Nifak

Nifak
Ilustrasi: data and society

KATA ini mungkin tak terlalu familiar. Namun pelakunya sepertinya tak asing: munafik. Dalam Islam, ini adalah sifat yang sangat tercela. Bahkan sejumlah literatur menggambarkan sifat ini sebagai penyakit yang berbahaya; menjijikkan dan berdampak sangat buruk.

Keburukan akibat sifat ini tidak hanya dirasakan oleh pengidapnya, namun juga bagi orang-orang di sekitarnya. Namun sama seperti penyakit hati lainnya, yang satu ini sulit terdeteksi, bahkan oleh penderitanya.

Dalam sebuah hadis, digambarkan bahwa orang-orang yang menderita sakit yang satu ini akan berbohong saat berbicara, mudah mengingkari janji dan tak bisa memegang kepercayaan.

Seorang ulama besar Islam mengatakan nifak adalah menampakkan kebaikan dan menyembunyikan keburukan. Ibnu Juraij mengatakan “orang munafik ialah orang yang omongannya menyelisihi tindak-tanduknya, batinnya menyelisihi lahiriahnya, tempat masuknya menyelisihi tempat keluarnya, dan kehadirannya menyelisihi ketidakadaannya.” (muslim.or.id)

Jika para bandit menampakkan kejahatannya secara terang-terangan, munafik berlaku sebaliknya. Mereka bertopeng di balik simbols-simbol. Berlaku seolah-olah pahlawan, tapi sebenarnya hanya orang-orang lemah yang dengan mudah menyalahkan orang lain saat tak mampu mempertanggungjawabkan keputusannya.

Dan orang-orang ini berkeliaran di mana-mana. Tak hanya saat berurusan dengan syariat Islam. Penyakit ini menebar ke seluruh lapisan sosial. Dan semua ini dimulai dari para pemimpin.

Saat tak dapat mempertanggungjawabkan perubahan hasil tes calon seleksi manajemen Badan Pengusahaan Kawasan Sabang, misalnya, mereka akan menggunakan berbagai alasan sebagai dalih. Berjanji untuk bersikap transparan dan terbuka hanya pemanis bibir. Selebihnya: dusta.

Publik tentu tak bisa berharap dari pemimpin yang bersikap seperti ini. Apalagi, para pemimpin ini terus berjanji untuk bersikap transparan namun perilakunya menunjukkan hal yang berbeda.

Mungkin lebih baik jika publik dijelaskan dengan pilihan-pilihan yang mereka ambil tanpa ditutup-tutupi. Ini akan lebih baik martabatnya. Dan yang lebih penting, tidak terus menerus mengajarkan masyarakat untuk “menghargai” kecurangan dan menjadi seorang pengecut.

Komentar

Loading...