Ribuan Paket Musim Dingin untuk Pengungsi Suriah di Perbatasan

Ribuan Paket Musim Dingin untuk Pengungsi Suriah di Perbatasan
Pengungsi Suriah menerika paket bantuan untuk menhadapi musim dingin | Foto: ACTNews

KBA.ONE, Reyhanli – Bumi Syam kembali memasuki musim dingin, dimulai pada awal November hingga Maret mendatang. Suhu pun kini tidak lagi melebihi angka tiga belas derajat Celsius. Bagi warga di perbatasan Turki-Suriah dengan hunian yang dilengkapi dengan pemanas dan memiliki perlengkapan musim dingin yang memadai, dinginnya udara tentu tak menjadi soal. Namun, bagaimana dengan para pengungsi Suriah yang hingga saat ini masih hunian sementara yang kurang memadai?

Sejak eskalasi besar-besaran terjadi di Suriah, kota kecil Turki yang bernama Reyhanli telah menjadi perhatian khusus bagi lembaga-lembaga kemanusiaan dunia, utamanya pada musim dingin. Pasalnya, wilayah tersebut merupakan kantung pengungsi Suriah yang cukup besar di Turki, mengingat letaknya berada di perbatasan antara Suriah dan Turki. Hingga sekarang jumlah pengungsi Suriah tercatat ada sebanyak 125.000 jiwa, melebihi jumlah warga Reyhanli yang hanya ada sekitar 90.000 jiwa.

Di musim dingin seperti ini, tak bisa dipungkiri makanan masih menjadi hal pokok yang mereka butuhkan. Minimnya penghasilan sebagai pengungsi di negeri orang, sering kali membuat mereka kesulitan membeli bahan pangan. Apalagi kalau tiba-tiba harga bahan pangan melonjak tinggi pada musim dingin.

Akibatnya, udara dingin akan memperburuk kondisi mereka yang sedang kelaparan. Mereka tak memiliki pasokan makanan, juga tak memiliki uang untuk membeli bahan pangan. Kondisi tersebut biasanya berujung terjadinya wabah penyakit seperti flu, depresi, penyakit kulit, bahkan berpengaruh pada tekanan darah.

Said Mukaffiy dari Global Humanity Response (GHR) Aksi Cepat Tanggap pun mengatakan, bersamaan dengan datangnya musim dingin, Indonesia Humanitarian Center kembali mendistribusikan ribuan paket Winter Aid untuk para pengungsi Suriah di Reyhanli, Hatay, Turki. Selama satu pekan, Said dibantu beberapa relawan lokal memberikan paket yang berisi 20 jenis bahan pangan dan 3 jenis non-pangan.

“Setiap satu boks sekiranya bisa mereka gunakan untuk satu bulan penuh. Satu boks untuk satu keluarga pengungsi. Di dalam paket itu ada beras, minyak, gula, garam, kacang-kacangan, bumbu zahter, minyak zaitun, makaroni, dll. Sedang yang non-pangan ada sabun dan sampo untuk orang dewasa, juga ada yang untuk anak bayi,” papar Said.

Kata Said, IHC-ACT juga secara rutin terus membagikan roti hangat kepada keluarga setiap harinya. “Kami berusaha untuk menjaga pasokan logistik para pengungsi yang berada di perbatasan, khususnya saat-saat musim dingin seperti sekarang. Kami tahu biasanya siklus terjadi selama dua tahunan. Jika tahun kemarin tidak begitu dingin, kami khawatir sekarang akan lebih dingin,” jelasnya.

Selain pangan, apalagi yang mereka butuhkan?

Meski Reyhanli tidak langganan bersalju, rasa dingin di kota kecil itu sama mencekamnya bagi pengungsi Suriah. Apalagi bagi mereka yang tidak memiliki rumah, tinggal di tenda tanpa penghangat ruangan bukanlah perkara mudah. Jangankan penghangat ruangan, jaket atau sekadar selimut pun masih banyak yang tidak punya.

Seorang pengungsi Suriah yang tidak ingin disebutkan namanya mengatakan, “Kami juga membutuhkan jaket, selimut, dan pakaian musim dingin. Kami belum memiliki perlengkapan itu, kami khawatir nanti akan lebih dingin dari ini, malam saja sekarang sudah dingin sekali. Kasihan anak-anak kami, mereka akan kedinginan sepanjang hari.”

Insya Allah, nantinya IHC-ACT di Reyhanli juga akan melaksanakan program Winter Aid dalam waktu dekat. IHC-ACT akan mendistribusikan pakaian hangat seperti jaket dan perlengkapan musim dingin lainnya. Bahan bakar juga akan diberikan untuk menopang pemanas ruangan kepada pengungsi Suriah yang berada di Reyhanli.

“Kami mohon doa agar selalu mendapat kemudahan dalam membersamai mereka, terlebih saat musim dingin seperti sekarang. Insya Allah selalu ada jalan untuk setiap kebaikan,” tutur Said. []

Komentar

Loading...