Gerakan Relawan, Unjuk Karya Strategis - Nusantara - Kantor Berita Aceh (KBA)

Safari Pra Qurban 2018

Gerakan Relawan, Unjuk Karya Strategis

Gerakan Relawan, Unjuk Karya Strategis
Akademi Relawan Indonesia (ARI) |Foto: ACTNews

KBA.ONE, Yogyakarta - Laju krisis kemanusiaan tidak menoleransi penundaan dan pelambanan. Berkarya cepat jadi budaya, menyelamatkan organisasi dari kesia-siaan. "Merencanakan kebaikan jangan terkendala ketiadaan materi. Meskipun materi penting, seorang leader tak boleh kehilangan nalurinya untuk menghadirkan gagasan. Begitu gagasan terhenti, deklinasi datang.

“Organisasi bersiap untuk stagnan sampai akhirnya tak lagi punya arti penting bagi kehidupan," ungkap Ahyudin, Presiden Global Islamic Philanthropy (GIP), "payung" yang mengorkestrasi institusi-institusi yang berkhidmat mengelola beragam filantropi kemanusiaan, salah satunya ACT Foundation.

Ungkapan yang dalam ini terlontar, di sela perbincangan tentang daur hidup organisasi. Ahyudin mengurai kilas-balik ACT sebagai "master brand" yang dalam usianya memasuki tahun keempatbelas sejak April 2005. Berawal dari pengalaman menggagas dan mendesain berbagai strategi di ranah tanggap bencana, ACT berkembang kian makro dengan kesadaran dan panggilan untuk berkarya besar.

Dari perenungan dan interaksi dengan isu kemanusiaan, terlibat menghadapi krisis, setiap insan ACT terasah untuk berpikir dan berjiwa besar. "Dari sana lahir pemikiran besar. Filantropi tidak dilihat sebagai isu sosial, tetapi filosofi berkarya besar. Dari sana, berbagai 'ranah cabang' disiapkan institusi induknya. Semua, terhimpun dalam 'holding' GIP, memayungi ACT dan foundation lainnya yang mengelola isu beragam filantropi maupun isu lebih operatif," jelas Ahyudin, di tengah pengurus ACT Cabang Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan pengurus MRI Wilayah Yogyakarta.

Safari dalam rangka kontrol dan penguatan sukses kurban 2018 ini, menyempatkan Presiden GIP meninjau Akademi Relawan Indonesia (ARI), lini otonom yang diayomi Masyarakat Relawan Indonesia (MRI). Akademi ini merupakan pusat pelatihan dan kegiatan relawan anggota MRI, baik pelatihan skala daerah maupun nasional. Karena posisinya di wilayah Jogja, ARI juga diproyeksikan menjadi pusat kegiatan pemberdayaan masyarakat Jogja.

Beberapa pelatihan Reguler yang diadakan antara lain Volunteer Academy, Volunteer Camp, Volunteer Class, Gathering of Volunteer, Jambore Relawan, hingga Sekolah Pemberdayaan Masyarakat.

Harapannya, aktivitas pelatihan maupun kegiatan pemberdayaan masyarakat yang diaktivasi di area ARI ini akan menjadi role model kegiatan pelatihan dan pemberdayaan masyarakat yang dikembangkan ACT di seluruh Indonesia.

Selain pelatihan dan kegiatan pemberdayaan masyarakat, ARI sebagai Pusat Pelatihan Tanggap Bencana yang juga akan di support oleh DMII dan DERM. Saat tidak terjadi Bencana, pelatihan kebencanaan sangat diperlukan untuk meningkatkan kesiapsiagaan relawan bersama masyarakat. Akan tetapi, saat terjadi bencana, seperti erupsi Merapi, bahkan Akademi Relawan Indonesia, juga siap menjadi shelter atau tempat pengungsian masyarakat lereng Merapi. Tempat ini juga disiapkan untuk menampung pengungsi sebagaimana peruntukan awal mula area ini saat berperan sebagai Integrated Community Shelter/ICS.

Program Akademi Relawan Indonesia lainnya memfasilitasi pelajar dan mahasiswa untuk pelatihan kepemudaan dan humanity journey. "Karena ada beberapa titik lain yang dapat dikunjungi di sekitar area ARI ini sebagai monumen aktivitas kemanusiaan, seperti Rumah Tahan Gempa di Kedaton Kidul, Puluhan Sumur Wakaf di Gunung Kidul, dan sebagainya.

Presiden ACT, Ahyudin menyatakan, "Akademi Relawan Indonesia ini aset yang sangat penting. Pemanfaatannya pun harus maksimal."

Dalam waktu dekat, ARI yang sudah rampung fisik bangunannya untuk tahap awal,"Insya Allah, akan kami launching bersamaan dengan Apel Siaga Relawan MRI se-Daerah Istimewa Yogyakarta, pada 17 Agustus 2018," tutur Andri Perdana.

Selain memperingati kemerdekaan Republik Indonesia, apel siaga ini menjadi momen bagi relawan untuk mengambil spirit kepahlawanan dalam aksi kemanusiaan untuk masyarakat. "Ini sejalan dengan pesan pendiri MRI Pak Ahyudin. 'dalam diri relawan, mengalir darah pahlawan'. Selain itu, apel siaga menjadi momentum para relawan wilayah Jogja untuk menyukseskan program Global Qurban di DIY," kata Andri.

Agus Budi Hariyadi, Manager ACT Jogja, merespon positif diperkuatnya lini kerelawanan di Jogja. "Kehadiran Pimpinan Volunteer Network Department Pak Ibnu Hajar dan Direktur MRI Pak Dwiko Hari Dastriadi, makin menguatkan solidaritas relawan. ACT Jogja merasakan dampak peningkatan dukungan publik, dengan sinergi ACT Jogja dan MRI " ungkap Agus.

Hadir dan aktivasi intensif Akademi Relawan Indonesia, imbuh Agus, meningkatkan trust publik terhadap ACT Jogja. "Termasuk dalam agenda menyukseskan Global Qurban. Teman-teman MRI mengokohkan performa tim sukses. Apalagi MRI telah memperoleh pembekalan terkait marketing GQ," jelas Agus.

Pihaknya optimis, perolehan kurban ACT Jogja akan meningkat sedikitnya dua kali lipat dari tahun lalu. Optimisme ini bulan tanpa dasar. Perbandingan satu tahun lalu dan hari ini, pada hari yang sama, sudah melampaui dua kali lipat. "Karena itu, kita tak punya ruang untuk pesimis," tandas Agus Budi.

Komentar

Loading...