Satu Hari Berbagi Pangan dengan Pengungsi Yaman

Satu Hari Berbagi Pangan dengan Pengungsi Yaman
Pengungsi Yaman menerima bantnuan dari ACT | Foto: ACTNews

KBA.ONE, Sana’a – Kemelut konflik itu sudah berjalan lebih dari tiga tahun. Ekonomi ambruk, keramaian kota besar kini tidak lagi berdetak. Pekerjaan hilang, tak ada yang bisa dikerjakan, sampai yang paling pelik tentang kasus malnutrisi yang telah “membunuh” puluhan ribu anak-anak karena kelaparan. Rentetan krisis kemanusiaan ini bukan sebuah cerita mimpi buruk, tapi sedang benar-benar terjadi. Konflik panjang tengah melindas Yaman, membuat krisis di negeri itu dicap oleh PBB sebagai krisis kemanusiaan terbesar di dunia.

Tapi, Yaman yang jauh akhirnya tetap bisa ditemui. Setelah melalui perjalanan panjang dan izin serta pemeriksaan yang berliku, Tim Sympathy of Solidarity (SOS) untuk Yaman telah berada di Kota Sana’a, kota yang menjadi pusat dari kemelut konflik di negeri itu. Rudi Purnomo menjadi orang pertama dari ACT yang berada di Yaman. Rudi berangkat dari Indonesia beberapa pekan lalu, kini tengah bertugas di Sana’a, melanjutkan ikhtiar untuk membantu meringankan berbagai rumitnya hidup di negeri penuh konflik.

Kamis 22 November 2018, rampung dengan berbagai proses regulasi yang panjang, akhirnya Tim SOS untuk Yaman - ACT mengirimkan kabar bahagia. Hari itu, Rudi dan sejumlah relawan ACT di Yaman berhasil mendistribusikan bantuan pangan untuk sekian banyak keluarga pengungsi. Rudi mengatakan, total bantuan yang didistribusikan dalam satu hari berjumlah lebih dari 23 ton.

“Alhamdulillah, amanah masyarakat Indonesia berhasil disampaikan untuk keluarga pengungsi Yaman. Sebanyak 300 paket pangan didistribusikan hanya dalam satu hari untuk tiga kamp pengungsian. Kamp itu berlokasi di pinggiran Kota Sana’a, meliputi Kamp Jeddar, Kamp Al-Arah, dan Kamp Al-Raqah,” cerita Rudi melalui pesan dan video yang dikirimkan via jaringan internet alakadarnya di Sana’a.

Paket pangan meminimalisir bencana malnutrisi

Paket pangan dari masyarakat Indonesia didistribusikan di Distrik Hamdani, pinggiran Sana’a. Distrik tersebut menjadi area penampungan banyak pengungsi yang lari dari tengah Kota Sana’a. Wilayah itu uga menjadi penampungan penyintas konflik asal Hodeidah, kota Pelabuhan yang kini kritis digempur berbagai kelompok yang berperang di Yaman.

“Sana’a dan Hodeidah, dua wilayah paling kritis, dan tempat warga sipil Yaman paling banyak bertahan dalam kondisi kritis. Paket pangan dari masyarakat Indonesia ini kami distribusikan di wilayah Hamdani. Di titik ini banyak lokasi kamp-kamp pengungsian warga Yaman. Kondisi mereka benar-benar memilukan,” tutur Rudi.

Paket pangan yang disiapkan berisi bahan-bahan kebutuhan pokok. Rudi memaparkan, kalau paket amanah dari masyarakat Indonesia ini bisa mencukupi kebutuhan setiap keluarga pengungsi Yaman sampai sebulan lebih.

“Di sini kami mudah sekali menemukan anak-anak Yaman dalam kondisi gizi sangat buruk. Yusra Saleh Mufreh misalnya, bayi yang kami temui di Sana’a itu usianya sudah 1 bulan, tapi beratnya hanya 700 gram, tak sampai 1 kilogram. Maka dari itu, paket yang kami siapkan insya Allah mencukupi kebutuhan gizi satu keluarga” cerita Rudi.

“Satu hal yang membuat haru, bendera merah putih dengan tulisan ‘Terima Kasih Indonesia’ berkibar di Sana’a. Ada pula seorang ibu yang datang menepuk pundak saya sembari mendoakan ACT dan seluruh masyarakat Indonesia yang datang dari jauh untuk peduli dengan Yaman,” pungkas Rudi. 

 

Komentar

Loading...