Ahmad "Morenk Beladro" Mauladi

Penjaga Seni Oposisi itu Telah Tiada

Penjaga Seni Oposisi itu Telah Tiada
Allahuyarham Morenk Beladro. | Foto: FB

Salah satu karya abadi Morenk adalah lekak lekuk gerbang pintu lima kuburan massal Ulee Lheue.

KBA.ONE, Jakarta - Menyebut nama Morenk Beladro sama kerennya menikmati karya-karya seni desain oposisi yang dia lahirkan dan kilaukan. Begitu juga iradat Sang Khalik yang menghidupkannya dengan tampang lumayan keren, berikut mematikannya di usia paling keren; usia produktif, 44 tahun.

Ahmad Mauladi nama otentik lelaki penyuka warna hitam itu. Kelak, ia lebih gaul dipanggil Morenk Beladro. Aku lupa asal muasal nama beken itu kian melekat hingga akhir hayat. Padahal, satu kala, Morenk pernah berkisah tentang "what is the mine name".

"Tak soal orang memanggil gua apa, yang penting gua punya nama," kata Morenk berseloroh, satu ketika.

Morenk dan Sinta Nuriyah Gus Dur. | Foto: Fb.

Allahuyarham Morenk adalah jejaka paling punya banyak ide. Sangat kreatif di bidang seni desain, budaya, bahkan sejarah.

Tak cuma itu, alumni IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini juga paling suka mengkritisi lewat seni terhadap kebijakan pemerintah yang tidak populer. Menumpuknya angka pengangguran dan jengahnya  melihat anak muda yang pasif.

"Inilah alasan mengapa gua paling getol menyuarakan industri kreatif," kata Morenk dalam satu obrolan malam di Yellow Cafe Banda Aceh.

Saat itu, pada Mei 2017, Morenk tengah mendesain logo web Kantor Berita Aceh (www.kba.one). Di ujung malam, saat kafe sudah tutup dan kami, ada Mohsa El Ramadan, saya, dan Fauji Yudha, diberi leluasa untuk duduk di bawah payung terpal. Saat itu pula ide Morenk bertaburan layaknya gemerlap bintang di langit.

Status IG J Kamal Farza, sahabat Morenk,  yang mengabarkan rencana pernikahan. | Foto: IG.

Sesekali, aku melirik ke sisi kiri lehernya yang mulai membesar. Sangat berbeda dibanding 2006 ketika ia mendesain logo Koran Harian Rajapost di Bireuen. Tapi aku tak berani menyoal perubahan drastis di lehernya itu. Sama tak beraninya aku menanyakan kapan dia akan menikah.

Morenk adalah sosok bersahabat. Tapi ia bukan tipe orang yang suka "nyelonong" mencungkil lapisan dinding privasi teman. Kecuali bagian sensitif hatinya tercokeh. Dia bisa segarang macan.

Kehadirannya di tengah teman dan pergaulan selalu menularkan rasa hangat. Apalagi dia suka menyumbang ide-ide kekinian yang kadang cukup menguras akal kebiasaan. 

Morenk, kedua dari kanan, saat mengunjungi redaksi KBA.ONE. 

Tapi tak pernah terbayang bahwa sosok Morenk pernah "gundah" dengan sikap legenda hidup Iwan Fals ketika ia membidani musisi ini konser di Banda Aceh pada 21 April 2007.

Konser itu bertajuk Hikayat Rindu Tiga Maestro: Iwan Fals, Sawong Jabo, dan WS Rendra. Sebagai organizer, Morenk sukses mengejutkan orang banyak melalui pementasan terbuka yang menyuguhkan semangat heroisme Aceh masa lalu. Dari situ, nama Morenk kian melambung meski ia rada kecewa.

Desain konser Hikayat Rindu Tiga Maestro. | | Foto: Repro 

"Iwan itu orangnya agak payah," keluh Morenk tanpa merinci arti kata "payah" itu. "Pokoknya gua kurang sreg aja."

Itulah Morenk, jika tak suka dia bilang benderang. Tidak diam menyimpan dendam.

Ya, perjumpaan dengan Morenk memang selalu menyenangkan. Lelaki eksentrik ini punya cara bertutur mengasyikkan. Dia, walaupun bukan pelawak, punya selera humor lumayan tinggi. Tak jenuh semeja kopi dengan Morenk. Selalu ada makna di setiap perbincangan.

Dua tahun lalu, ia sempat main-main ke redaksi KBA.ONE di Lampu Merah Batoh, Banda Aceh. Morenk baru datang dari Jakarta, tempat di mana ia sekarang menjalankan bisnis warung kopinya.

Dia tiba di kantor dengan motor bebek butut. Di punggungnya ada sebuah ransel yang isinya entah apa. Bang Morenk--demikian beberapa awak redaksi yang lebih muda memanggilnya--tampak berbeda.

Ketika dia membuka helm,  tampak kepalanya sudah plontos. Dia membabat habis semua rambut gondrong yang pernah membuat orang menyangkanya penyanyi rock. 

Status Yuswardi Suud, sahabat Morenk, saat terakhir menjenguk di RS Gading Pluit Jakarta. 

Morenk memang seniman. Bidangnya bukan musik tapi desain grafis. Itu keahlian mantan Art Director di Multivision Plus Jakarta ini dikenang banyak kolega, termasuk KBA. Logo KBA yang bertengger hingga sekarang didesain Morenk pada Mei 2017. Berbilang tahun sebelum KBA berdiri, pada 2006, ia juga merancang logo Harian Rajapost di Bireuen. 

Gerbang kuburan massal Ulee Lheue maha karya Morenk. | Foto: Fb. 

Di luar itu, Morenk terlibat banyak sekali dalam urusan desain-mendesain. Bahkan, menurut beberapa orang, rancangan Morenk memiliki karakter khas. Rasanya, pria ini pantas disebut sebagai salah satu desainer terbaik di Aceh, bahkan Indonesia. Kalau mau sedikit bukti, datang saja ke kuburan massal Ulee Lheue. Amati lekat-lekat gerbang makam itu. Gerbang berpintu lima tersebut adalah salah satu karya Morenk.

Berjuang Melawan Tumor

Hingga pertemuan terakhir di redaksi KBA.ONE, lama tak bersua dengan Morenk. Ternyata, sejak itu Morenk tengah berjuang melawan penyakit tumor ganas di mulut. 

Morenk ketika dirawat di RS Gading Pluit. | Foto: Fb Yuswardi Suud.

Berbulan-bulan kemudian, dia sempat menuliskan di dinding Facebook nya tentang pengobatan di Bali. Setelah di Bali, Morenk dirawat di Jakarta, di Rumah Sakit Gading Pluit. Di sana, ternyata menjadi titik terakhir perjuangan Morenk. Pada 10 Juni 2019, dia berpulang ke rahmatullah di usia 44 tahun, 25 Maret 1975. Inna lillahi wainna ilaihi raji'un, dari Allah kita datang dan kepadaNya jugalah kita kembali.

Selamat jalan Sang Penjaga Seni Desain Oposisi. Janjimu telah sampai, janji kami pasti tiba di waktu berikutnya.  Kenangan tentangmu akan tetap abadi, kawan, seperti karyamu di pusara tanpa nama; makam syuhada korban tsunami itu. ***

Komentar

Loading...