Pertempuran di Hajjah Menambah Keterpurukan Yaman

Pertempuran di Hajjah Menambah Keterpurukan Yaman
Penduduk Hajjah | Foto: ACTNews

KBA.ONE, Hajjah - Pertempuran yang tak pernah surut terus membuat Yaman masuk ke dalam kondisi terpuruk. Belakangan Provinsi Hajjah lah yang dikabarkan menjadi satu wilayah paling terkena dampak. Utamanya di tiga distrik bernama Distrik Haradh, Distrik Hayran, dan Distrik Mustaba.

Menurut laporan PBB untuk urusan kemanusiaan (OCHA), sekiranya tercatat 42 warga sipil menjadi korban akibat pertempuran di Provinsi Hajjah, sepanjang 24-30 Januari 2019. Sebanyak 8 orang meninggal dunia, 27 orang menderita luka serius, sedang sisanya mengalami luka ringan.  

Tak hanya korban jiwa, pertempuran juga telah menyebabkan sebagian besar penduduk provinsi yang terletak di barat daya Yaman itu mengalami lonjakan eskalasi penduduk. Pergi melarikan diri, mengungsi ke distrik yang dianggap lebih aman untuk mencari perlindungan, salah satunya Distrik Abs masih di dalam Provinsi Hajjah.

“Distrik Abs tercatat telah menampung sekitar 23.000 keluarga yang sebagian besar sudah terlantar beberapa kali selama empat tahun terakhir. Mereka hidup dalam kondisi yang mengerikan,” begitu pernyataan PBB untuk urusan kemanusiaan (OCHA) yang ditulis dalam situs berita The National.  

Provinsi Hajjah sendiri adalah salah satu wilayah yang dinyatakan mengalami tingkat krisis tertinggi di Yaman. Temuan Klasifikasi Fase Keamanan Pangan Terpadu (IPC) yang dirilis pada Desember 2018 menunjukkan, lebih dari satu juta jiwa di Hajjah berada di ambang kelaparan.

Bahkan, PBB pernah menggambarkan kondisi di Yaman, termasuk Provinsi Hajjah, sebagai bencana kemanusiaan terburuk di dunia. Pasalnya, perang telah membuat kehidupan Yaman berada di ujung tanduk. Sistem perekonomian ambruk, dan sebagian besar penduduknya tidak lagi merasakan fasilitas publik seperti layanan kesehatan.

Pernah dengar tentang kisah seorang anak perempuan yang menderita malnutrisi bernama Fatima Qoba? Ya, Qoba sendiri berasal dari Provinsi Hajjah. Sejak melarikan diri dari rumahnya, Qoba dan keluarga hidup serba kekurangan. Bahkan, Qoba tak mendapatkan penanganan untuk memperbaiki kesehatannya karena tidak memiliki uang.

Terlebih lagi sistem kesehatan di Yaman juga sedang di ujung kolapsnya. Banyak rumah sakit yang dikabarkan kekurangan alat medis, juga obat-obatan. Akibatnya, Qoba yang sempat mendatangi beberapa rumah sakit pun terus mendapat penolakan. Beruntung pada akhirnya, Qoba mendapat penanganan di salah satu klinik malnutrisi di Provinsi Hajjah, setelah mencoba berbagai upaya.

Penderitaan Qoba, sekali lagi, menjadi cerminan tentang apa yang terjadi di sebagian besar wilayah Yaman. Sepanjang hari terkungkung perang yang terus berkobar, jutaan penduduk Yaman bertahan seadanya. Tak hanya sistem kesehatan, perekonomian pun ikut ambruk, membuat jutaan populasi Yaman tak mampu memenuhi kebutuhan hidup.

Ujungnya, kasus kelaparan bahkan malnutrisi tak terhindarkan. OCHA menyatakan, hampir 10 juta orang menderita kelaparan ekstrem dan 240.000 orang mengalami kesenjangan konsumsi makanan yang besar. Penduduk Yaman kini menjadi rentan sejak eskalasi terjadi pada Maret 2015. Jika dihitung secara keseluruhan, 230 dari 333 distrik yang ada di Yaman alami risiko kelaparan. 

Komentar

Loading...