetapi kita juga secara langsung dapat memberikan makan buaya dengan melemparkan itik ke dalam kolam penangkaran. Ngeri-ngeri sedap, saat kita melemparkan itik ke arah kolam, tiba-tiba dari dalam kolam sudah nongol kepala buaya mengejar itik itu," ungkapnya.

Setiap pengunjung yang ingin memberi makan buaya mesti membeli itik yang disediakan di penangkaran. Seekor itik harganya Rp35 ribu. "Tidak mahal, ditambah biaya masuk per orang Rp10 ribu, sangat terukurlah untuk ukuran kantong masyarakat," ujar Pipit.

Tidak hanya itu, pengunjung juga dapat menyaksikan atraksi pawang bermain bersama buaya. "Pengunjung juga bisa ikut berinteraksi dan berfoto bersama buaya," ujar Pipit.

Jumari, pengurus sekaligus pawang buaya di penangkaran Asam Kumbang menceritakan, taman itu didirikan Lo Than Muk. Berawal dari kegemaran memelihara buaya sejak 1959, Lo Than Muk mendirikan taman pada 1975.

"Awalnya [buaya] berjumlah 12 ekor saja, dan jumlah itu terus bertambah hingga sekarang. Sekitar tahun 80-an tempat ini dibuka untuk wisata," ujar Jumari. Taman penangkaran tersebut, kata Jumari, bisa berkembang hingga kini berkat keuntungan dari tiket masuk wisatawan.

Komentar

Loading...