Sampah Aceh Besar Cemari Banda Aceh

Sampah Aceh Besar Cemari Banda Aceh
Sampah di Jembatan Lhong Raya. Foto: KBA/Nurnisa.

"Mereka (dinas kebersihan) mengambil sampahnya seukuran muatan mobil saja, jadi yang tidak muat dibakar. Biasa dibakar pagi. Tapi apinya sampai sore masih menyala."

KBA.ONE, Banda Aceh – Asap putih kehitaman mengepul dan merambat pelan ke sejumlah perumahan di sekitar Jembatan Lhong Raya. Asap berasal dari tumpukan sampah setinggi ruko yang dibiarkan terbakar. Cuaca panas serta angin menambah sesak napas.

“Asapnya masuk ke dalam rumah. Kadang-kadang di daerah sini penuh dengan asap. Kalau ada penyakit sesak napas enggak bisa sembuh-sembuh,” ujar Nurbaya, 76 tahun, warga Kompleks KPR Dephankam, di Gampong Mibo, Kecamatan Banda Raya, Banda Aceh, Selasa, 13 Februari 2018.

Nurbaya mengaku dampak asap sampah ini memperburuk keadaan penyakit yang deritanya. Menurut Nurbaya, rata-rata penduduk yang tinggal di kompleks itu merupakan lansia dan pensiunan. Mereka berharap dapat menikmati hidup yang berkualitas. Apa lacur, malah asap yang didapat setiap hari.

Menurut Nurbaya, mereka yang meletakkan sampah di daerah itu adalah para pelintas. Ada yang menggunakan becak atau mobil pribadi. Oli Erviana, istri kepala kompleks Dephankam, mengatakan warga setempat menaati program pemerintah kota yang melarang warganya untuk tidak membakar sampah.

“Kami juga membayar uang sampah secara rutin,” kata Oli. Setiap bulan, mereka membayar Rp 20 ribu. Warga komplek di Gampong Mibo itu adalah orang-orang yang paling merasakan dampak penumpukan dan pembakaran sampah. “Banda Aceh sudah buat program dilarang membakar sampah, eh, malah tetangga yang bakar sampah.”

Permasalahan ini berulang kali disampaikan kepada Geuchik Mibo Fachrul. Namun mereka tak bisa berbuat apa-apa karena sampah-sampah itu dibuang di kawasan Aceh Besar.

Oli mengatakan awalnya sampah tersebut di buang di lokasi pelaksanaan pameran ternak untuk kegiatan PENAS. Seusai pelaksanaan kegiatan PENAS, baru mulai sampah di buang di sana. “Sudah dibuat imbauan agar tidak membuang sampah di situ, tapi tetap saja banyak yang bandel,” kata Oli.

Menurut Olie, seharusnya sampah-sampah ini tidak dibiarkan menumpuk. Warga Aceh Besar banya yang tidak perduli. Mereka, kata dia, membuang sampah pagi jam kantor dan sore hari.

“Terkadang orang kampung yang bakar karena enggak tahan dengan bau sampah, akibat asap pembakaran sampah tersebut, banyak anak –anak mengalami batuk,” ujar Oli.

Adi Putra (29), mengatakan setelah pelaksanaan Pekan Nasional Tani dan Nelayan, tahun lalu, sampah dibiarkan menumpuk di daerah ini. Rumah Adi hanya beberapa depa dari tempat sampah dadakan itu.

“Mereka (dinas kebersihan) mengambil sampahnya seukuran muatan mobil saja, jadi yang tidak muat dibakar. Biasa dibakar pagi. Tapi apinya sampai sore masih menyala,” kata Adi. Adi pernah melaporkan hal ini kepada polisi. Namun tak ditanggapi. Dia disuruh melaporkan ke dinas kebersihan.

Hasanuddin, Camat Darul Imarah, mengklaim telah mengimbau masyarakat sekitar, melalui geuchik masing-masing, agar tidak membuang sampah di situ. Namun masih banyak masyarakat yang masih membuang sampah di daerah tersebut. “Yang namanya masyarakat kita, ada yang sadar ada yang tidak juga, kan,” kata Hasnuddin berkilah.

Hasanuddin mengatakan akan menghubungi kembali Dinas Kebersihan Aceh Besar. Namun dia tak bisa menjanjikan bahwa daerah itu akan bebas sampah. Hasanuddin juga mengklaim berkat imbauannya, terjadi penurunan tumpukan sampah dari sebelumnya.

Muhammad Nur, Geuchik Lampeunerut Ujoeng Blang, mengatakan petugas kebersihan terkadang hanya datang dua atau tiga kali sekali untuk mengambil sampah tersebut. “Sebagian dibakar terus di situ. Kalau rutin diambil kan enggak perlu dibakar,” ujar Nur.

Komentar

Loading...