Pengungsi Yaman Bertahan dari Iklim Gurun dan Lapar

Pengungsi Yaman Bertahan dari Iklim Gurun dan Lapar
Pengungsi Yaman bertahan di tenda pengungsian | Foto: ACTNews

KBA.ONE, Sana'a - Yaman masih terpuruk. Dampak peperangan semakin memaksa sebagian besar warga Yaman untuk bisa bertahan hidup seadanya. Bisa menyisir pinggiran Kota Sana’a adalah sebuah kesempatan besar. Rudi Purnomo dari Tim Sympathy of Solidarity (SOS) for Yemen I yang hingga kini masih berada di Kota Sana’a, mengabarkan dirinya berkesempatan menyambangi dua desa di Distrik Hamdan, yakni Al-Arah dan Ar-Raqah.

Kedua desa itu letaknya berada di pinggiran Kota Sana’a. Untuk menempuh dua lokasi tersebut, dibutuhkan waktu 3 jam perjalanan dari pusat kota. Rudi mengaku, jarang memang bertemu pengungsi di pusat Kota Sana’a. Pengungsi internal umumnya berada di pinggiran Kota Sana'a, seperti di Desa Al-Arah dan Ar-Raqah, yang dihuni penyintas konflik dari Kota Hodeidah dan Kota Sa'dah.

Sesampainya di Desa Al-Arah, gurun lapang nan gersang menyambut. Jauh dari hiruk-pikuk kehidupan kota, di Desa Al-Arah tidak tampak gedung atau bangunan megah. Yang ada hanya pengungsi yang tinggal di kamp-kamp sederhana, terbuat dari batu-batu yang disusun dan lembaran terpal sebagai atapnya.

Lokasi pengungsian warga Yaman | Foto: ACTNews

Kondisi semakin miris sebab mereka tinggal di lingkungan dengan sanitasi yang buruk pula. Menurut cerita Rudi, kamp-kamp mereka tampak kotor, penuh dengan sampah yang berserakan di mana-mana. Hal ini dikarenakan mereka memang tidak memiliki tempat pembuangan sampah. Hampir semua pengungsi tampak lusuh, antara tidak mandi atau pakaian mereka tidak dicuci.

“Jujur, saya tidak tahu mau berkata apa setelah melihat mereka langsung di sini. Kondisinya sangat memprihatinkan, hati saya sedih, saya turut berduka. Mereka hidup dengan sangat tidak layak, di tengah gurun pula, panas sekali,” ungkap Rudi.

Kamp Al-Arah dihuni oleh 31 keluarga dengan jumlah sebanyak 117 jiwa. Kepala Desa Al-Arah Ahmad mengisahkan, tidak ada lagi harapan bagi mereka untuk bisa hidup normal. Sebab, konflik yang berkepanjangan telah membuat mereka kehilangan harta dan benda, bahkan nyawa. Sekarang mereka hidup dalam ketakutan karena konflik sipil yang tak juga usai. Bagaimana agar bisa bertahan?

“Kami sangat membutuhkan bahan pangan sekarang. Kasihanilah anak-anak kami, mereka bahkan harus mengkonsumsi makanan yang dibuang. Beberapa anak sudah ada yang meninggal kemarin, beberapa lainnya menderita karena kelaparan. Kami butuh makanan segara mungkin,” tutur Ahmad.

Kisah serupa terlihat di Desa Ar-Raqah yang dihuni oleh sekitar 30 keluarga. Salah seorang warga yang tidak ingin disebutkan namanya mengaku, beberapa bantuan sempat datang di kamp-nya. Namun, ketika konflik kembali memanas, tidak ada lagi bantuan hadir untuk mereka. “Kami butuh makanan, tempat tinggal, selimut, penampungan air, layanan kesehatan, sanitasi. Kami mohon bantu kami,” jelasnya.

Perang terhadap anak-anak

Baik Kamp Al-Arah maupun Kamp Ar-Raqah memang didominasi oleh anak-anak. "Ini menunjukkan bagaimana anak-anak juga menjadi korban perang. Perang tidak hanya membuat mereka mengungsi dengan segala keterbatasan. Perang juga berdampak pada begitu banyaknya anak meninggal di Yaman setiap harinya. Entah itu karena kena serangan, kelaparan, atau penyakit,” tutur Rudi.

Anak-anak pengungsi Yaman | Foto: ACTNews

Bahkan PBB pernah menyatakan, konflik berkepanjangan di Yaman juga telah menjadi ‘war on children’, di mana setiap 10 menit seorang anak meninggal dunia di Yaman. Sebab lebih dari 400.000 anak menderita karena kelaparan, sedang 1,5 juta lainnya terjangkit malnutrisi akut sehingga sangat membutuhkan bantuan agar bisa bertahan.

“Yaman sudah menjadi neraka bagi jutaan anak. Hari ini setiap anak laki-laki, juga setiap anak perempuan di Yaman hadari situasi yang menakutkan,” menurut PBB, dilansir dari National Public Radio.

Lagi-lagi, seperti di manapun konflik terjadi, warga yang tak bersalah lah yang justru terkena imbasnya. Bukan hanya perihal kehilangan harta dan benda, tetapi konflik yang berkepanjangan di Yaman juga menentukan seberapa lama mereka bisa bertahan. Insya Allah, Tim SOS for Yemen I - ACT akan mengupayakan agar bantuan segera diterima oleh mereka. []

“Kami mohon doa, semoga lekas akan kami sampaikan amanah masyarakat Indonesia untuk penyintas konflik Yaman di pinggiran Kota Sana’a. Kami juga masih terus menyisir untuk bertemu lebih banyak lagi masyarakat Yaman dengan segala kisah pilunya. Mohon doa semua,” pungkas Rudi. []

Komentar

Loading...