Penerbangan Terakhir Jurnalis Abadi

Penerbangan Terakhir Jurnalis Abadi
Allahuyarham Abadi Selian (tengah), Adytiawarman (berkacamata), dan dr Bunyamin (kanan). | Foto: Istimewa.

Dan tidak ada yang bisa meramalkan bahwa kelak, inilah pesawat terakhir yang menerbangkan Abadi Selian di kehidupan dunia.

KBA.ONE, Singapura - Cangi, International Airport Singapura, Minggu 17 Februari 2019, pukul 12 siang waktu setempat. Detak waktu di jantung kota Negeri Singa itu berdenyut biasa meski cuaca sedikit gerah.

Di dalam manifes, di ruang kapsul pesawat Malaysia Airlines siang itu, duduk tersandar dr. Bunyamin, dr. Bukhari bin Samian, Abadi (Selian) Arba’in, Adytiawarman, dan penumpang lain.

Prosedur tetap penerbangan berlangsung biasa, lancar, dan tidak ada penundaan waktu. Beberapa saat setelah pesawat lepas landas dari Bandara Cangi, dan lampu peringatan boleh melepas safety belt dipadamkan, sosok Abadi Selian sesaat kelihatan gundah. Rupanya ia berniat menunaikan salat sunat dua rakaat.

Dia lantas bertayamum, lalu…"Allahu Akbar…," Abadi salat. “Bang Abadi sehat-sehat saja, tidak ada keluhan saat itu.  Cuma, air mukanya saja yang sedikit pucat,” cerita Adytiawarman, sosok wartawan yang paling dekat dengan Abadi.

Dan tidak ada yang bisa meramalkan bahwa kelak, inilah pesawat terakhir yang menerbangkan Abadi Selian di kehidupan dunia.

Abadi Selian adalah jurnalis andal dan berpendirian kokoh. Prinsip hatinya keras seperti tembok batu cadas bila itu beda tujuan dengan kepentingan bersama.

Padahal, sesungguhnya, Abadi adalah teman mengasyikkan, selalu memuliakan tamu dan berhati lembut. Bahkan, jika “kena” di hatinya, Abadi lelaki paling santun tatkala berhadap-hadapan dengan seniornya.

Mengawali karier jurnalistik di  Harian Analisa Medan, Abadi tertambat hingga akhir hayat di Harian Waspada Medan untuk wilayah tugas Kutacane, setelah ia melepas posisi kontributor di televisi berita Metro TV.

Pria kelahiran Batumbulan, Kutacane, 15 April 1975, ini adalah Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Aceh Tenggara sejak tiga tahun lalu. Bersama jabatan yang diemban itulah dia melawat ke Singapura via Kualanamu, transit Kuala Lumpur.

Kepergiannya bersama dokter Bunyamin, dokter Bukhari, dan Adytiawarman, biasa disapa Ady, ke Singapura adalah perjalanan biasa. Mereka berempat sepakat berakhir pekan sambil jalan-jalan “menyuci mata” dari kepenatan.  

Abadi bersahabat baik dengan dokter Bukhari, Kepala RS Sahudin Kutacane, Aceh Tenggara, sebuah rumah sakit umum daerah yang kelak menjadi tempat Abadi dirawat dan menghembuskan nafas terakhirnya.

Dari jejak persahabatan dengan dokter Bukhari inilah perjalanan Abadi ke Singapura itu dimulai pada  Rabu malam, 14 Februari 2019.  “Kami berangkat dari kediaman dr. Bukhari di Kutacane sekitar pukul 24.00 WIB menuju bandara Kualanamu, Medan,” cerita Adytiawarman.

Setelah menempuh perjalanan darat yang melelahkan, keesokan paginya, sekitar pukul 08.30 WIB, keempat “orang penting” di Aceh Tenggara ini tiba di bandara Internasional Kualanamu, Medan.

Keempatnya bergegas merapikan equipment perjalanan untuk persiapan chek in pukul 09. 30 WIB. “Sekitar pukul 10.00 WIB kami terbang menuju Singapura, transit di Kuala Lumpur,” kenang Ady kepada KBA.ONE.

Medan-Kuala Lumpur-Singapura adalah penerbangan jarak pendek dan tidak begitu melelahkan. Tak lama terbang, setelah transit 2 jam lebih di Kuala Lumpur, sekitar pukul 15.00 waktu setempat, pesawat landing di landasan Cangi, Singapura, salah satu bandara paling sibuk dan paling bising di dunia. 

Psawat terakhir yang ditumpangi Abadi Selian. | Foto: Adytiawarman.

Begitu menjejak “Kota Seribu Larangan”,  Abadi dan ketiga sahabatnya menuju Orchad Hotel dan istirahat di kamar 134 lantai 16. Malam itu, semua berjalan biasa. “Tidak ada tanda-tanda aneh yang dinampakkan bang Abadi. Bahkan ia selalu bilang kuat dan sehat,” kenang Adytiawarman.

Tapi, keesokannya, Abadi mulai merasakan keluhan sakit di bagian kepala. Dia berkeluh kesah soal sakit itu kepada Ady, teman dekat yang sudah seperti adik sendiri. Karena tak kuat menahan sakit, Abadi meminta Ady membelikan obat Panadol.

“Saya cari di swalayan sejenis Indomart di sekitar hotel. Dan Alhamdulillah ada. Saya langsung beli satu keping berisi 12 tablet. Saya berikan ke bang Abadi dan dia langsung minum 1 butir,” kata Ady.

Tapi, obat panadol itu tak juga meredakan sakit kepala Abadi sehingga dia meminta Ady untuk memijat bagian kepala yang sakit dan serasa mau pecah. “Ada sekitar 40 menit saya pijat kepalanya, tapi tetap saja sakit itu tak berkurang.”

Malam itu, Abadi memutuskan tetap berdiam di kamar hotel. Baru setelah paginya dia mengajak Ady  breakfast di restoran hotel. “Setelah sarapan kami ngumpul sama dokter Bukhari. Lalu dokter Bukhari mengajak kami membeli oleh-oleh ke Kampung India untuk dibawa pulang ke Indonesia,” kata Ady.

Abadi dan ketiga rekannya sempat menyasar pusat perbelanjaan di Singapura selama sekitar 5 jam, yaitu dari pukul 10.00 WIB hingga pukul 16.00 WIB. “Semua baik-baik saja. Selesai belanja dan jalan-jalan, kami kembali ke hotel dan istirahat,” ujar Ady.

Minggu siang tanggal 17 Februari 2019, Abadi dan rombongan terbang meninggalkan Singapura.  Ketika  transit di Kuala Lumpur, perjalanan Abadi sudah tidak nyaman lagi. “Bang Abadi muntah sangat bayak di toilet bandara Kuala Lumpur,” kata Ady.

Tapi hebatnya, cerita Ady, Abadi selalu mengatakan tidak apa-apa. Meski di satu sisi, Abadi meminta Ady untuk memegang tasnya. “Dia tidak sanggup lagi membawa tas itu,” ungkap Ady.

Berpisah di Kualanamu

Setiba di Kualanamu, mereka berempat sempat menikmati kopi bersama sembari menunggu sopir dr. Bukhari  dan dr. Bunyamin menjemput. Tapi, tiba-tiba Abadi memanggil Ady.

“Kau pulang saja duluan ke Kutacane bersama dr. Bukhari, ya. Saya ada acara di medan ini, mungkin dalam 2 hari ini saya baru pulang,” kata Abadi seperti diceritakan kembali oleh Adytiawarman.

Ady pun menuruti permintaan Abadi. Bersama dr. Bukhari, Ady langsung pulang ke Medan mengendarai  mobil Toyota Innova. Tapi, pukul 18.00 WIB, tiba-tiba handphone Ady berdering. Rupanya telepon masuk dari Abadi. Dia meminta agar Ady menunda kepulangannya ke Kutacane.

“Saya mau berobat ke RS Permata Bunda. Saya sudah ada di sini, Ady kemari aja terus,” kata Abadi seperti dikutip Ady.

Begitu tiba di RS Permata Bunda Medan, Adi melihat Abadi tengah ditangani dokter untuk megecek tensi darah. Hasilnya, kata dokter, tekanan darah Abadi 190 mmHG. Abadi terpaksa diopname dan Ady ikut mendampingi selama dua hari.

Di Permata Bunda Medan, Abadi Selian sempat dirawat sekitar sepuluh hari. Abadi terkena hipertensi. Setelah kondisinya mulai  membaik, Abadi minta kembali ke Kutacane.

Tapi, baru dua hari di Kutacane, penyakitnya kambuh lagi dan dia kembali masuk ruang perawatan RSUD H.Sahuddin Kutacane.

Beberapa hari dirawat di RSUD Kutacane, Abadi merasa sehat, dan minta pulang ke rumah. Tapi, baru dua hari di rumah, bahkan dia sempat berjalan menghadiri pesta keponakannya, tiba-tiba kondisi Abadi  memburuk.

Senin 4 Maret 2019, Abadi anfal, mendadak tidak sadarkan diri dan dilarikan ke ruang ICU RSUD Sahudin Kutacane. Dua hari Abadi bertarung melawan maut di RSUD Sahudin.

Dan pada Rabu pagi, sekitar pukul 08.30 WIB, 6 Maret 2019, sampailah Abadi pada janji Allah SWT. Dia dipanggil “menghadap” Sang Maha Pencipta di usia 44 tahun. Tuntas sudah semua urusan duniamu, kawan.

Kami semua akan menyusulmu. Dan janji Allah itu pasti, sepasti Dia mengatur rahasia duniamu yang berakhir di RSUD Sahudin. Meski, kau sempat terpisah di Medan dari dokter Bukhari, kepala RSUD Sahudin, sahabat yang menemani jejak terakhir penerbanganmu ke dan dari The Lion City Singapura.

Telah tertunaikan sudah sebuah isyarat dari langit yang tak mungkin bisa diungkap manusia. Innalillahi wa Innailaihi Rajiuun…. Selamat jalan jurnalis Abadi (Selian) Arba’in. Kami doakan engkau husnul khotimah menjalani kehidupan abadi yang sesungguhnya. ***

Komentar

Loading...