Militer Israel Serang Beberapa Target di Suriah

Militer Israel Serang Beberapa Target di Suriah
Militer Israel menyerang pos keamanan Suriah setelah dua roket menghantam dataran tinggi Golan | NY Times

KBA.ONE - Militer Israel menyerang serangkaian target milik rezim Suriah pada Minggu (25/6/2017). Militer "menyasar dua posisi artileri dan sebuah truk amunisi milik rezim Suriah," setelah tembakan dari Suriah menghantam Dataran Tinggi Golan yang dikuasai Israel.

Tidak ada korban yang dilaporkan, namun militer Israel memperingatkan warga sipil agar tidak berkumpul di daerah terbuka di dekat perbatasan. Beberapa jam sebelumnya, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menanggapi serangan itu dalam sidang kabinetnya.

"Kami tidak akan mentolerir tumpahan atau rembesan, apa pun namanya. Kami tidak menghendaki adanya tembakan mortir atau roket, dari medan manapun. Kami akan menanggapi dengan keras serangan apapun terhadap wilayah kami atau warga negara kami," kata dia. Israel belum memainkan peran aktif dalam perang di Suriah, namun pada masa lalu telah merespons ketika pertempuran tersebut meluas melintasi perbatasan Suriah.

Sebelumnya pada April lalu, militer Israel menyerang sebuah kamp milisi pro-pemerintah Suriah di dataran tinggi Golan, dan menewaskan tiga orang. Seorang pejabat militer Israel mengatakan, dua orang anggota milisi juga terluka dalam serangan di kamp Al-Fawwar, tak jauh dai Quneitra, Suriah. Namun, pejabat itu tak bisa memastikan apakah kerusakan di kamp tersebut adalah akibat serangan udara atau pengeboman artileri.

Angkatan Darat Israel menyebutkan tengah mengincar posisi milisi di Suriah sebagai permbalasan atas serangan mortir yang mengenai wilayah utara dataran tinggi Golan. Sementara itu, kantor berita Suriah, SANA, mengabarkan, Israel menyerang sebuah posisi militer Suriah di provinsi Quneitra dan mengakibatkan "kerusakan".

Israel mencaplok wilayah Dataran Tinggi Golan setelah Perang Enam Hari pada tahun 1967, namun langkah tersebut tidak pernah diakui oleh masyarakat internasional. Israel kemudia menganeksasi wilayah yang direbutnya itu tetapi langkah tersebut tak diakui dunia internasional. Sementara, Suriah saat ini hanya mengontrol sekitar 510 kilometer persegi dataran tinggi Golan itu. Secara teknis Israel dan Suriah masih berperang, meski selama beberapa dekade terbilang cukup tenang hingga 2011 ketika konflik Suriah pecah.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan, wilayah dataran tinggi Golan, yang dianeksasi Israel, akan tetap dimiliki oleh Israel selamanya. "Dataran tinggi Golan akan tetap berada di tangan Israel selamanya," kata Netanyahu ketika mengawali sidang kabinet pertamanya di wilayah itu. "Israel tak akan menarik diri dari dataran tinggi Golan," kata Netanyahu lagi dalam seruan yang disebarluaskan melalu siaran radio setempat.

Israel mengkhawatirkan milisi Syiah Lebanon, Hezbollah akan membangun kekuatan untuk melawan Israel di perbatasan Suriah. Kelompok militan yang selama ini diketahui terkait dengan kelompok teroris Al-Qaeda dan Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS), juga dapat menebar ancaman. Pernyataan Netanyahu ini datang di tengah gencatan senjata yang rapuh di Suriah, dan proses negosiasi di Swiss antara rezim Bashar al-Assad dan pihak oposisi.

Komentar

Loading...